bernasnews — Tahun 2026 menjadi salah satu momentum yang penuh makna dan istimewa bagi bangsa Indonesia yaitu terjadi perayaan hari raya keagamaan yang hampir bersamaan Nyepi bagi umat Hindu, Idulfitri bagi umat Islam, dan Paskah bagi umat Kristiani.
Untuk menyambut hari raya tersebut umat Islam dan umat Kristiani melaksanakan puasa yang dilaksanaan hampir bersamaan, Puasa umat Kristiani (Katolik) tahun 2026 dimulai saat Perayaan Rabu Abu yangt jatuh pada hari Rabu, 18 Februari 2026, hari yang menandai dimulainya masa Prapaskah selama 40 hari sebagai masa pertobatan, puasa, dan pantang untuk menyambut Paskah.
Sedangkan bagi umat Islam, Pemerintah telah menetapkan 1 Ramadan 1447 H/2026 M jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026, penetapan ini didasarkan pada hasil Sidang Isbat (penetapan) 1 Ramadan 1447 H yang dipimpin Menteri Agama Nasaruddin Umar di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa, 17 Februari 2026.
Pada tanggal 19 Maret 2026 perayaan Hari Raya Idulfiitri bertepatan dengan Hari Raya Nyepi, secara khusus di Pulau Bali untuk menjaga kondusifitas Kementerian Agama mengeluarkan panduan khusus melalui SE Nomor 1 Tahun 2026 tentang panduan takbiran di Bali diperbolehkan di masjid/mushola terdekat dengan jalan kaki, tanpa pengeras suara/mercon pada pukul 18.00 – 21.00 WITA. Sementara perayaan Tri Hari Suci bagi umat Kristiani yaitu Kamis Putih tanggal 2 April 2026, Jumat Agung tanggal 3 April 2026, dan Paskah tanggal 5 April 2026.
Peristiwa yang terjadi pada tahun 2026 menjadi pengingat kuat bahwa keberagaman bukan sekadar fakta sosial, melainkan anugerah yang harus dirawat bersama oleh seluruh warga Indonesia. Ketika perayaan Nyepi, Idulfitri, dan Tri Hari Suci berlangsung dalam waktu yang berdekatan, bahkan didahului oleh masa puasa yang hampir bersamaan antara umat Islam dan Kristiani, bangsa ini diajak untuk semakin menumbuhkan empati, toleransi, dan saling menghormati.
Kebijakan yang mengatur pelaksanaan ibadah secara bijak, seperti penyesuaian takbiran di Bali, menunjukkan bahwa harmoni dapat diwujudkan melalui sikap saling memahami tanpa mengurangi makna ibadah masing-masing. Momentum ini semestinya menjadi cermin bahwa persatuan Indonesia tidak dibangun dari keseragaman, melainkan dari kesediaan untuk hidup berdampingan dalam perbedaan, menjunjung tinggi nilai gotong royong, serta menempatkan kepentingan bersama di atas ego kelompok demi terciptanya kehidupan yang damai dan rukun.
Jika kita menelusuri lebih jauh, kedekatan waktu ini terjadi karena masing-masing hari raya ditentukan oleh sistem kalender yang berbeda. Hari Raya Nyepi mengikuti Kalender Saka yang memadukan peredaran bulan dan matahari. Idulfitri ditentukan oleh Kalender Hijriah yang sepenuhnya berbasis peredaran bulan, sehingga setiap tahun bergeser sekitar sebelas hari lebih awal dalam kalender Masehi.
Sementara itu, Paskah dihitung berdasarkan peredaran matahari dan fase bulan, yakni dirayakan pada hari Minggu pertama setelah bulan purnama sesudah titik balik musim semi. Perbedaan sistem ini membuat ketiga perayaan tersebut tidak selalu berdekatan.
Namun pada tahun ini, siklus-siklus tersebut seakan bertemu dalam satu rentang waktu yang sama. Sebuah perjumpaan yang, dalam terang iman, dapat kita maknai bukan sekadar peristiwa astronomi, tetapi sebagai undangan untuk semakin menyadari keindahan hidup dalam keberagaman.
Indonesia adalah rumah bersama. Di dalamnya hidup berbagai suku, budaya, dan agama yang masing-masing memiliki cara tersendiri dalam merayakan iman. Namun di balik perbedaan itu, tersimpan kerinduan yang sama: hidup dalam damai, saling menghormati, dan berjalan bersama sebagai saudara.
Nyepi mengajak umat memasuki keheningan, menata kembali relasi dengan diri sendiri, sesama, dan alam semesta. Idulfitri menjadi momentum untuk kembali ke fitrah, membuka hati untuk saling memaafkan. Sementara itu, Tri Hari Suci menghadirkan kisah agung tentang kasih Allah yang total kasih yang melayani, berkorban, dan akhirnya menang dalam kebangkitan.
Tri Hari Suci diawali dengan Kamis Putih, yang mengenang Perjamuan Terakhir Yesus bersama para murid-Nya. Dalam peristiwa ini, Yesus tidak hanya memberikan Ekaristi sebagai tanda kehadiran-Nya, tetapi juga memberikan teladan kasih yang nyata melalui tindakan membasuh kaki para murid. “Jadi jikalau Aku, Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu” (Yohanes 13:14).
Tindakan ini mengandung makna yang sangat dalam. Yesus menunjukkan bahwa kasih sejati selalu hadir dalam kerendahan hati dan pelayanan. Ia tidak menempatkan diri di atas, melainkan justru merendahkan diri demi sesama. Dalam kehidupan sehari-hari, semangat ini menjadi panggilan bagi kita semua.
Di tengah masyarakat yang beragam, pelayanan menjadi bahasa universal yang melampaui perbedaan. Ketika kita membantu, peduli, dan hadir bagi sesama tanpa melihat latar belakangnya, di situlah kasih Allah menjadi nyata.
Perjalanan iman kemudian membawa kita pada Jumat Agung, saat kita mengenangkan sengsara dan wafat Yesus di kayu salib. “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yohanes 15:13). Di atas salib, Yesus memperlihatkan kasih yang total. Bahkan dalam penderitaan-Nya, Ia masih mampu berkata, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34).
Jumat Agung mengajarkan bahwa kasih sejati tidak berhenti pada saat segalanya mudah. Kasih justru diuji ketika kita menghadapi penderitaan, ketidakadilan, dan luka. Dalam kehidupan nyata, setiap orang memiliki salibnya masing-masing. Namun melalui iman, salib itu tidak menjadi akhir, melainkan jalan menuju kehidupan.
Dalam konteks kehidupan berbangsa, semangat pengorbanan dan pengampunan ini sangat relevan. Perbedaan tidak jarang menimbulkan gesekan. Namun jika setiap pribadi mampu mengampuni dan berkorban demi kebaikan bersama, maka damai akan tumbuh dengan sendirinya.
Puncak dari seluruh rangkaian ini adalah Paskah, perayaan kebangkitan Kristus. “Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit” (Lukas 24:6). Kebangkitan Kristus menjadi tanda kemenangan kehidupan atas kematian, terang atas kegelapan, dan harapan atas keputusasaan. Paskah mengajak kita untuk percaya bahwa tidak ada penderitaan yang sia-sia, dan tidak ada kegelapan yang tidak dapat diterangi.
Rasul Paulus menegaskan: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru” (2 Korintus 5:17). Ini adalah undangan untuk memulai hidup yang baru—hidup yang dipenuhi kasih, kejujuran, dan kepedulian. Dalam kehidupan bersama, semangat Paskah menjadi kekuatan untuk membangun harapan. Kita dipanggil untuk menjadi pembawa terang di tengah dunia yang sering diliputi kecemasan dan perpecahan.
Pertemuan antara Nyepi, Idulfitri, dan Paskah pada tahun ini menyampaikan pesan yang sangat kuat. Meskipun berasal dari tradisi yang berbeda dan menggunakan sistem penanggalan yang tidak sama, semuanya mengarah pada pembaruan hidup. Keheningan, pengampunan, dan kebangkitan adalah jalan-jalan spiritual yang berbeda, tetapi bermuara pada tujuan yang sama: menjadi manusia yang lebih baik. Inilah kekuatan Indonesia.
Kita tidak diseragamkan, tetapi dipersatukan. Kita tidak dihapuskan perbedaannya, tetapi dirangkul dalam semangat persaudaraan. Toleransi bukan sekadar hidup berdampingan, tetapi keberanian untuk saling menghargai dan merawat kebersamaan.
Tri Hari Suci pada akhirnya adalah sebuah perjalanan iman yang mengubah hati. Dari kasih yang melayani, menuju kasih yang berkorban, hingga kasih yang menghidupkan. Momentum perjumpaan dengan Nyepi dan Idulfitri semakin memperkaya makna tersebut. Kita semua diajak untuk berhenti sejenak, membersihkan hati, saling memaafkan, dan memulai hidup yang baru.
Di tengah dunia yang penuh tantangan, kita dipanggil untuk menjadi pembawa damai. Membawa harapan di tengah keputusasaan, membawa terang di tengah kegelapan, dan membawa kasih di tengah perbedaan. Semoga perayaan ini tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi sungguh mengubah cara kita hidup menjadi pribadi yang lebih peduli, lebih mengasihi, dan lebih terbuka terhadap sesama.
Melalui perayaan ini, kita semua apa pun latar belakang iman kita semakin diteguhkan untuk hidup dalam kasih, membangun persaudaraan, dan merawat Indonesia sebagai rumah bersama yang damai dan penuh berkat. “Selamat Paskah 2026, Semoga terang kebangkitan Kristus menyertai setiap langkah dan membawa damai dalam hidup kita”. (Yohanes Sudarna, S.Pd,M.M. Guru SMP Marsudirini Maria Goretti Semarang)












