bernasnews — Tidak terasa saat ini sudah memasuki minggu Prapaskah yang pertama, banyak peristiwa yang perlu direfleksikan terutama dalam melaksanakan tugas mendampingi belajar murid. Dalam keseharian di sekolah, kita menjumpai berbagai peristiwa yang patut menjadi bahan perenungan: ada siswa yang bercanda dengan menyembunyikan barang temannya, ada yang tidak mengikuti tambahan pelajaran tanpa izin, ada yang enggan terlibat dalam kerja kelompok, mencontek pekerjaan teman, tidak mengerjakan PR, perundungan lansung atau melalui media sosial, kecanduan game, bahkan ada yang memalsukan tanda tangan guru.
Yang semakin memprihatinkan, sebagian dari mereka tidak menyadari bahwa tindakan tersebut adalah kesalahan, atau tetap merasa benar meskipun sudah ditegur dan diberi penjelasan. Sebagai pendidik kita tertantang untuk tidak hanya menegakkan disiplin, tetapi juga menumbuhkan kesadaran hati nurani, agar masa Prapaskah sungguh menjadi waktu pertobatan, pembelajaran nilai kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian mengakui kesalahan. Bagaimana kita bisa mengubah karakter siswa yang mencari pembenaran ketika melakukan hal yang tidak benar menjadi siswa yang berani mengakui kesalahan dan memperbaikinya.
Sebagai guru, setiap mengawali kegiatan belajar saya selalu mengingatkan dua kesepakatan sederhana namun penting kepada para murid, yaitu semangat dan fokus. Bagi saya, keduanya adalah kunci agar proses pembelajaran berjalan dengan baik. Sebelum masuk ke materi inti, saya juga mencoba menggali kebiasaan mereka pada hari sebelumnya. Saya biasanya bertanya, “Kemarin apakah kalian belajar?” dan “Kemarin apakah kalian bermain HP?” Jawaban yang muncul cukup menarik.
Untuk pertanyaan pertama, hanya beberapa siswa yang menjawab belajar. Namun ketika ditanya tentang bermain HP, hampir semua menjawab iya. Dari situ terlihat bahwa meskipun mereka berstatus pelajar, belajar belum menjadi kebiasaan harian, sementara penggunaan HP justru lebih dominan. Padahal, bagaimana mungkin hasil yang baik dapat dicapai jika proses belajarnya tidak dilakukan secara teratur dan sungguh-sungguh? Refleksi sederhana ini mengingatkan kita bahwa keberhasilan tidak datang secara instan, tetapi lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan disiplin setiap hari.
Di tengah derasnya arus digital dan perubahan zaman yang serba cepat, remaja SMP menghadapi tantangan yang jauh berbeda dibanding generasi sebelumnya. Gawai ada di genggaman, media sosial menjadi ruang eksistensi, dan permainan daring menawarkan dunia pelarian yang nyaris tanpa batas. Dalam situasi seperti ini, apakah Masa Prapaskah masih relevan?
Prapaskah bukan sekadar masa liturgis menjelang Paskah. Prapaskah adalah masa latihan rohani, latihan mengendalikan diri, memurnikan niat, dan membangun kepedulian. Tiga pilar utama Prapaskah: doa, puasa, dan derma, sejatinya sangat kontekstual bagi kehidupan remaja masa kini. Tantangannya adalah bagaimana menerjemahkan nilai-nilai tersebut dalam realitas dunia SMP. Sebagai seorang pendidik kita mempunyai tanggungjawab untuk memberi pencernahan bagi siswa tentang makna Prapaskah, refleksi diri, pengendalian diri di era digital, solidaritas dan kepedulian, dan yang paling penting adalah menjadi teladan bagi siswa.
Remaja usia SMP sedang berada dalam fase pencarian jati diri. Mereka ingin diakui, diterima, dan dihargai oleh teman sebaya. Pada saat yang sama, emosi mereka masih labil dan kemampuan mengendalikan diri belum sepenuhnya matang. Dalam kondisi seperti inilah pentingnya pendampingan bagi siswa agar mampu menemukan jati dirinya melalui berbagai peristiwa baik maupun keteladanan.
Berbagai peristiwa di atas misalnya, Kasus perundungan, sering kali berawal dari candaan yang dianggap biasa. Ejekan tentang fisik, kemampuan akademik, atau latar belakang keluarga bisa menjadi luka batin yang mendalam bagi korban. Tidak sedikit siswa yang akhirnya kehilangan rasa percaya diri, bahkan tidak semangat belajar baik di rumah maupun di sekolah. Di sinilah Prapaskah menemukan maknanya.
Puasa tidak lagi sekadar menahan makan dan minum, tetapi berpuasa dari kata-kata kasar, dari komentar yang merendahkan, dan dari sikap ingin menang sendiri. Pantang berarti pantang melukai sesama. Selain itu, kecanduan game dan media sosial menjadi tantangan nyata. Ada siswa yang tidur larut malam demi menyelesaikan satu level permainan atau sekadar menggulir layar tanpa henti. Akibatnya, mereka datang ke sekolah dalam keadaan lelah, sulit fokus, dan kurang bersemangat belajar.
Prapaskah dapat menjadi momentum “puasa digital”. Bukan berarti memusuhi teknologi, melainkan belajar menggunakannya secara bijak. Membatasi waktu layar, mengutamakan tanggung jawab, dan mengisi waktu luang dengan kegiatan yang lebih produktif adalah bentuk konkret pengendalian diri.
Konflik antarteman pun kerap dipicu oleh kesalahpahaman di dunia maya. Pesan singkat yang tanpa ekspresi dapat disalahartikan. Unggahan yang dianggap lucu bisa memancing kemarahan. Pertengkaran kecil dapat membesar karena ego yang tidak mau mengalah. Dalam semangat Prapaskah, rekonsiliasi menjadi kata kunci. Keberanian untuk meminta maaf dan memberi maaf adalah bentuk pertobatan yang nyata.
Namun, pendidikan nilai tidak dapat dibebankan kepada siswa semata. Guru memegang peran sentral sebagai teladan. Siswa belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat dibandingkan dari apa yang mereka dengar. Ketika guru mampu bersikap sabar, adil, dan konsisten, di situlah nilai Prapaskah menemukan wujudnya.
Guru yang menegur dengan kasih, bukan dengan amarah; guru yang mengakui kesalahan jika keliru; guru yang tidak mempermalukan siswa di depan teman-temannya semua itu adalah bentuk kesaksian hidup. Keteladanan jauh lebih kuat daripada nasihat panjang lebar. Di lingkungan sekolah seperti SMP Maria Goretti, pendidikan iman seharusnya terwujud dalam budaya sekolah sehari-hari: budaya saling menghargai, disiplin, dan peduli.
Sekolah dapat menjadikan Prapaskah sebagai gerakan bersama. Misalnya, gerakan “5 Hari Berkata Baik”, di mana setiap siswa berkomitmen menghindari kata-kata negatif baik secara langsung atau melalui media sosial; gerakan “Puasa Gawai setelah Pukul 19.00” yang disepakati bersama orang tua.
Bisa pula diadakan aksi solidaritas sederhana: mengumpulkan dana kasih, mengunjungi panti asuhan, atau berbagi sembako bagi yang membutuhkan. Melalui pengalaman konkret, siswa belajar bahwa kebahagiaan sejati lahir dari memberi, bukan hanya menerima. Gerakan tersebut di atas tentu akan semakin baik jika diikuti oleh guru maupun orang tua.
Prapaskah juga menjadi momentum refleksi diri bagi para guru. Dalam rutinitas mengajar, tidak jarang guru pun lelah, jenuh, atau terbawa emosi. Masa ini mengingatkan bahwa mendidik bukan sekadar mentransfer ilmu, melainkan membentuk karakter dan hati. Guru pun dipanggil untuk “bertobat”: memperbarui semangat pelayanan, memperbaiki cara berkomunikasi, dan menumbuhkan empati terhadap pergumulan siswa.
Tujuan akhir Prapaskah adalah Paskah, perayaan kemenangan kehidupan atas kegelapan. Bagi siswa SMP, kemenangan itu tampak dalam perubahan kecil namun berarti: berani meminta maaf, mampu menahan diri untuk tidak membalas ejekan, disiplin mengatur waktu belajar, dan peduli terhadap teman yang kesulitan. Bagi guru, kemenangan itu hadir ketika melihat siswa bertumbuh menjadi pribadi yang lebih matang dan bertanggung jawab.
Di era digital ini, tantangan memang tidak ringan. Namun justru di tengah tantangan itulah pendidikan iman menemukan relevansinya. Prapaskah mengajarkan bahwa perubahan tidak terjadi secara instan. Ia membutuhkan proses, komitmen, dan keteladanan. Dari ruang-ruang kelas yang sederhana, nilai-nilai pengendalian diri, solidaritas, dan kasih dapat ditanamkan.
Jika guru dan siswa bersama-sama menjalani Prapaskah sebagai perjalanan pembaruan diri, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar mata pelajaran, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter. Dan ketika Paskah tiba, sukacita yang dirayakan bukan sekadar seremoni, melainkan buah dari perjuangan nyata melawan egoisme, budaya instan, dan ketidakpedulian.
Pada akhirnya, Prapaskah di era digital adalah panggilan untuk mendidik hati remaja agar di tengah godaan layar dan gemerlap dunia maya, mereka tetap memiliki kompas moral yang kuat, hati yang peka, dan iman yang bertumbuh. Itulah tugas kita bersama sebagai pendidik, menyalakan terang kecil yang kelak akan menjadi cahaya bagi masa depan mereka. Semoga Tuhan memberkati. Amin. (Yohanes Sudarna, S.Pd.,M.M. Guru SMP Marsudirini Maria Goretti Semarang)












