Opini  

Menjelajah Timur Jogja: Dari Candi ke Dapur Desa

Noval Hanan Irianto, Arsitek dan Pegiat Wisata Desa. (Foto: Dok Pribadi)

bernasnews — Pagi itu, sebuah mobil Volkswagen tua melaju pelan di jalan desa kawasan Candi Prambanan. Di kiri kanan, hamparan sawah terbuka, diselingi rumah-rumah warga yang mulai beraktivitas.

Seorang wisatawan turun, bukan untuk berfoto cepat, tetapi duduk di teras rumah, menyeruput teh hangat, dan berbincang. Di momen seperti itulah, wisata tidak lagi hanya sekadar kunjungan, melainkan pengalaman yang tinggal (membekas).

Di tengah pariwisata yang kian padat dan seragam, ada ironi: semakin banyak tempat dikunjungi, semakin sedikit yang benar-benar dikenali. Wisata berubah menjadi daftar centang. Namun di timur Jogja, ada lanskap yang menawarkan jeda, cara melihat yang lebih pelan, dekat, dan lebih manusiawi.

Wilayah ini membentang dari Prambanan hingga desa-desa di Klaten dan Sleman timur. Ia bukan sekadar destinasi, melainkan jejak hidup peradaban Mataram Kuno yang masih berdenyut dalam lanskap budaya hari ini.

Arus kunjungan ke kawasan ini menunjukkan daya tarik yang tidak surut. Dalam periode libur, jumlah wisatawan dapat mencapai ratusan ribu orang, dengan lonjakan tinggi di waktu puncak. Klaten sebagai penyangga bahkan mencatat jutaan kunjungan dalam setahun.

Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi tanda bahwa ruang ini hidup sekaligus diuji: menjadi titik singgah, atau ruang yang memberi makna.

Jejak Mataram Kuno

Kita mengenal Prambanan sebagai ikon. Namun, di balik itu, tersebar situs-situs seperti Candi Plaosan, Candi Sojiwan, hingga Candi Ijo yang menawarkan pengalaman berbeda: lebih sunyi, lebih reflektif, dan lebih intim.

Sebagai arsitek, saya melihat kawasan ini bukan sekadar kerumunan objek wisata, melainkan sebuah sistem ruang yang utuh. Candi, desa, persawahan, dan jalur pergerakan membentuk satu kesatuan lanskap yang saling terhubung.

Di sinilah warisan Mataram Kuno tidak hanya terbaca sebagai masa lalu, tetapi sebagai struktur ruang yang masih bekerja hingga kini. Wisata, dalam konteks ini, seharusnya tidak memisahkan elemen-elemen itu, tetapi justru merangkainya kembali.

Wisata Desa dan UMKM

Namun, di balik besarnya angka kunjungan tersebut, pertanyaan penting muncul: sejauh mana manfaatnya benar-benar dirasakan desa?

Di Kabupaten Klaten, geliat ekonomi lokal ditopang oleh ribuan pelaku UMKM yang tersebar di desa-desa. Mereka hadir dalam bentuk warung rumahan, pengrajin, hingga produsen olahan pangan tradisional. Di tangan merekalah pengalaman wisata menemukan konteksnya.

Salah satu praktik yang menarik dapat dilihat melalui inisiatif “Prambanan Village Tour”. Program ini menawarkan berbagai pilihan paket, mulai dari rute pendek, menengah, hingga panjang, yang memungkinkan wisatawan menyesuaikan kedalaman pengalaman.

Dalam paket singkat, wisatawan dapat menyusuri desa dan singgah di beberapa UMKM. Dalam paket yang lebih panjang, perjalanan berkembang menjadi pengalaman imersif: berinteraksi dengan warga, belajar produksi, hingga menikmati ritme hidup desa secara utuh.

Dalam satu rute, wisatawan dapat berkunjung ke rumah-rumah produksi emping melinjo, belajar membatik di halaman rumah para warga, hingga singgah di dapur-dapur sederhana yang justru menjadi pusat pengalaman yang bermakna.

Sepiring nasi wiwit, sayur lodeh, dan secangkir teh hangat yang disajikan di beranda bukanlah sekadar hidangan. Ia adalah identitas budaya, sekaligus simpul dalam rantai ekonomi desa. Dari bahan baku, proses memasak, hingga penyajian, semua melibatkan tangan-tangan lokal. Kuliner, dalam konteks ini, bukan hanya soal rasa, tetapi distribusi nilai.

Perjalanan ini bisa ditempuh dengan berbagai cara. Mobil klasik Volkswagen membawa nuansa retro yang santai, sepeda menghadirkan kedekatan dengan lanskap desa, sementara andong, dan gerobak, memberi pengalaman yang lebih membumi.

Moda transportasi ini bukan hanya sekadar alat, tetapi bagian dari narasi ruang, memperlambat perjalanan agar wisatawan tidak hanya lewat, tetapi benar-benar hadir dan bermakna.

Model wisata seperti ini seharusnya menjadi jawaban atas paradoks pariwisata hari ini. Ketika arus besar wisata terpusat di satu titik, desa-desa di sekitarnya tidak boleh hanya menjadi latar. Karena itu, pengembangan wisata desa harus bergeser dari logika promosi ke logika distribusi.

Arus kunjungan perlu dirancang agar mengalir ke desa-desa, bukan berhenti di ikon. UMKM perlu diperkuat agar tidak hanya menjual produk, tetapi pengalaman. Dan yang tidak kalah penting, komunitas lokal harus ditempatkan sebagai pemilik, bukan sekadar pelaksana.

Jika tidak, kita hanya akan mengulang pola lama: pariwisata yang tumbuh di atas ruang, tetapi tidak tumbuh bersama ruang.

Di tengah tren global yang semakin mencari pengalaman yang otentik dan personal, pendekatan ini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Timur Jogja telah memiliki semua prasyaratnya: sejarah, lanskap, dan manusia. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengelolanya dengan perspektif yang lebih adil.

Menjelajah timur Jogja pada akhirnya bukan hanya soal berpindah lokasi, tetapi mengubah cara pandang. Sebagai arsitek, saya percaya ruang bukan hanya dibangun, tapi dialami dan dibagikan. Dan pariwisata adalah salah satu cara paling nyata untuk menentukan siapa yang berhak atas pengalaman tersebut.

Jika desa hanya menjadi latar bagi industri wisata, maka kita hanya menggeser economic benefits, tanpa benar-benar menghadirkan keadilan. Namun jika desa menjadi subjek, maka pariwisata dapat menjadi alat distribusi, bukan sekadar eksploitasi.

Pada akhirnya, pariwisata bukan hanya soal perjalanan, tetapi tentang siapa yang diberi ruang untuk bertumbuh, dan siapa yang hanya hadir sebagai latar. (Noval Hanan Irianto, Arsitek dan Pegiat Wisata Desa)