bernasnews – Peristiwa pada tanggal 11 Februari 1858 itu sungguh mulia dan memberikan makna mendalam khususnya bagi umat Katolik. Yakni ketika Bunda Maria menampakkan diri kepada seorang gadis desa Bernadette Soubirous (14 tahun) di Gua Massabielle, pinggir Sungai Gave. Gadis remaja itu mengaku melihat Bunda Maria sebanyak 18 kali. Bernadette kemudian menjadi biarawati, wafat pada 1879 dan dinyatakan Santa tahun 1933.
Kami sekeluarga, saya Asdi Yudiono, isteri Yovita dan anak Dion selama dua hari, Minggu- Senin (8-9/3/2026) berada di Lourdes, Perancis telah berkunjung ke tempat-tempat penting yang semaksimal mungkin lengkap bagi peziarah Katolik.
Beberapa tempat yang dikunjungi oleh peziarah Katolik di Lourdes antara lain Gua Maria Alam (Marian Cave) yakni tempat di mana Bunda Maria diyakini telah muncul kepada Santa Bernadette Soubirous.
Pada hari Minggu (8/3) kami mengikuti Misa Ekaristi di Gua Maria Alam (Marian Cave) dengan Bahasa India, diiringi hujan rintik-rintik dan suhu 4 derajat C. Pada hari Senin (9/3) kami ikut misa dengan bahasa Italia. Gua ini sekarang menjadi tempat ziarah Katolik terkenal dan dikunjungi oleh jutaan orang setiap tahun.
Kemudian Basilika St. Mary (Basilika Bunda Maria dari Lourdes) : gereja yang dibangun pada tahun 1853 atas perintah Bunda Maria di atas Marian Cave; Basilika Rosari : gereja yang terletak di bawah Basilika St. Mary; Basilika St. Pius X : gereja yang terletak di bawah tanah, dapat menampung hingga 25.000 orang.
Selain itu, Air Mata Air (Spring) : sumber air yang diyakini memiliki khasiat penyembuhan; Tempat Pembaptisan Santa Bernadette: tempat di mana Santa Bernadette dibaptis; Museum Santa Bernadette: museum yang menceritakan kisah hidup Santa Bernadette dan penampakan Bunda Maria,. Kami nonton film 40 menit tentang kisah Bernadette dan Lourdes. Kemudian ada Jalan Salib (Way of the Cross) yakni jalur yang dilalui oleh peziarah untuk melakukan doa dan refleksi.
Piscines juga kami kunjungi dengan antrian detik-detik terakhir, karena tutup pukul 15.30 pada hari Minggu. Piscines di Lourdes adalah kolam-kolam air yang diisi dengan air dari mata air (Spring) yang diyakini memiliki kasiat penyembuhan. Peziarah Katolik datang ke Lourdes untuk mandi di kolam-kolam ini, berharap mendapatkan kesembuhan fisik dan spiritual.
Ada beberapa piscines di Lourdes termasuk Piscines St. Bernadette, kolam yang terletak di dekat Gua Maria Alam; Piscines St. Joseph : kolam yang terletak di Basilika St. Mary. Mandi di sini adalah salah satu tradisi yang popular di Lourdes.
Kemudian Bougier di Lourdes adalah area di mana peziarah dapat menyalakan lilin sebagai simbol doa, pengorbanan, dan ucapan syukur. Lilin-lilin ini biasanya diletakkan di rak-rak yang telah disediakan dan peziarah dapat memilih lilin dengan berbagai ukuran dan warna. Lilin-lilin yang dinyalakan diyakini dapat membantu mengantar doa-doa mereka kepada Bunda Maria. Kami juga menyalakan lilin di sini.
KOTA KECIL YANG TERKENAL
Lourdes, kota kecil di kaki Pegunungan Pirenia, Perancis selatan menjadi terkenal setelah peristiwa penampakan Maria dan kemudian menjadi tempat ziarah Katolik terbesar di dunia. Sebelum tahun 1858, Lourdes hanya kota kecil dengan penduduk kurang lebih 4.000 orang.
Setelah penampakan Bunda Maria, dibangun Sanctuaire Notre-Dame de Lourdes yakni kompleks Basilika dan gua. Kini tempat ziarah itu dikunjungi 5-6 juta orang/tahun, terutama mereka yang sakit, mencari kesembuhan, dan berdoa.
Pada peristiwa penampakan itu, Bunda Maria memperkenalkan diri (dalam dialek setempat) : “Que soy era Immaculada Councepciou” atau “Akulah Dikandung Tanpa Noda” (dogma Immaculate Conception yang baru dideklarasikan 4 tahun sebelumnya).
Di salah satu penampakan, Bernadette disuruh menggali tanah dan kemudian keluar mata air yang sampai kini mengalir. Banyak peziarah percaya air itu punya khasiat penyembuhan. Gereja Katolik resmi mengakui 70 mukjizat medis “tak terjelaskan”.
Di Sanctuaire Notre-Dame de Lourdes ada tiga basilika utama yang bertumpuk di atas gua penampakan. Ketiga basilika itu adalah : Basilika Immaculée Conception (Basilika Atas). Dibangun paling awal (selesai 1871), gaya Neo-Gotik, langsung di atas Gua Massabielle, tempat relikui dan altar utama.
Kemudian Basilika Notre-Dame du Rosaire (Basilika Rosario/Bawah). Selesai dibangun tahun 1889, gaya Bizantium-Roma dengan mosaik mahkota Bunda Maria. Kapasitas besar untuk misa peziarah. Selanjutnya, Basilika Saint Pius X (Basilika Bawah-Tanah). Selesai dibangun tahun 1958 (100 tahun penampakan), bangunan beton bawah tanah, bentuk seperti kapal terbalik, muat sekitar 25.000 orang. – Dipakai untuk misa internasional dan prosesi musim dingin. Ada juga Église Sainte Bernadette (gereja modern 1988 di seberang sungai), tapi statusnya gereja, bukan basilika.
DULU BANYAK KRUK DI DINDING GUA
Pada zaman dahulu sekitar tahun 1800-an sampai sekitar pertengahan abad ke-20, banyak kruk, tongkat dan alat bantu jalan digantung atau ditaruh di dinding gua sebagai tanda syukur setelah peziarah merasa disembuhkan.
Benda-benda itu disebut “ex-voto” yaitu tanda terima kasih kepada Bunda Maria atas rahmat yang diterima. Dalam foto-foto lama terlihat dinding gua penuh kruk kayu, bahkan sampai bertumpuk di pagar dan batu di samping gua. Pada masa lalu, jumlahnya dapat ratusan sampai ribuan kruk, sehingga dinding gua hampir tertutup alat bantu jalan Sekarang benda-benda seperti itu sudah tidak dipasang lagi di gua, tetapi disimpan atau dipindahkan. Dengan demikian, peziarah dapat lewat dan berdoa lebih mudah.
Hari Senin (9/3) pukul 12.40 waktu Lourdes kami ceck out dari Hotel Christ Roi naik taxi dengan tarif umum 30 Euro drop ke Stasiun Lourdes. Kami kemudian menuju ke Kota Toulous yang terkenal sebagai pabrik pesawat Boeing. Selanjutnya kami naik kereta bandara ke Bandara Toulouse menuju Munich pukul 18.30.
Kereta antarkota yang kami tumpangi terlambat 40 menit dan sepanjang perjalanan ke Toulous sepi karena hari Senin dan bukan jam sibuk. Setibanya di Kota Toulous kami bergegas mencari terminal bus yang berjarak 100 meter dari stasiun kereta api yang akan mengantar kami ke Airport Blagnac yang berjarak 20 km dan ditempuh dalam waktu 30 menit.
Bandara Blagnac Toulous sangat ketat sekali pemeriksaan xray-nya. Bilamana ada cream atau cairan wajib dimasukkan plastik klip. Beda dengan bandara di Asia. Maka banyak penumpang yang belum mengenal regulasi ini akan melewatkan waktu lebih di bagian pemeriksaan. Juga ada detektor secarik kertas kecil yang didekatkan di bagian-bagian sekat tas atau hand cary untuk mendeteksi benda-benda yang membahayakan. Alat detektor itu akan mengeluarkan sinyal aman tidaknya. Kami kemudian berada di gate 50 menanti pesawat Lufthansa yang akan membawa kami ke Munich, Jerman. (mar/dr. Asdi Yudiono, Pimpinan Klinik INTAN Yogyakarta)












