Zulhas Bangun Sistem Pangan Terintegrasi, Buka Puluhan Ribu Lapangan Kerja dari Desa hingga Pesisir

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan/Foto: Istimewa

bernasnews– Pemerintah bergerak cepat memperkuat fondasi ketahanan pangan nasional. Di tengah tantangan global dan dinamika ekonomi yang terus berubah, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, meluncurkan langkah strategis.

Langkahnya tidak hanya menargetkan produksi pangan, tetapi juga menyentuh aspek kesejahteraan masyarakat hingga ke pelosok desa dan wilayah pesisir.

Langkah besar ini tidak sekadar program biasa. Pemerintah merancang sistem pangan terintegrasi dari hulu hingga hilir, yang menghubungkan produksi, distribusi, hingga stabilitas harga dalam satu ekosistem kuat.

Sistem Pangan Terintegrasi

Melalui strategi ini, pemerintah ingin memastikan bahwa ketahanan pangan Indonesia tidak lagi rapuh menghadapi krisis, sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru yang masif.

Pemerintah menempatkan desa dan kampung nelayan sebagai pusat penggerak ekonomi baru. Program ambisius ini diwujudkan melalui pembentukan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KMNP).

Kedua koperasi ini akan menjadi tulang punggung ekonomi lokal. Pemerintah menjadwalkan peluncuran program ini pada Juli 2026 dengan target mencakup 30.000 desa dan sekitar 5.400 kampung nelayan di seluruh Indonesia.

Langkah ini menunjukkan perubahan pendekatan yang signifikan. Pemerintah tidak lagi hanya berfokus pada produksi semata, tetapi juga memperkuat kelembagaan ekonomi masyarakat agar mampu mandiri dan berdaya saing.

Di balik program besar ini, pemerintah juga membuka peluang kerja dalam jumlah besar. Sedikitnya 30.000 posisi manajer koperasi desa dan lebih dari 5.400 posisi manajer kampung nelayan akan tersedia.

Rekrutmen ini menyasar lulusan D3, D4, hingga pascasarjana. Pemerintah menegaskan bahwa proses seleksi berlangsung transparan dan bebas dari praktik kecurangan.

Zulkifli Hasan menegaskan komitmen tersebut secara tegas. Ia menyatakan bahwa tidak ada ruang untuk praktik sogok-menyogok, jalur orang dalam, maupun surat sakti dalam proses penerimaan.

Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah ingin membangun sistem yang bersih dan profesional, sekaligus membuka kesempatan yang adil bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Stok Beras Melimpah, Target Surplus Digenjot

Di sisi lain, pemerintah juga mencatat capaian penting dalam ketersediaan pangan. Stok beras nasional saat ini mencapai 4,7 juta ton, sebuah angka yang menunjukkan kondisi relatif aman.

Pemerintah bahkan menargetkan surplus lebih dari 4 juta ton pada tahun 2025. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah fokus memastikan distribusi pupuk berjalan lancar serta memperbaiki sistem irigasi di berbagai daerah.

Langkah ini menjadi krusial karena produksi yang tinggi tidak akan berarti tanpa dukungan infrastruktur yang memadai.

Tidak berhenti pada produksi, pemerintah juga mengarahkan perhatian pada stabilitas harga di tingkat konsumen. Salah satu kebijakan yang tengah disiapkan adalah penerapan harga beras yang seragam di seluruh Indonesia.

Untuk mewujudkan hal ini, pemerintah memperkuat peran Perum Bulog dengan memberikan subsidi ongkos distribusi.

Melalui kebijakan ini, pemerintah ingin menghapus disparitas harga yang selama ini terjadi akibat tingginya biaya logistik.

Ke depan, masyarakat di berbagai daerah, dari Madura, Medan, hingga Yogyakarta, dapat menikmati harga beras yang sama.

Langkah pemerintah ini mencerminkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Ketahanan pangan tidak lagi dipandang sekadar soal ketersediaan, tetapi juga keadilan distribusi dan kesejahteraan pelaku di dalamnya.

Dengan mengintegrasikan sistem dari hulu hingga hilir, membuka lapangan kerja besar-besaran, serta memastikan harga tetap stabil, pemerintah berupaya menciptakan ekosistem pangan yang tangguh sekaligus inklusif. (ef linangkung)