Opini  

Bersyukur, Masih dapat Menekuni Jalur Jurnalistik

Tiga buku jurnalistik karya YBM yang menginspirasi dan menjaga komitmen dalam menjalani profesi sebagai wartawan. (Foto : Mitra Mekar Berkarya) .

bernasnews – Hidup itu pilihan, demikian sering diungkapkan oleh beberapa orang. Hal itu memang benar. Karena setiap orang harus memiliki kemauan dan kemampuan untuk menjalani kehidupan. Baik hidup sendiri atau bersama keluarga. Memilih jalur hidup, pendidikan, dan karyanya.

Apakah setiap pilihan hidup atau cita-cita masa depan pasti akan tercapai secara tepat? Belum tentu. Ada proses yang harus dijalani, ada kelok-kelok dan tikungan jalan yang harus dipilih atau dihindari. Ujung-ujungnya, ada hasil yang menggembirakan, namun ada juga hasil yang menyedihkan.

Bila berhasil dan mnggembirakan, tentu bersuika cita dan menganggap pilihan orang itu tepat. Namun bila yang terjadi sebaliknya, orang akan kecewa dan mengangap pilihan awalnya salah. Di sini terjadi titik balik. Apakah si orang gagal akan bangkit lagi dan terus membuka jalan dengan cara baru, atau berhenti dan menyerah. Ini pun pilihan.

Awalnya, pilihan hidup atau cita-cita profesi penulis bukan di bidang jurnalistik. Namun kemudian memilih jalur itu setelah pilihan pertama yang lain gagal. Pilihan jalur jurnalistik pun baik adanya, mengingat hobi penulis sejak remaja adalah membaca dan menulis. Maka pilihan jalur penulis yang kemudian masuk lembaga pers pun tidak salah.

Sejak lima puluhan tahun silam, penulis paham bahwa paling tidak ada tiga jenis media massa yakni media cetak, media elektronik dan multi media. Untuk media cetak ada buletin, koran, tabloid, dan majalah. Untuk media elektronik ada radio dan televisi. Sedangkan multi media ada kantor berita dan media online.

Pilihan penulis, dan sekaligus cinta pertama di bidang kemassmediaan adalah koran. Mengapa koran? Ya karena di rumah dulu keluarga berlangganan sebuah koran lokal bernama “Berita Nasional” yang kelak bernama “Bernas”, dan kemudian “Bernas Jogja”. Bahkan sekian puluh tahun kemudian ada “Bernas” versi media online, setelah “Bernas” versi cetak tidak mampu bertahan dalam menghadapi harga kertas yang terus naik dan pesaingan sesama media.

Mendirikan sebuah media cetak, dan apalagi media elektronik dan multi media, itu mahal dan rumit. Butuh aneka sarana prasarana pendukung yang tidak sedikit jumlah dan biayanya. Belum lagi sumber daya manusia (SDM) yang harus memadai untuk menggerakkan roda manajemen redaksi, bisnis, dan percetakan secara sinergis dan kreatif.

SDM khususnya di bidang redaksi/wartawan boleh memiliki semangat berkarya yang baik dan rasa memiliki perusahaan. Namun berhasil dan tidaknya perjalanan perusahaan pers, butuh kebersamaan banyak pihak dan akhirnya tergantung keputusan pemimpin umum atau pemiiik perusahaan pers itu. Keputusan puncak adalah koran mau terus jalan atau berhenti terbit karena aneka beban berat yang tidak tertanggungkan.

Apakah “keputusan akhir” pemilik koran serta wartawan dan karyawannya sama? Belum tentu. Pemilik koran dengan mempertimbangkan banyak hal (waktu itu) memutuskan berhenti terbit. Sedangkan sebagian wartawan (termasuk penulis) masih semangat untuk menekuni jurnalistik atau media. Syukurlah, pada akhirnya ada kendaraan baru yang dapat menampung kembali kiprah karya wartawan dan rekan bisnis di media online.

Berkarya di media massa, khususnya jajaran redaksi/wartawan, memang bukan pekerjaan semata namun lebih sebagai profesi dan panggilan jiwa. Ada tanggungjawab moral yang melekat di dada jurnalis universal yakni mencari dan menyajikan kebenaran melalui sajian berita dan nonberita. Selain itu ada tangggungjawab menyajikan informasi, pendidikan, kritik sosial, saluran aspirasi warga, dan hiburan.

Melaksanakan itu semua di masa lalu tidak mudah. Ada tantangan internal dan eksternal, ada regulasi dan tekanan yang tidak ringan, kemudian bahkan sampai ada ancaman dan tindakan pelanggaran hak asasi manusia. Bagaimana kondisi kini dan mendatang? Tentu dijalani saja dengan tetap menjaga kode etik jurnalistik, kebijakan redaksional, tata nilai masyarakat, dan kewaspadaan.

Menyadari pentingnya “rekam jejak”, dokumentasi atau arsip ide, gagasan, dan karya jurnalistik, penulis memiliki tradisi menulis buku. Kata dan saran senior wartawan pada awal penulis berkarya adalah “Buku itu mahkota wartawan”. Maka apabila jurnalis ingin memiliki mahkota yang bermakna, bukan hanya untuk diri sendiri namun juga sesama dan pustaka pers/jurnalistik, tidak ada cara lain kecuali menulis buku secara konsisten.

Tiga buku jurnalistik yang menjadi ilustrasi tulisan esai sederhana ini adalah contoh karya penulis dalam kurun waktu berbeda. Buku “Biar Berita Bicara” terbit tahun 2001, buku “BERNAS JOGJA Sekolahku Tanpa Gelar” tahun 2011, dan buku “Bicara dalam Diam” tahun 2016. Buku itu masing-masing telah berusia 25 tahun, 15 tahun, dan 10 tahun. Membaca ulang buku lama itu, setidaknya bagi penulis, masih memberikan makna mendalam dan menguatkan komitmen untuk terus menekuni jalur jurnalistik.

Pada akhirnya, wartawan senior H. Rosihan Anwar (alm) dalam tulisannya di sebuah koran Jakarta (1997) berjudul “Apa yang Kau Cari, Wartawan”, terus menggugat penulis dan jurnalis pada umumnya dalam menjalankan tugas kewartawanan hingga kini. Bahwa yang dicari itu apakah kekuasan dan kejayaan, kedudukan dan kepangkatan, kekayaan dan kesenangan? Atau adakah yang lain, terasakan ada, terkatakan tidak?

Sebelumnya, Rosihan bertanya begini, bagaimana wartawan memandang peran dan tugasnya dalam situasi sekarang dan dalam perkembangan di tahun-tahun mendatang? (Y.B. Margantoro, Wartawan dan Pegiat Literasi).