Opini  

Gubernur Bank Indonesia Mundur

Y. Sri Susilo, Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta/ WKU Bidang Kominfodigi KADIN DIY. (Foto: Dok. Pribadi)

bernasnews — Pagi ini diinfokan Perry Warjiyo (Gubernur Bank IndonesiaI) mundur dari jabatannya, Senin (27/7/2026). Alasan mundurnya disebutkan karena alasan pribadi karena faktor kesehatan. Perry mundur dengan sukarela.

Penulis cukup terkejut mendengar mundurnya Gubernur Bank Indonesia (BI). Sependek saya tahu pak Perry merupakan seorang yang optimis dalam menghadapi dan mencari solusi masalah ekonomi dan moneter.

Berbagai kebijakan BI selama kepemimpinannya juga mencerminkan adanya optimisme dalam menghadapi atau memecah masalah stabilitas ekonomi.

Kinerja BI di bawah kepemimpinannya berhasil dalam mengendalikan inflasi, termasuk inflasi pangan. Volatilitas harga pangan masih terjadi namun secara keseluruhan inflasi yang terjadi masih dalam batas atau target yaitu 2+-1persen.

Kebijakan BI dalam menghadapi pelemahan nilai tukar Rp terhadap dolar AS, menurut penulis sudah all-out. Berbagai kebijakan, strategi dan langkah telah dilakukan untuk menahan laju pelemahan tukar Rp.

Bahkan BI telah melakukan atau menerapkan “7 Langkah Strategis” untuk menahan laju pelemahan Rp (Selasa, 5/5/2026). Berbagai kebijakan dan instrumen yang dimiliki telah diterapkan namun nilai tukar Rp belum dapat beranjak secara signifikan.

Penulis menduga faktor pelemahan nilai tukar Rp lebih disebabkan oleh tekanan eksternal. Faktor eksternal yang kuat adalah terjadinya krisis di Timur Tengah (Perang AS/Israel vs Iran). Kondisi menyebabkan harga minyak mentah dunia yang berujung pada menguatnya mata uang dolar AS dan melonjaknya harga emas.

Di samping itu, ada sejumlah faktor non-moneter yang menjadikan nilai tukar Rp tetap melemah. Faktor tersebut misalnya kebijakan pemerintah yang cenderung “berbeda dengan keinginan pasar”. Misalnya defisit APBN  yang semakin besar (Program MBG & Program KDMP).

Terkadang pidato atau komentar Presiden atau Menteri yang tidak pas sehingga direspon negatif oleh pasar. Misalnya orang desa tidak butuh dolar AS, Ilmu Ekonomi bukan Ilmu Dewa-Dewa, dan sebagainya.

Catatan penulis, BI di bawah kepemimpinan Perry Warjiyo mampu mengembangkan sistem pembayaran digital nasional yang semakin baik (misalnya QRIS). Disamping itu, sejumlah penghargaan internasional juga telah diterima BI.

Penulis berharap, Gubernur BI yang baru nanti dapat  melanjutkan kebijakan yang telah dijalankan selama ini.

Terima kasih pak Perry atas kontribusi pemikiran dan kebijakan yang Anda jalankan selama menjabat Gubernur BI. (Y. Sri Susilo, Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta/ WKU Bidang Kominfodigi KADIN DIY)