Setiap Zaman Ada Orangnya : Peran Apa yang Kumainkan demi Kehidupan?

Cover buku Katekese Kebangsaan KAS 2026 dengan foto Romo Mangunwijaya. (Foto : Humas tim katekese)

bernasnews – Dalam Katekese Kebangsaan Bulan Agustus 2026, Umat Katolik Indonesia khususnya di Keuskupan Agung Semarang (KAS) melalui Komisi Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan KAS, diajak belajar dari Romo Y.B. Mangunwijaya yang akrab dikenal sebagai Romo Mangun.

Ia adalah seorang imam, arsitek, sastrawan, pendidik, pemikir dan pembela kemanusiaan. Namun lebih dari semua sebutan ini, Romo Mangun adalah pribadi beriman yang menunjukkan bahwa mencintai Allah tidak dapat dipisahkan dari mencintai manusia dan tanah air.

Melalui buku katekese bertajuk “Tanah Air Ada di Sana Dimana Ada Cinta dan Kedekatan Hati”, umat KAS diajak untuk merenungkan dalam dua pokok besar. Pertemuan pertama mengajak umat melihat bagaimana iman dapat menjadi kekuatan untuk membuka diri terhadap zaman, sesama, dan panggilan Tuhan. Pertemuan kedua mengajak umat melihat bagaimana iman yang terbuka itu harus berbuah dalam keberpihakan konkret kepada martabat manusia, terutama mereka yang kecil, miskin, tersingkir dan kurang didengarkan.

Harapan dari Katekese Kebangsaan 2026 ini umat Katolik di KAS semakin mampu menjadi garam dan terang di tengah masyarakat. Umat agar semakin berani menjadi 100 persen Katolik dan 100 persen Indonesia berakar dalam Kristus, terbuka kepada sesama dan terlibat dalam kehidupan bangsa.

PERAN YANG KUMAINKAN

Ketua tim penyusun buku Katekese Kebangsaan KAS 2026 RD Rosarius Sapto Nugroho dalam pertemuan zoom bersama tim beberapa waktu yang lalu mengemukakan, setiap orang ada zamannya. Dalam hal ini iman menjadi kekuatan untuk membuka diri. Kemudian, setiap zaman ada orangnya.

“Pertanyaan akhirnya adalah bukan hanya zaman apa yang membentukku? Melainkan peran apa yang kumainkan demi kehidupan? Bahwa aku tidak sekadar bekerja, aku tidak sekadar kuliah, aku tidak sekadar menjadi anggota masyarakat. Kesadaran untuk memainkan peran tertentu dalam kehidupan dan demi kehidupan. inilah yang penting,” kata dia.

Kepada anggota tim, Romo Sapto Nugroho memberikan alur gagasan dari zaman menuju panggilan. Dimulai ranah keluarga dan budaya ambivalen bahwa pendidikan, keluarga dan struktur kolonual membentuk Bilyarta muda. Kemudian iman yang membuka hati, pengalaman Katolik tidak berhenti pada kesalehan pribadi.

Selanjutnya sebagai titik balik panggilan, pilihan menjadi iman dibaca sebagai jalan hidup. Kemudian bonum communae, profesi dan keluarga menjadi ruang memperjuangkan kesejahteraan umum.

Menurut Romo Sapto, sosok Romo Mangun merupakan penampakan Aras Dasar KAS. Bahwa iman adalah kebahagiaan yang diwujudkan. Mewujudkan iman adalah menginspirasi, mengusahakan bonum commune atau kesejahteraan. (mar)