Opini  

Menikmati Naik Kereta Api Night Jet OBB dari Munich ke Amsterdam

Fasilitas di dalam kereta api Night Jet OBB bed bertingkat dengan meja kerja dan kamar mandiri dalam. (Foto : Kiriman dr. Asdi Yudiono)

bernasnews – Jerman bersuhu dingin 2 derajat Celcius disertai gerimis rintik dan berkabut. Rasanya malas keluar kamar, selimut tebal tetap menemaniku hingga pukul 9.00 Waktu Jerman atau pukul 15.00 WIB. Ini adalah bagian akhir dari perjalanan kami sejak di Amsterdam (5/3/2026), kemudian Lourdes Perancis (8-9/3), dan Munich Jerman (10/3). Total delapan hari dalam wisata keluarga di Eropa dengan isteri Yovita dan anak kami Dion yang studi di Jerman.

Hampir lupa kalau restaurant hotel untuk breakfast ditutup sampai pukul 10.30. Yeah, sehabis mandi langsung turun di ruang makan samping resepsionis. Sudah lengkap menu Eropa dan India, dan seperti kebanyakan masyarakat kita mencari Sop Empal Mbak Yoeni atau Soto Pak Marto jelas tidak ada. Kenyang dan siap jalan-jalan naik ke bukit utara hotel kami, karena ada kereta gantung sekitar 1 km jalan kaki yang lumayan menanjak.

Schliersberg-Seilbahn Talstation berada di ketinggian bukit dan di sana ada restaurant dan pemandangan yang indah melihat danau yang telah kami kunjungi sebelumnya. Hati benar-benar fresh dari rutinitas kami dalam pelayanan kesehatan di Yogyakarta. Setelah berfoto ria, kami segera turun dengan kereta gantung yang selalu bergantian naik turun sepanjang waktu operasionalnya. Selanjutnya kami berjalan dengan menuruni aspalan sepi dan matahari mulai menengok kami di pukul 12.30 waktu setempat.

Lapar lagi? Hadeh, belanja lagi dan berhemat Euro dengan memasak di ruangan dapur paviliun hotel kami yang memang sebagai fasilitas bagi tamu Hotel Karma di seluruh dunia. Steak ayam, kentang goreng dan tomat sudah dirasa cukup mengisi perut kami ke Munich lanjut Amsterdam malam ini.

Sambil mengisi waktu, kami bermain bowling dan menghangatkan diri dengan berendam whirlpool di sekitar kolam renang hotel. Kami persiapan ke Stasiun Schlier 5 menit dari hotel.

Jumat (15/3/2026) melepas malam di Kereta Night Jet OBB dari Munich ke Amsterdam. Pukul 23.00 waktu setempat, kereta malam antarnegara (Night Jet OBB namanya) membawa kami sepanjang malam melewati wilayah Negara Bagian Bavaria dari wilayah pegunungan menuju dataran rendah Amsterdam di bagian barat lautnya.

Selama 13 jam perjalanan kami lalui di dalam bilik kamar dengan bed bertingkat bagaikan anak kos, termasuk kamar mandi dan wc di dalam kamar dan meja kerja. Pokoknya persis anak kos atau hotel kapsul yang banyak diminati turis back packer.

Semalam kami lalui dengan tidur cukup, meskipun bed sempit tapi dapat menselonjorkan kaki yang penat karena kemana-mana selalu jalan kaki dengan rata-rata 14 ribu langkah. Oya, ada kejadian tidak sengaja tungkai kaki kanan saya terbentur ujung bed di Hotel Karma Bavaria sesaat sebelum kami berangkat ke Stasiun Schlier. Luka lumayan perih dan berdarah. Untung ada P3K, Hansaplast solusinya, lumayan mengatasi luka. Meskipun demikian, luka tadi sedikit menghambat langkah kaki kananku.

Kami mengeluarkan harga tiket kereta ini sebesar 2 kali 150 Euro, dengan fasilitas menginap di kereta, sehingga dapat mengurangi budget penginapan yang lumayan mahal. Cerdas betul anakku Dion yang mengatur semua jadual selama liburan ini. Tugas Papanya jadi ringan sekedar ngikut saja, Tut Wuri Handayani.

Setibanya di Stasium Central Amsterdam kami naik Metro ke Ibis Hotel Schipol dekat Bandara, maksudnya agar Sabtu (14/3) kami lebih mudah aksesnya ke Bandara Schipol untuk penerbangan kembali ke tanah air.

Jumat sore kami pergunakan kesempatan belanja di Pusat Pertokoan Damrak Amsterdam untuk beli oleh-oleh. Malamnya kami melepas akhir liburan kali ini di Hotel Ibis Bandara Schipol dan Sabtu pagi kami langsung terbang kembali ke tanah air. Direct Flight Garuda Amsterdam ke Cengkareng). Bersyukur semua dilancarkan dan diberkati Tuhan semua acara dari awal sampai dengan selesai.

Terima kasih buat istri dan semua anak tercinta yang mengerti dan memahami seorang Papa yang tentunya berharap agar kebahagiaan seorang Suami dan Ayah tidak dilihat seberapa banyak harta, tapi sejauh mana dapat membuat kalian bahagia dan terberkati dalam NamaNya.

Khusus untuk Dion yang berkarya jauh di negeri orang, juga Dimas, Ajeng, Visya dan Revi yang menjadi kebanggaan dan harapan Papa Mama, mumpung masih mampu dan kuat fisiknya, ingin bersama menikmati kebagiaan keluarga bersama. SEHAT ITU MENYENANGKAN, dan SENANG ITU MENYEHATKAN.

Sabtu pagi yang dingin, sekitar 3 derajat Celcius, dari Hotel Ibis Style kami diantar menggunakan Shuttle Bus ke Schipol Airport dengan jarak tempuh 15 menit. Penuh sesak tamu hotel yang bertujuan sama ke bandara. Setibanya di bandara ini, kami melakukan drop bagasi di Counter Garuda Indonesia, lancar dan selanjutnya akan menuju pemeriksaan dan imigrasi.

Perjumpaan pasti ada perpisahan, Dion kembali ke Koln Germany naik bis dan kami kembali ke tanah air. Pelukan kasih sayang orangtua dan anak pasti memberi kenangan yang tidak terlupakan, rasanya waktu delapan hari bersama di sini terasa cepat berlalu.

Pukul 10.05 Waktu Amsterdam kami boarding dan Pesawat Garuda Indonesia Boeing 777 Seri 300 ER yang terbang selama 15 jam menuju Bandara Soekarno Hatta di Cengkareng. Kami melanjutkan perjalanan darat dari Cengkareng ke Yogyakarta bersama Kakaknya Dion (Ajeng) beserta suami dan anaknya (Viviane) cucu kami yang lucu dan menggemaskan. (mar/dr. Asdi Yudiono, Pimpinan Klinik INTAN Yogyakarta)