Opini  

Tradisi Membaca Menurun dan Penjual Koran yang Sepi Pembeli 

Seorang penjual koran saat berharap pembeli di kawasan Tugu, Yogyakarta. (Foto : Anto Margoro)

bernasnews – Salah satu pertanyaan guru kepada siswa di sebuah kelas beberapa tahun yang lalu adalah : sudah baca koran hari ini belum? Atau sudahkah melihat siaran televisi, mendengarkan radio, membaca buku. Tujuan pertanyaan adalah sejauh mana siswa memperoleh informasi, pengetahuan dan hal lainnya yang berguna bagi kemampuan mereka.

Dahulu, pertanyaan itu hal yang lumrah, meski belum semua siswa di seluruh pelosok tanah air memperoleh “kenikmatan” yang sama dalam membaca, melihat dan mendengar dari aneka sarana komunikasi atau sarana pendidikan.

Membaca koran saat itu masih menjadi sebuah tradisi di berbagai kalangan dan elemen. Bahkan bagi keluarga tertentu, terutama pejabat publik atau para pihak yang membutuhkan informasi aktual, membaca koran jadi sarapan kedua atau bahkan sarapan pertama setiap pagi.

Kini, tradisi membaca koran itu menurun, seiring dengan semakin berkurangnya aneka dan oplah koran di pasar, instansi dan rumah tangga. 

Koran “Acta Diurna”

Bicara tentang sejarah koran,  produk budaya manusia ini telah lahir sejak ribuan tahun silam. Berwujud lembaran harian, koran pertama bernama Acta Diurna muncul pada zaman Romawi Kuno sejak 131 Sebelum Masehi. 

Dalam kurun waktu yang lama, bahkan ketika media elektronik dan multimedia menyusul lahir, media cetak khususnya koran atau surat kabar menjalankan tugas mulianya menyajikan kebenaran melalui berita-berita ke masyarakat umum.     

Di tanah air Indonesia, sejak tahun 1744 surat kabar berkembang pesat pada awalnya, namun kemudian menyusut sejak beberapa waktu terakhir. Dimulai sejak zaman Belanda, zaman Jepang, zaman Kemerdekaan, zaman Orde Lama, zaman Orde Baru, zaman Reformasi, dan zaman Pasca Reformasi.

Dalam kurun waktu itu, berbagai peristiwa atas koran dan media massa di satu sisi, dan peristiwa yang diberitakan oleh media itu di sisi lain, seolah terjadi “persaingan”. Maksudnya, materi isi yang diberikan koran dan media lainnya beragam dan hebat. Namun nasib wartawan dan medianya juga beragam “hebatnya”. 

Dari sisi wartawan, ada yang biasa-biasa dan baik-baik saja, namun ada pula yang tidak biasa dan mengalami nasib buruk. Nasib buruk ini mulai dari gaji atau kesejahteran rendah sampai ada yang terbunuh. Sedangkan sisi medianya, ada yang dapat sukses dan ada yang sudah berhenti terbit atau berhenti tayang.

Sejalan dengan semakin mahalnya harga kertas dan aneka problem lainnya, serta terutama adalah semakin rendahnya minat baca masyarakat karena hadir pilihan media komunikasi teknologi canggih lainnya, maka koran kian menyusut. Banyak media massa cetak yang tutup, mengurangi aneka produk cetakan, mengurangi ketebalan halaman koran, dan yang pasti oplahnyapun menurun tajam. 

Nasib penjual koran

Di lapangan, khususnya di Kota Pendidikan Yogyakarta yang semula begitu banyak penjual koran eceran di berbagai tempat, kini berkurang banyak. Tidak lagi semua perempatan jalan atau tempat strategis lainnya ada pengasong koran. Kios-kios koran yang semula banyak ada di berbagai tempat, kini menghilang bersamaan.

Salah satu penjual koran yang masih mencoba “setia” berjualan produk media cetak itu ada di sebelah timur kawasan Tugu, Yogyakarta. Dia menjejerkan koran dan tabloid baru maupun lama di pagar sebuah rumah warga dari pagi sampai siang hari.

Sepeda warna hitam milik si penjual, sadelnya “ditugasi” untuk meletakkan sejumlah koran baru. Jumlah koran dan tabloid yang dia beli dari sub agen semakin sedikit, hanya satuan eksemplar. Itu pun tidak selalu habis setiap harinya.

“Ya pembeli koran semakin sedikit dan semakin jarang. Penghasilan saya berkurang banyak.…,” kata lelaki penjual koran itu. 

Sampai kapan mau jualan koran? Dia hanya senyum tipis. “Entahlah, Pak,” katanya lesu. (Anto Margono, Pegiat Literasi di Yogyakarta)