Diskusi ‘Sumpah Pemuda dan Martabat Bahasa Indonesia’ di STPN

Para peserta diskusi ‘Sumpah Pemuda dan Martabat Bahasa Indonesia’ STPN Yogyakarta foto bersama, di kampus setempat, Kamis (27/10/2022) malam. (Foto : Humas Perpustakaan STPN)

bernasnews – Komunitas Free Coffee for Discussion Unit Penunjang Akademik (UPA) Perpustakaan Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) Yogyakarta bekerjasama dengan Komunitas Diskusi Forum Batu Tulis Nusantara Yogyakarta mengadakan diskusi kolaborasi di Ruang Audio Visual perpustakaan setempat,  Kamis (27/10/2022) malam. Diskusi kolaborasi ini mengangkat Tema ‘Sumpah Pemuda dan Martabat Bahasa Indonesia’.

Diskusi berkenaan peringatan Sumpah Pemuda ke-94 tersebut dibuka oleh Kepala UPA Perpustakaan STPN Yoseph Nai Helly, S.Si.T., M.A. Ia membuka acara diskusi tersebut dengan menyapa para peserta dengan menggunakan bahasa Tetun, bahasa Dawan, bahasa Jawa, lalu menggunakan bahasa Indonesia. Ia menggunakan beberapa bahasa daerah yang diketahuinya sebagai pembuktian butir ketiga dari isi Sumpah Pemuda yang berbunyi “Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia.”

Setelah itu acara diskusi dimulai dengan pembawa acara Aldrian sebagai Taruna STPN, mempersilahkan para narasumber untuk menyampaikan gagasannya. Narasumber pertama yang merupakan seorang penerjemah, penyusun kamus, dan penyuka sastra yaitu Yohanes Manhitu meminta salah seorang peserta untuk membacakan isi dari Sumpah Pemuda.

Yohanes Manhitu mengatakan, pada Oktober 2022 Sumpah Pemuda telah mencapai usianya yang ke-94, seusia dengan bahasa Indonesia. Jika dibandingkan dengan seorang manusia, maka bahasa persatuan kita telah menginjak usia uzur dan sudah kenyang dengan asam-garam kehidupan. Ia mengajak peserta diskusi untuk mengamati apa yang telah dicapai bahasa pemersatu kita ini dengan menggunakan indikator-indikator martabat bahasa yang digariskan Soepomo Poedjosoedarmo dalam bukunya yang berjudul “Filsafat Bahasa” (Muhammadiyah University Press, 2001), yaitu kemampuan, pemakaian dan kreativitas, peradaban bangsa, sistem tulis, pembakuan, kaya, dan jumlah penutur. Ia menjelaskan dengan baik indikator-indikator tersebut di atas sesuai dengan kemampuan dan pengalamannya.

Narasumber kedua Dr. Sutaryono yang adalah Dosen Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional menyampaikan bahwa Sumpah pemuda sangat penting bagi perkembangan dan kemajuan bangsa Indonesia. Ia mengatakan bahwa sebagai insan pertanahan isi sumpah pemuda pada butir pertama sumpah tersebut berbunyi kami Putra dan Putri Indonesia Mengaku Bertumpah Darah yang satu Tanah Indonesia, telah mengakomodir kegiatan pertanahan di negara ini sampai sekarang.

Narasumber ketiga Benyamin Boy mengatakan bahwa Bahasa merupakan salah satu pertahanan bangsa. Sebab dengan Bahasa, bangsa Indonesia memiliki nilai tawar yang lebih dalam bernegosiasi dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Pada sesi tanya jawab, banyak peserta dari Taruna yang sangat antusias dan menanyakan tentang kiat-kiat untuk tetap menggunakan Bahasa Indonesia di seluruh Indonesia maupun Bahasa Daerah yang sangat dominan di nusantara sebagai Bahasa Ibu.

Yoseph Nai Helly, dalam kesempatan diskusi ini membacakan tiga buah puisinya dengan judul Darah Tumpah, Bangsa Indonesia dan Bahasa Persatuan. (*/mar)