SMA BOPKRI 1 Yogyakarta akan Kembangkan Jurnalistik Sekolah

Kepala SMA BOPKRI 1 Yogyakarta Chatarina Evita Aprilianti, S.Kom., M.Eng didampingi Pembimbing Jurnalistik Melani Bornok , S.Pd. Gr menerima koran NAGARI dari Pemimpin Redaksi bernasnews Y.B. Margantoro di sekolah setempat, Selasa 28/7/026. (Foto : Humas sekolah).

bernasnews – Ekstrakurikuler di setiap satuan pendidikan dimaksudkan untuk mengembangkan potensi, bakat, minat, kepribadian, kerja sama dan kemandirian peserta didik secara optimal. Tidak terkecuali SMA BOPKRI 1 Yogyakarta yang selalu berusaha menyelenggarakan kegiatan ini dengan baik, inovatif dan penuh semangat.

Salah satu ekstrakurikuler di sekolah yang beralamat di Jalan Wardhani No 2 Kotabaru, Gondokusuman, Yogyakarta ini adalah Jurnalistik yang antara lain memiliki kegiatan menerbitkan MABOSA (Majalah BOPKRI Satu) secara rutim dua kali setahun sejak 33 tahun silam.

Kepala SMA BOPKRI 1 Yogayakarta Chatarina Evita Aprilianti, S.Kom., M.Eng. yang didampingi Pembimbing Ekstrakurikuler Jurnalistik Melani Bornok, S.Pd. Gr. kepada bernasnews menyatakan akan mengembangkan jurnalistik di sekolah ini dengan beberapa kegiatan kreatif. Kegiatan ini antara lain program Wartawan Muda, BOSA Menulis.

“Di MABOSA memang ada sajian penulisan fakta antara lain laporan utama, liputan khusus, sekolah kita dan wawancara. Namun melalui ekstrakurikuler jurnalistik atau bagaimana mekanismenya diatur nanti, kami usahakan ada kegiatan Wartawan Muda itu,” kata Evita.

Pemimpin Redaksi bernasnews Y.B. Margantoro menyambut baik rencana pengembangan jurnalistik sekolah ini dan berharap ada kebersamaan, kerja sama lembaga dan konsistensi dalam program.

Beberapa waktu silam, tepatnya 22 April 2026, dia hadir dalam pertemuan Yayasan BOPKRI Yogyakarta di kantor yayasan setempat. Pada kesempatan ini, bernasnews menyampaikan materi tentang dinamika jurnalistik/literasi sekolah.

Evita Aprilianti pada kesempatan itu mengemukakan tentang outing class yang berkesan di SMA BOPKRI 1 Yogyakarta. Kegiatan ini tidak hanya berpindah tempat dari ruang kelas ke luar sekolah namun lebih dari itu. Yang ditekankan dalam program ini adalah life skill dalam outing class itu.
“Hal yang paling berkesan selama mengajar adalah outing class ketika siswa-siswa mencoba menjadi guide pariwisata di Candi Borobudur dengan bahasa Inggris. Saat siswa kami mencoba untuk mengenal lingkungan usaha di sekitarnya dalam one day live ini adalah saat pasca pandemi, dimana anak-anak mencoba terjun di usaha tersebut dan berdinamika di dalamnya. Tentu outing class yang bermakna adalah kegiatan yang adaptif dengan perubahan zaman tapi tetap berakar pada life skill dan karakter keBOPKRI-an,” kata dia. (mar).