bernasnews — Bakat menulis yang ada dalam diri seseorang tidak bisa dipungkiri, dan dihindari, bahwa bisa menulis adalah merupakan kepuasan tersendiri sehingga bisa menghasilkan sebuah karya yang bisa diharapkan bisa bermanfaat bagi masyarakat maupun diri sendiri.
Begitu juga berlaku bagi Sili Suli yang berasal dari Tanah Toraja merupakan seorang Alumni dari Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta yang berbakat menulis, sehingga bisa menghasilkan karya yang dituangkan dalam sebuah novel cerita fiksi berjudul “Lelabuh Asmara”.
Syukuran terbitnya buku novel tersebut berlangsung di ndalem Pakuningratan, Yogyakarta, pada Minggu (7/6/2026). Suli sebagai penulis juga sudah ada beberapa buku sudah ditulisnya, yang kebanyakan berupa buku novel.
Semenetara Lelabuh Asmara adalah sebuah novel berbahasa Jawa yang merupakan terjemahan dan ditulis ulang dari novel yang berjudul “Surya, Mentari dan Rembulan”. Ini merupakan inovatif dan kreatif dari sebuah novel yang berbahasa Jawa, ceritanya menggambarkan tentang tiga kebudayaan antara budaya Jawa khususnya Yogyakarta, budaya Toraja dan budaya dari negara Nepal.
Dalam acara syukuran tersebut yang hadir, selain beberapa para sahabat dari kampus UWM, juga beberapa tokoh di bidang Budaya seperti Wahyu Nugroho yang menjadi penerjemah novel tersebut, Supriyanto sebagai desain covernya.
Juga beberapa pihak yang telah membantu terbitnya novel ini, termasuk dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Selain itu juga disampaikan beberapa testimoni tentang novel tersebut, salah satu yang memberikan testimoni adalah Raden Ayu Siti Nikandaru Chairina yang masih kerabat keraton Yogyakarta.
Sebelum menerbitkan novel tersebut, Suli sudah berkoordinasi dan berkonsultasi dengan Guru besar Sastra di Fakultas Ilmu Budaya UGM, Ketua Program Studi S1 Sastra Daerah/ Sastra Jawa Fakultas Ilmu Budaya UNS. Juga dengan Ketua Prodi Sastra Jawa Fakultas Bahasa dan Seni UNS, serta dengan para budayawan juga para sahabat.
“Tujuan diterbitkannya novel ini merupakan bukti syukur atas nikmat yang diberikan oleh Tuhan Semesta Alam, sehingga kita bisa berkarya dengan membuat sebuah buku novel fiksi dalam bahasa jawa,” ungkap Suli.
Suli juga menyampaikan tentang makna dari cover bukunya itu yang berupa gunungan, wayang, dan binatang/ kerbau, merupakan simbol dari alam semesta dan budaya tanah Jawa (Yogyakarta), Tanah Toraja dan negara Nepal yang saling bersinergi.
“Saya berharap, buku novel ini dapat bermanfaat, bagi masyarakat pada umumnya dan juga saya sendiri sehingga untuk ke depan bisa melahirkan karya – karya yang lebih baik lagi. Saya juga mengucapkan banyak terima kasih kepada semua yang telah membantu dalam proses pembuatan buku ini yang awalnya hanya sekedar omong – omong biasa yang melahirkan ide sehingga dilanjut dengan konsultasi dan seterusnya, sampai akhirnya terbitlah buku ini,” tutur Suli.
“Terutama kepada sahabat – sahabat saya, trimakasih tak terhingga yang telah mendukung dan mensuport rencana buku ini, sehingga sebagai penghargaan, sebagai tokoh dalam cerita ini adalah para sahabat saya,” tutup Suli. (nun)












