bernasnews.com – Sebanyak 11.099 mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi mengawali perjalanan akademik melalui kegiatan Pengembangan Inisiatif dan Orientasi Mahasiswa Baru (PIONIR) Gadjah Mada 2026 di Lapangan Pancasila Grha Sabha Pramana (GSP), Senin (3/8/2026). Dalam prosesi tersebut, Rektor UGM Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D., secara simbolis menyerahkan mahasiswa baru kepada Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, sebagai penanda bahwa mereka juga menjadi bagian dari masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sri Paduka Paku Alam X mengingatkan bahwa status sebagai mahasiswa UGM tidak hanya membawa tanggung jawab akademik, tetapi juga tanggung jawab sosial. Ia berpesan agar ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan tinggi tidak berhenti sebagai pengetahuan, melainkan diwujudkan dalam pengabdian dan kebermanfaatan bagi masyarakat, sekaligus mengajak mahasiswa membaur dengan budaya dan kehidupan masyarakat Yogyakarta.
Sejak detik itu, ribuan mahasiswa tidak lagi hanya menyandang status sebagai sivitas akademika UGM. Mereka juga resmi menjadi bagian dari masyarakat Yogyakarta yang dikenal kaya akan budaya, tradisi, dan nilai-nilai kehidupan.
“Mulai hari ini, mahasiswa-mahasiswi ini bukan hanya menjadi bagian dari Universitas Gadjah Mada, tetapi juga menjadi bagian dari masyarakat Yogyakarta,” ujar Sri Paduka.
Pesan tersebut menjadi pembuka harapan sekaligus pengingat bahwa kehidupan mahasiswa tidak berhenti di ruang kuliah. Sri Paduka mengajak seluruh mahasiswa memanfaatkan masa studi sebagai ruang menempa diri, memperluas wawasan, membangun karakter, sekaligus mengasah kepedulian terhadap berbagai persoalan masyarakat.
Menurut Sri Paduka, PIONIR menjadi gerbang awal bagi mahasiswa untuk mengenal kehidupan kampus, membangun persahabatan, dan menumbuhkan rasa bangga terhadap almamater. Namun, kebanggaan itu harus diwujudkan melalui kerja nyata.
Mahasiswa harus menunjukkan kesungguhan dalam belajar, keberanian menyampaikan gagasan, kedisiplinan berpikir, serta kesiapan bekerja demi kepentingan bangsa.
Sri Paduka menegaskan bahwa UGM lahir dari semangat kerakyatan dan kebangsaan. Karena itu, kampus ini membutuhkan generasi muda yang progresif, inovatif, optimistis, nasionalis, memiliki inisiatif, dan mampu berpikir rasional.
“Ilmu yang diperoleh hendaknya tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjelma menjadi kebermanfaatan bagi masyarakat,” tegas Sri Paduka.
Lebih jauh, Sri Paduka mengingatkan bahwa pengalaman menjadi mahasiswa di Yogyakarta akan terasa lengkap apabila mereka mampu membaur dengan masyarakat.
Ia mengajak mahasiswa mengenal bahasa Jawa, memahami tradisi, menikmati kesenian, mempelajari tata krama, hingga menghargai nilai-nilai kehidupan masyarakat setempat. Semua itu, menurutnya, menjadi bagian penting dalam membentuk kepekaan sosial yang tidak selalu diajarkan di ruang kuliah.
“Berbaurlah dengan lingkungan sekitar. Belajarlah mengenal bahasa, tradisi, kesenian, tata krama, serta kehidupan masyarakat Yogyakarta. Kebudayaan mengajarkan bahwa kecerdasan perlu berjalan bersama kepekaan. Ajining diri ana ing lathi, martabat seseorang tercermin dari tutur kata, sikap, dan caranya menghormati sesama,” pesan Sri Paduka.
Sementara itu, Rektor UGM Prof. Ova Emilia mengingatkan bahwa keberhasilan menembus seleksi masuk UGM bukanlah akhir perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab yang jauh lebih besar.
Keberhasilan tersebut lahir dari kerja keras, ketekunan, doa, serta dukungan keluarga yang mengantarkan mereka memasuki salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia.
“Diterima menjadi mahasiswa UGM adalah langkah awal untuk memasuki dunia yang menempa untuk menjadi pribadi yang memiliki kapasitas dan daya saing di tingkat nasional maupun global, yang tidak hanya cakap dalam pengetahuan, tetapi juga berkarakter dan berkepribadian unggul,” ujar Ova.
Mengusung tema “Merajut Jati Diri Gadjah Mada Muda Berdikari Membangun Bangsa”, PIONIR 2026 menjadi ruang pembentukan karakter sekaligus penguatan identitas mahasiswa baru.
Ova menegaskan bahwa mahasiswa harus berani menjadi pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, peduli terhadap lingkungan sosial, dan mampu memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk menjawab tantangan pembangunan bangsa.
Menurutnya, mahasiswa baru merupakan bagian dari generasi yang akan menentukan arah masa depan Indonesia. Karena itu, proses belajar di perguruan tinggi tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter, kemampuan beradaptasi, semangat kolaborasi, serta keberanian melahirkan inovasi di tengah perubahan zaman yang berlangsung sangat cepat.
Ova juga mengajak seluruh mahasiswa memanfaatkan setiap kesempatan selama kuliah untuk terus belajar, memperkuat kompetensi, memperluas jejaring, serta menjaga semangat berkolaborasi dan berkreasi.
Pada Tahun Akademik 2026/2027, UGM menerima 11.099 mahasiswa baru, terdiri atas 9.164 mahasiswa program sarjana dan 1.945 mahasiswa program sarjana terapan.
Mahasiswa tersebut berasal dari seluruh provinsi di Indonesia. Keberagaman itu semakin lengkap dengan kehadiran 54 mahasiswa asing yang mengikuti program sarjana maupun program double degree. Kehadiran mereka mempertegas posisi UGM sebagai kampus kebangsaan yang terus menjunjung tinggi nilai keberagaman, inklusivitas, dan persaudaraan lintas budaya.(ef linangkung)












