Opini  

Suara dari Jalan: Kami Bukan Ingin Melawan, Kami Hanya Ingin Didengar

Heru Purwanto, Driver Bajaj Merah 1409. (Foto: Dok. Pribadi)

bernasnews — Sebagai pengemudi Maxride/Bajaj yang setiap hari mencari nafkah di ruas jalan-jalan Kota Yogyakarta, saya merasa perlu menyampaikan sedikit pandangan soal moda transportasi roda tiga pabrikan yang sering jadi objek perdebatan namun jarang benar-benar didengar.

Pertama, kami paham betul bahwa Malioboro dan kawasan heritage perlu dijaga. Kami pun ingin kota ini rapi, nyaman, dan indah. Tapi jangan lupa bahwa kami bekerja di ruang yang sama bukan karena ingin mengganggu, tetapi karena di situlah sumber rezeki kami berada.

Kami hadir bukan untuk merusak estetika kota—kami hadir karena kota ini masih memberi kami peluang untuk hidup. Yang sering dilupakan adalah bahwa kami bukan sekadar kendaraan yang “mengganggu pandangan”.

Namun kami adalah orang tua yang harus bayar kontrakan rumah, bayar sekolah untuk anak, dan untuk hidup sehari-hari. Juga orang-orang yang kehilangan pekerjaan formal atau sebagai warga yang tidak punya banyak pilihan selain mengandalkan kendaraan kecil bikinan pabrik untuk bertahan.

Apabila ada larangan tanpa solusi, rasanya seperti kota ini hanya ingin menyingkirkan kami secara perlahan. Kami sangat setuju pejalan kaki harus diberi prioritas. Kami tidak menolak aturan. Kami hanya butuh aturan yang manusiawi, yang tidak memutus akses kami untuk mencari nafkah.

Jalur khusus, zona operasi yang jelas, hingga integrasi sebagai feeder Trans Jogja—semua itu terdengar ideal, dan kami tidak keberatan menjalankannya asal benar-benar diterapkan dan tidak hanya wacana. Pasalnya selama ini kami sering ditempatkan pada posisi paling mudah disalahkan.

Padahal kami juga sudah berusaha mengikuti aturan, menghindari kawasan tertentu pada jam-jam tertentu. Kami mencari penumpang tanpa memicu konflik. Kalau kami terkadang kadang masuk area pedestrian, itu bukan karena kami ingin melanggar—tapi karena rute jelas dan fasilitas untuk kendaraan kecil memang belum tersedia.

Oleh karena itu yang kami harapkan hanya satu, jangan sekadar menertibkan tapi rangkul kami sebagai bagian dari kota ini. Beri kami ruang untuk tetap bekerja tanpa dianggap sebagai “masalah visual” atau “gangguan ruang”.

Kota Yogyakarta bukan hanya milik wisatawan atau kendaraan pribadi—kota ini juga rumah bagi kami yang mencari nafkah dengan cara sederhana. Jika pemerintah benar-benar ingin menata kota, kami siap ikut berubah.

Yang kami butuhkan hanyalah kejelasan, keadilan, dan kesempatan untuk tetap hidup dengan cara bermartabat. Kami bukan ingin melawan kebijakan kota. Kami hanya ingin didengar. (Heru Purwanto, Driver Bajaj Merah 1409)