bernasnews — Kekuatan kodrat (alam ataupun zaman) yang ada di dalam diri anak-anak kita perlu menjadi perhatian kita sebagai seorang guru. Bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara, senantiasa memfokuskan bagaimana agar kita dapat menghantarkan anak-anak (murid) pada keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Anak itu “unik” sesuai dengan kodratnya. Guru tentunya dapat memberikan ruang gerak dan kesempatan yang seluas-luasnya bagi anak untuk dapat bertumbuhkembang secara optimal.
Keunikan ini patut menjadi dasar bagi guru untuk terus mengembangkan diri dalam praktik pembelajaran dan evaluasinya. Murid kita unik, beragam. Beragam dalam apa yang diminatinya, kesulitan belajarnya, sosial emosionalnya, bahasa, latar belakang ekonomi, dan masih banyak keragaman yang lain. Keberagaman yang luas ini menjadikan kita para guru wajib memberikan layanan yang tepat, sesuai apa yang dibutuhkan murid. Jika hal ini tidak tercapai akan muncul learning gap (kesenjangan belajar), yang artinya apa yang didapatkan murid kita, berbeda dengan hal seharusnya yang dapat diperoleh murid.
Fakta dalam proses pembelajaran, masih banyak dijumpai pembelajaran yang dilakukan tidak mengakomodasi kepentingan anak. Kita menganggap anak sama, sehingga perlakukan yang diberikanpun dianggap sama. Anak menjadi bosan dan enggan terlibat aktif dalam proses belajarnya. Anak tampak murung, tidak bersemangat, membuat kesibukan sendiri, bahkan sampai pada situasi yang kita anggap mengganggu. Keinginan belajar dengan gaya nya masing-masing juga kurang atau tidak mendapatkan perhatian. Agar kesenjangan belajar ini dapat dikurangi, perlu ada upaya nyata untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar agar potensi anak dapat lebih dioptimalkan. Pembelajaran yang mengakomodasi kebutuhan anak (deferensiasi) merupakan solusi terbaik.
Sadar tidak sadar, kita sebagai guru senantiasa mengupayakan yang terbaik bagi murid, dan bagi kelasnya. Kadang di kelas kita fokus menuntun anak yang lemah, sekaligus tetap menjaga agar suasana kelas terkendali, tidak gaduh dan mengganggu kegiatan belajar. Pembelajaran berdeferensiasi sebagai bentuk pembelajaran yang dilakukan guru untuk memenuhi kebutuhan murid. Kebutuhan murid, dalam hal ini kebutuhan belajarnya dapat kita ketahui melalui pengamatan langsung, informasi dari guru atau rekan sejawat, murid sendiri, orang tua, penilaian-penilaian yang kita berikan, survey dan upaya relevan lain yang mengupas apa yang murid butuhkan.
Dalam diferensiasi, bukan berarti setiap individu dalam kelas mendapatkan pelayanan yang berbeda-beda, termasuk cara mengajar pribadinya, bukan juga proses yang acak tidak tertata, melainkan beberapa keputusan masuk akal yang bersumber dari kebutuhan murid. Keputusan yang seperti apa? Keputusan-keputusan dalam hal ini yang berhubungan dengan tujuan pembelajaran yang terarah, tanggapan akan kebutuhan murid, lingkungan belajar yang mendukung, managemen kelas yang baik serta proses penilaian yang berkelanjutan. Menurut Tomlinson (2001), ada 3 aspek kebutuhan belajar, yaitu kesiapan, minat dan profil belajar.
Aspek kesiapan belajar mengacu pada pemahaman atau keterampilan awal murid, minat sebagai bentuk hasrat murid terhadap sesuatu, dan aspek profil belajar mengacu pada cara yang murid sukai untuk belajar. Equalizer yang diperkenalkan oleh Tomlinson mengacu pada tombol-tombol yang menggambarkan kesiapan belajar murid, seperti sederhana ke kompleks, kongkrit ke abstrak, lambat ke cepat, dasar ke transformatif, ataupun tergantung ke mandiri. Kesiapan belajar lebih pada keinginan mengetahui pengetahuan atau keterampilan yang sudah ada, selaras dengan apa yang bakal diajarkan.
Minat sebagai bentuk respon karena adanya stimulus yang menimbulkan rasa senang. Dengan kata lain minat adalah motivator murid untuk lebih tertarik mengikuti proses pembelajaran. Minat ada yang bersifat situasional ada juga yang melekat (individu). Misal saat murid belajar tentang tanaman, dia tidak suka tanaman, tapi karena sang guru menyampaikannya dengan cara-cara yang fun, menarik, didukung peraga atau tayangan yang sesuai, anak dapat muncul minatnya saat itu (situasional).
Sebaliknya minat juga dapat melekat dalam waktu yang lama. Anak yang suka tanaman, sekalipun gurunya kurang atau tidak menarik dalam penyampaiannya, ia tetap minat dengan dunia tanaman. Untuk aspek profil belajar, mengandung makna cara-cara yang terbaik bagi murid untuk belajar. Profil belajar murid dipandang dari beberapa faktor seperti lingkungan tempat belajar murid, budayanya, gaya belajarnya (visual dengan melihat, auditorial dengan mendengarkan dan kinestetic melalui gerakan-gerakan), dan kecerdasan majemuk.
Dengan memahami kebutuhan belajar murid, melalui pembelajaran berdiferensiasi, diharapkan kita sebagai guru dapat menyusun strategi, metode, model pembelajaran yang sungguh mengakomodir setiap kebutuhan murid dan kita mampu mendiferensiasikan kontennya, proses ataupun produk dari pembelajaran yang kita lakukan, dengan harapan murid dapat belajar dengan baik, menyenangkan dan pastinya, akan beroleh hasil yang maksimal.
Pembelajaran yang sungguh-sungguh memerdekakan dan membantu memberdayakan setiap kebutuhannya. Tentunya kita juga meyakini bahwa konten atau isi materi yang berbeda dapat kita sesuaikan dengan kesiapan belajarnya, demikian juga proses yang kita lakukan. Tentunya anak yang berada di level high proses pendampingan dari kita lebih sedikit dibandingkan dengan mereka yang di level middle atau low. Murid yang butuh bantuan lebih (low) perlu mendapatkan soroton kita lebih ekstra agar ketercapaian belajarnya lebih optimal.
Sementara untuk produk yang hasilkan, murid dapat mengkreasinya sesuai gaya belajar yang dia miliki, seperti akankah dibuat melalui gambar (visual), music, suara, (auditorial) atau peragaan, roleplay ( kinestetic). Melalui pembelajaran berdiferensiasi, murid sungguh-sungguh dimerdekakan. Merdeka jasmani dan rohaninya. Fisik yang tangguh dengan karakter diri yang kuat.
Segala kemampuan yang murid miliki, baik pengetahuan, keterampilan, minat, ataupun bakat sungguh diberi ruang dan diberdayakan. Menjadikan berdaya guna apa yang mestinya dapat murid capai, potensi dasarnya, dan segala kekuatan yang dimiliki murid. Kebutuhan mereka sungguh-sungguh ingin dan akan dicukupi. Selamat berproses untuk setinggi-tingginya keselamatan dan kebahagiaan murid. (Taufan Febrianto, M.Pd, Guru SMP Maria Mediatrix Semarang)












