Opini  

Romo Mangun, Kemanusiaan, dan Tanah Air Indonesia

Sebagian Tim Katekese Kebangsaan Komisi Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan Keuskupan Agung Semarang saat dialog di kampus Fakultas Teologi USD Yogyakarta beberapa waktu yang lalu. (Foto : Humas Katekese Kebangsaan 2026)

bernasnews – Adalah Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, seorang imam, arsitek, penulis, dosen, dan humanis. Karya monumental yang mempertemukan semua aspek kepribadian itu adalah kompleks ziarah Sendangsono, Kulon Progo, Yogyakarta.

 

Komisi Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan Keuskupan Agung Semarang (KAS) pada Katekese Kebangsaan Bulan Agustus 2026 menetapkan belajar menjadi Katolik dan Indonesia dari Romo Y.B. Mangunwijaya. Katekese Kebangsaan dalam dua pertemuan itu mengambil tema “Tanah Air Ada di Sana – Dimana Ada Cinta dan Kedekatan Hati”.

 

Identitas Romo Mangun dalam berbagai karyanya adalah “Memuliakan Allah, Mengangkat Manusia”. Dia sudah “menyejarah” dalam arti meninggalkan jejak-jejak langkah perjuangan bagi Indonesia demi manusia dan bangsa. Dia sudah diakui sebagai “pahlawan historis” (menurut istilah sejarawan Taufik Abdullah).

 

Dari ujaran, tindakan, dan gagasan Romo Mangun, kita dapat belajar untuk inspirasi kehidupan lebih benar dan baik. Beberapa gagasan dari sahabat disampaikan tentang hal ini. Misalnya dari Uskup Agung KAS Mgr. Robertus Rubiyatmoko yang menyatakan: Keutamaan Romo Mangunwijaya adalah bekal menghadapi zaman.

 

Kebijakan hidup yang dapat diteladani dari Romo Mangun antara lain: Bayar utang pada rakyat; Yang dibutuhkan orang miskin adalah harga diri; Memilih dan memihak, Aja kok pageri omahmu nganggo beling, pagerana nganggo piring; Melamun itu sebentuk mencipta; Kekuatan melihat dan mendengar; Antara mendengar dan mendengarkan; Jangan ada makanan tersisa dan terbuang; dan lain-lain.

 

Setiap orang pasti memiliki kegelisahan tertentu untuk mencapai sesuatu yang lebih baik dan mulia. Tidak terkecuali Romo Mangun. Dalam buku “Mencari Indonesia” (2025), sejumlah penulis menyoroti beberapa hal tentang kegelisahan seorang Mangun dan patut dijadikan warisan.

 

Kegelisahan itu antara lain: Memuliakan Allah-mengangkat manusia lewat tulisan; Seperti bumi manusia harus merawat dengan ikhlas; Mangun sang pembela kaum kecil; dan Romo Mangun pendidik yang gelisah.

 

PERJALANAN HIDUP MENARIK

Ada beberapa item perjalanan hidup Mangunwijaya yang menarik. Dimulai dari Ambarawa sampai Muntilan (1929 -1936; dia lahir di Ambarawa, Jawa Tengah 6 Mei 1929); Pendidikan di Hollandsch Inlandsche School/HIS di Muntilan (1936-1942); Pendidikan di Sekolah Teknik Mataram, Jetis, Yogyakarta (1943 – 1948); Barisan Keamanan Rakyat dan Tentara Pelajar; Romo Mangun Masuk Tentara Pelajar.

 

Kemudian menjalani pendidikan di SMA Santo Albertus Malang (1948 -1950); Mengalami Titik Balik Panggilan Hidup yang bermula dari pidato Mas Isman di Malang, 1950, lalu dengan tekad bulat untuk “Membayar utang kepada rakyat”. Dilanjutkan Pendidikan Calon Pastor di Seminari sampai Menjadi Romo (1951 – 1959); kemudian pendidikan dari Bandung ke Aachen (Jerman Barat) sampai Colorado (Amerika Serikat) : 1960 -1966 dan 1978.

 

Selanjutnya adalah Karya Kemanusiaan Bidang Arsitektur dan Dosen (1967-1989); Karya Kemanusiaan di Bidang Sastra (1970 – 2015); Karya Kemanusiaan di Kampung Code (Yogyakarta), Grigak (Panggang, Gunung Kidul), dan Kedung Ombo (Boyolali, Jawa Tengah) : 1981 – 1989; Karya Kemanusiaan Pendidikan (Yayasan Dinamika Edukasi Dasar/YDED dan Sekolah Eksperimental Mangunan) : 1987 – …; dan kemudian adalah Akhir Pengabdian bagi Kemanusiaan yakni wafat pada tanggal 10 Februari 1999.

 

SUMBANGAN BAGI BANGSA DAN NEGARA

Sumbangan Romo Mangun bagi Bangsa dan Negara Indonesia terutama adalah Menjadi Manusia Pasca-Indonesia (manusia unggul di masa depan; dia berpikir “mendahului zaman”); Pendidikan yang Memerdekaan; Wastu Citra : Keindahan Memancarkan Kebenaran; Sastrawan Berhati Nurani; Berjuang Demi Manusia; Pemikiran untuk Demokrasi; sampai Monumen Hidup Romo Mangun.

 

Manusia Pasca-Indonesia menurut Tim Pengusul Penetapan Romo Mangun sebagai Pahlawan Nasional tetaplah manusia Indonesia. Namun mereka sudah tidak lagi dikungkung oleh batasan-batasan teritorial fisik yang terbatas pada wilayah dan orang-orang Indonesia saja. Mereka sudah berhati, cita rasa, dan berpandangan luas mengatasi batasan-batasan kewilayahan dan kemanusiaan Indonesia, meskipun mereka tetap manusia Indonesia. Manusia Pasca-Indonesia terbuka pada nilai-nilai kemanusiaan universal, meskipun tetap berpegang pada nilai-nilai keindonesiaan.

 

NILAI-NILAI MORAL DARI KELUARGA

Romo Mangun dilahirkan dan dibesarkan oleh keluarga yang teguh dalam menanamkan nilai-nilai religius, moral dan sosial. Dia berasal dari keluarga “terhormat” dengan kemampuan Bahasa Belanda yang sangat baik, disertai pegangan nilai moral relegius yang kuat.

 

Ayahnya Yulianus Sumadi Mangunwijaya, seorang guru yang mengajar di Schakel School yaitu “sekolah antara” yang harus dilalui seorang pribumi sebelum masuk Europeesche Lager School (ELS), sekolah Belanda bagi orang-orang pribumi yang nantinya akan bekerja dalam struktur kolonial Belanda. Ibunya Serafin Kamdaniyah, juga seorang pendidik.

 

Mangun juga menyatakan, pendidikan dasar terbaik adalah pendidikan dasar yang dia terima di zaman Belanda yakni di HIS Fransiscus Xaverius Muntilan. Semuanya serba tertib, teratur dan menciptakan kegairahan, kreasi dan imajinasi.

 

Romo Mangun adalah pribadi yang disiplin, taat, berani, namun sederhana. Pengalaman di Tentara Pelajar memberikan kepribadian seperti itu. Dia adalah pribadi yang memiliki keahlian di banyak bidang : pribadi multitalenta.

 

Seluruh karya dan pemikiran Romo Mangun mengerucut pada satu tema yakni Membela Martabat Manusia. Rinciannya sebagai berikut : Menjadi manusia Pasca Indonesia; Agama dan relegiositas; Demokrasi dan masyarakat madani; Pentingnya pendidikan dasar.

 

Romo Mangun memang pernah memanggul senjata dan berjuang sebagai tentara pada zaman kemerdekaan. Hal ini kelak kemudian hari memperkaya dan mendewasakan pribadinya dalam memperjuangkan kemanusiaan secara menyeluruh. (Anto Margono, dari berbagai sumber).