bernasnews — Sebagai wirausaha itu harus memiliki mindset bisnis kemampuan menangkap peluang, skillset terutama pandai bergaul, dan managerial skill yang didapatkan dari kampus. Demikian penjelasan Direktur Amarta Multi Coorporation (AMC) Nur Hidayat, Jumat (2/12/2022).
Penjelasan itu disampaikan dalam giat kuliah di lapangan oleh Prodi Public Relations ASMI Santa Maria Yogyakarta, dalam mata kuliah Kewiraswastaan, bertempat di Angkringanqu Sky Bar, Prancak Dukuh, Panggungharjo, Sewon, Kabupaten Bantul atau tepatnya sebelah barat Kampus ISI Jogja.
Matakuliah yang diampu oleh Drs Z. Bambang Darmadi, MM selaku dosen, diikuti oleh 15 mahasiswa Semester V Prodi Public Relation ASMI Santa Maria. Dengan menghadirkan secara spontanitas Direktur beserta Staf AMC Grup, yaitu sebuah lembaga pelatihan di Yogyakarta yang juga membawai belasan perusahaan, salah satu suku usahanya adalah Angkringanqu Sky Bar.
“Inti dari berbisnis itu adalah kemampuan menangkap peluang, bisa dilatih dari hal-hal yang kecil yang ada di sekitar teman-teman kita. Juga berlatih dengan bertemu orang-orang yang mempunyai mindset yang sama yang dapat berbagi peluang,” beber Nur Hidayat.
Selain memberikan tips-tips, Nur Hidayat juga memberikan kesempatan kepada para mahasiswa jika ingin belajar menambah wawasan dalam dunia kewirausahaan. Pihaknya juga siap apabila ada mahasiswa yang menginginkan magang atau belajar bekerja.
“Kebetulan kami juga sedang berencana membuat ‘Gerakan Petani Muda Indonesia’ yang bertujuan untuk ketahanan pangan, dengan mengajak anak-anak milenial menjadi petani. Dan perlu diketahui, bahwa masa depan dunia adalah bagi orang yang mempunyai kemampuan enterprenuship,” ujar pebisnis yang hobi bermusik.
Sementara itu, Bambang Darmadi dalam mengawali giat perkuliahan lapangan juga mengungkapkan hal yang senada dengan Nur Hidayat, bahwa dalam berwiraswasta itu selain harus kreatif, bisa mengelola waktu dengan baik, percaya diri dan menghargai uang. “Satu kuncinya adalah pandai menangkap peluang dan berani eksen atau mengeksekusi,” kata dia.
Lanjut Bambang mengungkapkan, bahwa contohnya banyak dosen yang juga ingin menggelar kuliah di lapangan semacam ini, namun tidak ada keberanian untuk mengeksekusi maka kegiatan kuliah dengan belajar langsung kepada praktisi tidak mungkin terjadi. “Minimal berani berkorban waktu, karena diselenggarakan di luar kampus. Apalagi dilaksanakan di angkringan, kafe atau hotel kalau semua direncanakan pasti bisa,” kata dosen, yang juga wartawan senior. (ted)












