Harga Bahan Baku Naik, Pedagang Tempe-Tahu Kulon Progo Bertahan dengan Strategi Menyusutkan Ukuran Produk

Aktivitas produsen tahu dan tempe di Kulon Progo saat menyesuaikan produksi akibat kenaikan harga kedelai dan bahan baku. (Ist)

bernasnews – Kenaikan harga kedelai di pasar global mulai berdampak pada pelaku usaha tempe dan tahu di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Meski demikian, harga jual tempe dan tahu di sejumlah pasar tradisional setempat masih relatif stabil karena pedagang dan produsen memilih melakukan penyesuaian pada ukuran serta proses produksi untuk menekan biaya.

Kondisi tersebut terlihat di sejumlah pasar tradisional di wilayah Kulon Progo, di mana pedagang masih mempertahankan harga jual demi menjaga daya beli masyarakat.

Para pelaku usaha menilai konsumen pasar tradisional masih sangat sensitif terhadap perubahan harga kebutuhan pokok, sehingga kenaikan harga dinilai berpotensi menurunkan jumlah pembeli.

Pedagang Pertahankan Harga Jual

Salah satu pedagang sayur di Kapanewon Pengasih, Suristi, mengatakan hingga saat ini distributor belum menaikkan harga tempe dan tahu yang dipasok kepadanya. Karena itu, ia masih mempertahankan harga jual kepada konsumen seperti biasa.

“Kalau dari pemasok belum ada kenaikan harga, jadi saya juga tidak menaikkan harga jual ke pembeli,” ujar Suristi.

Menurut dia, menjaga harga tetap stabil menjadi langkah penting untuk mempertahankan pelanggan tetap di tengah kondisi ekonomi yang masih menuntut masyarakat berhitung dalam berbelanja kebutuhan harian.

“Kalau harga dinaikkan, saya khawatir pembeli jadi berkurang. Lebih baik harganya tetap, meskipun ukuran sedikit berubah,” tambahnya.

Ukuran Produk Mulai Berubah

Meski harga jual belum mengalami perubahan, Suristi mengamati ukuran tempe dan tahu yang diterimanya dari pemasok mulai mengalami penyusutan dibanding sebelumnya. Ia menduga perubahan itu dilakukan produsen sebagai bentuk penyesuaian atas kenaikan harga bahan baku kedelai.

“Memang kalau dilihat sekarang ukurannya agak mengecil sedikit, mungkin dari produsennya menyesuaikan karena harga kedelai naik,” jelasnya.

Penyesuaian ukuran produk menjadi salah satu strategi yang dipilih produsen agar harga jual di tingkat konsumen tetap terjangkau tanpa menaikkan nominal penjualan secara langsung.

Di tingkat produsen, kenaikan biaya produksi dirasakan semakin berat seiring naiknya harga kedelai impor dan bahan pendukung lainnya. Harga kedelai impor dilaporkan meningkat dari sekitar Rp9.800 menjadi Rp10.600 per kilogram.

Selain itu, harga plastik untuk kebutuhan kemasan juga mengalami kenaikan hingga sekitar 100 persen. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap biaya operasional usaha tahu dan tempe rumahan di berbagai wilayah DIY.

Pengrajin Tahu Lakukan Penyesuaian Produksi

Pengrajin tahu di wilayah Tuksono, Kecamatan Sentolo, Poniran, mengatakan kenaikan harga bahan baku membuat keuntungan usaha semakin menipis. Menurut dia, pelaku usaha harus mencari berbagai cara agar usaha tetap berjalan di tengah tekanan biaya yang meningkat.

“Kenaikan harga bahan baku ini sangat memberatkan, terutama kedelai dan plastik. Kami terpaksa mencari cara supaya usaha tetap jalan, meskipun keuntungan semakin tipis,” ujar Poniran saat ditemui di tempat produksinya pada Kamis, 9 April 2026.

Untuk menyesuaikan kondisi tersebut, Poniran mengubah pola produksi dengan menambah jumlah potongan tahu dalam satu kemasan, namun mengurangi takaran kedelai yang digunakan dalam setiap proses produksi.

Ia menyebut langkah itu dilakukan agar harga jual tetap bisa dijangkau masyarakat meskipun terdapat perubahan pada ukuran dan komposisi produk.

Namun demikian, Poniran mengakui kenaikan biaya produksi tetap berdampak pada harga jual. Harga tahu yang sebelumnya sekitar Rp2.500 per bungkus kini meningkat menjadi sekitar Rp5.000 per bungkus.

Pelaku Usaha Berupaya Pertahankan Kualitas

Di tengah tekanan biaya produksi, Poniran menyatakan tetap berupaya menjaga kualitas produk demi mempertahankan kepercayaan pelanggan. Menurutnya, loyalitas konsumen menjadi faktor penting bagi keberlangsungan usaha kecil.

“Kami tetap menjaga kualitas, karena pelanggan itu penting. Harapannya harga bahan baku bisa kembali stabil supaya usaha kecil seperti kami bisa bertahan,” katanya.

Kenaikan harga kedelai dan bahan produksi lainnya menunjukkan dampak fluktuasi harga komoditas global terhadap usaha pangan skala kecil.

Jika kondisi berlanjut, pelaku usaha diperkirakan akan terus melakukan efisiensi untuk menjaga keberlangsungan produksi di tengah tekanan biaya operasional. (Eln)