bernasnews — Sarah Cook (1996) pernah berucap bahwa pemberdayaan tidak dapat muncul begitu saja hanya karena adanya pelimpahan wewenang dari manajer pada masing-masing individu. Akan tetapi, konteks pemberdayaan merupakan suatu proses yang memerlukan suatu perencanaan secara menyeluruh, dengan pemikiran yang sangat mendalam, baik mengenai mekanisme maupun evaluasinya. Namun perlu disadari bahwa problematik manajemen saat ini relatif tidak berubah secara spektakuler, hanya tingkat kecanggihannya system informasi dan teknologi yang berbeda. Prolem pokok manajemen salah satunya adalah sulitnya mengkoordinir secara efektif dari unsur-unsur produksi, yakni: Man, Materials, Machine, Money, tecknology, information and Markets.
Terkait dengan unsur manusia, mengkoordinir tenaga kerja merupakan pekerjaan yang tidak mudah, dan ini harus menjadi prioritas yang utama dilakukan oleh manajemen. Oleh karena dalam melakukan pemberdayaan, faktor martabat pribadi dan keutuhan individu perlu mendapat pertimbangan yang tepat dari manajemen.
Martabat pribadi.
Berbicara manajemen tentu terkait dengan usaha mencapai tujuan organisasi-perusahaan secara maksimal. Mencapai hasil-hasil optimal adalah penting, akan tetapi alat untuk mencapainya tidak boleh melanggar martabat manusia. Konsep martabat manusia, yakni bahwa orang itu harus diperlakukan dengan hormat, apapun kedudukannya dalam organisasi. Orang yang ada di bagian atas sampai di bagian bawah semuanya memberikan kontribusi bagi tercapainya organisasi-perusahaan. Setiap orang itu berbeda-beda dan unik, dengan kesanggupan dan aspirasinya yang berbeda-beda dan unik, tetapi semuanya adalah makhluk manusia dan semuanya pantas diperlakukan sebagai manusia semestinya.
Mempertimbangkan orang seutuhnya.
Berbagai sifat dan karakter yang dimiliki oleh seseorang dalam organisasi-perusahaan, hal tersebut dapat mempengaruhi satu sama lain, dan keunikan yang khas dalam situasi tertentu dapat berubah cepat dan tak terduga atau sulit diprediksi secara akurat. Manusia adalah keseluruhan seseorang yang dipengaruhi oleh faktor luar, seperti : keluarga, tetangga, teman sejawat, serikat pekerja, dan faktor lain-lain. Setiap orang tidak lepas dari kekuatan pengaruh tersebut ketika mereka pergi bekerja dan pimpinan atau manajer harus mengakui fakta tersebut dan siap untuk menghadapinya.
Menuju pemberdayaan yang sempurna.
Adanya penyakit Parkison yang kebanyakan masih membelenggu di berbagai organisasi-perusahaan, menurut Heijrachman (1987 : 9) sebenarnya merupakan kanker organisas-perusahaani. Kondisi ini merupakan dampak psikologis bayangan keberhasilan masa silam seperti gaya “Hitler,” yang detik demi detik akan menggerogoti kesehatan organisasi yang telah masuk ke sistem global. Hitler identik dengan kata otoriter, yaitu gaya kepemimpinan dimana semua keputusan dilakukan oleh pemimpin sendiri, tanpa dapat dipengaruhi oleh orang lain.
Kata-katanya adalah: perintah, undang-undang.
Siapa berani menentang perintahnya berarti mati, siapa berani melanggar undang-undangnya pasti memperoleh hukuman. Gaya ala Hitler ini saat ini tidak lagi sesuai dengan trend globalisasi, yang salah satunya diperlukan pemilihan strategi kepemimpinan yang mampu menghadapi era global. Dengan demikian kita dihadapkan pada persaingan yang kompetitip, maksudnya persaingan merupakan kata dengan makna “antara hidup dan mati.“ Bila kita mampu memenangkan persaingan hidup, sebaliknya nila kita kalah dalam persaingan berarti, suatu kematian. Untuk memenangkan persaingan tersebut, model gaya kepemimpinan partisipatif artinya, bawahan diberi wewenang untuk berperang serta dalam pengambilan keputusan dan berkewajiban mengamankan keputusan tersebut. Gaya kepemimpinan Hitler, yang masih diterapkan oleh individu atau manajemen dapat dijadikan warning, karena kemunduran organisasinya relatif tinggal menunggu waktu.
Oleh karenanya penerapan pemberdayaan struktur dalam organisasi dapat terwujud baik, jika organisasi mampu menghilangkan penyakit parkison yang merugikan organisasi, serta perwujudan struktur yang semakin flat (mendatar), karena masing-masing individu dituntut berperan serta aktif dan mampu ambil bagian dengan tanggung jawab secara penuh atas hasil pekerjaan yang dilakukan. Yang akhirnya dapat memberikan kebebasan kewenangan pada masing-masing-masing individu, dengan tetap mengacu pada standar nilai dan pola kerja yang telah disepakati bersama. Budaya kerja yang berdasarkan adanya wewenang, rasa percaya diri, keyakinan, kesempatan, tanggung jawab, dukungan dari seluruh pihak, merupakan suatu syarat bagi terciptanya perberdayaan dalam struktur organisasi yang baik. (Z. Bambang Darmadi, Lektor Kepala/ Dosen ASMI Santa Maria Yogyakarta)












