Smart Farming: Kunci Transformasi KWT Melati Asri dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan

bernasnews — Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati Asri, Ngestiharjo, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul kini tengah mengalami transformasi secara signifikan dalam pengelolaan usaha tani mereka. Berkat kolaborasi dosen dan mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta (UPY), kelompok ini dibantu untuk mengadopsi teknologi pertanian berbasis smart farming guna meningkatkan ketahanan pangan lokal.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini merupakan hibah dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dengan Tim Pengabdi UPY.

Tim Pengabdi UPY ini diketuai oleh Prahenusa Wahyu Ciptadi bersama timnya, yang terdiri dari Adi Prasetyo, Marti Widya Sari, serta mahasiswa UPY yaitu Jaguar Patmayoni,  Muhammad Ihsan Rizaldi, Rizqi Pangestu, Dwi Endah Wahyuni, Erika Amalia, Arya Nanda Eka Putra.

Menurut Prahenusa Wahyu Ciptadi, KWT Melati Asri sebelumnya menghadapi sejumlah kendala baik dari sisi sosial kemasyarakatan maupun manajemen. Dari aspek sosial, keterbatasan pendampingan teknologi, minimnya kesadaran penggunaan teknologi pertanian modern.

“Juga kurangnya sarana seperti sistem irigasi dan pemantauan otomatis membuat produktivitas kelompok terbatas. Selain itu, jaringan kemitraan yang minim juga menghambat akses ke pasar dan sumber daya,” kata Prahenusa, dalam keterangan tertulisnya yang dikirim ke bernasnews, Jumat (12/9/2025).

Dari sisi manajemen, lanjut Prahenusa, kelompok ini masih bergantung pada metode konvensional tanpa pencatatan yang baik, sehingga kesulitan dalam mengoptimalkan produksi dan pengelolaan usaha tani. Selain itu, kurangnya keterampilan manajemen organisasi dan pemasaran produk yang terbatas pada bentuk mentah menjadi hambatan utama.

Menjawab permasalahan tersebut, tim pengabdian Universitas PGRI Yogyakarta menyelenggarakan serangkaian pelatihan dan pendampingan penerapan teknologi smart farming. Pelatihan mencakup penggunaan sistem irigasi otomatis, penyiraman berbasis sensor, serta pemantauan kualitas lahan secara digital.

“Selain itu, pelatihan manajemen produksi, pengelolaan organisasi, hingga pembuatan business plan juga diberikan untuk meningkatkan kapasitas anggota KWT,” ungkap Prahenusa.

“Tidak hanya itu, program ini juga membuka akses jaringan kemitraan dengan komunitas pertanian dan pelaku usaha agribisnis, serta memberikan pelatihan diversifikasi produk agar hasil tani dapat memiliki nilai tambah lebih tinggi di pasar,” imbuhnya.

Pelaksanaan program ini memberikan dampak nyata bagi KWT Melati Asri. Anggota menjadi lebih percaya diri dan mampu mengoperasikan teknologi pertanian modern, yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil pertanian.

Dengan manajemen usaha yang lebih baik, KWT mampu mengembangkan strategi pemasaran yang efektif dan memperluas jaringan kemitraan.

“Pelatihan dan pendampingan ini sangat membantu kami memahami teknologi baru yang awalnya terasa sulit. Kini kami lebih yakin mengelola lahan dengan teknologi smart farming, dan berharap hasil panen bisa meningkat,” ujar salah satu anggota KWT Melati Asri.

Inovasi dan kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat seperti ini menjadi kunci dalam mendukung ketahanan pangan di daerah. Melalui program pengabdian, Universitas PGRI Yogyakarta berharap agar KWT Melati Asri tidak hanya bertahan, tetapi berkembang menjadi contoh bagi kelompok tani lain dalam menerapkan teknologi pertanian modern yang ramah lingkungan dan efisien.

“Program ini diharapkan berkelanjutan, dengan rencana pendampingan lanjutan dan pengembangan jaringan usaha agar memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat di Kabupaten Bantul,” pungkas Prahenusa. (*/ nun)