bernasnews — Yogyakarta sejak lama akrab dengan langkah pelan. Di kota ini, perjalanan tidak semata soal jarak, melainkan pengalaman. Di sepanjang Malioboro, di sudut-sudut kawasan wisata, becak telah lama menjadi bagian dari cara Yogya menyapa: sederhana, dekat, dan manusiawi.
Maka ketika becak listrik mulai hadir di ruang pariwisata, ia membawa lebih dari sekadar teknologi baru. Ia menghadirkan harapan, sekaligus pertanyaan. Harapan akan moda yang lebih ringan bagi pengemudi dan lebih ramah bagi lingkungan. Pertanyaan tentang bagaimana perubahan ini menyatu dengan ritme kota yang telah lama terbentuk.
Di Yogyakarta, setiap inovasi jarang berdiri sendiri. Ia selalu bersentuhan dengan ingatan kolektif, dengan ruang hidup warga, dan dengan keseimbangan yang telah lama dijaga secara sosial.
Ritme yang Tak Tergesa
Bagi wisatawan, becak adalah pengalaman khas. Sebuah perjalanan singkat yang sering kali menghadirkan percakapan ringan, senyum tulus, dan sudut-sudut kota yang terasa lebih dekat. Ada kehangatan yang lahir bukan dari mesin, melainkan dari interaksi manusia.
Bagi para pengemudi, becak adalah ruang hidup yang bergerak. Di sanalah penghidupan digantungkan, cerita dikayuh, dan hari-hari dijalani dengan kesabaran yang nyaris tak terlihat.
Becak listrik kemudian datang membawa semangat baru. Secara ekologis, gagasan ini terasa selaras dengan arah transisi energi. Institute for Essential Services Reform (IESR) dalam Indonesia Energy Transition Outlook 2023 mencatat bahwa sektor transportasi menyumbang sekitar 27 persen emisi energi nasional, dengan dominasi moda darat.
Angka tersebut memberi pengingat bahwa perubahan moda transportasi, sekecil apa pun, memiliki makna dalam percakapan besar tentang lingkungan. Namun di Yogyakarta, ritme kota mengajarkan bahwa perubahan tidak hanya dinilai dari tujuannya, tetapi juga dari cara ia hadir.
Hijau yang Tak Sekadar Warna
Lingkungan perkotaan tidak semata berbicara tentang energi dan emisi. Ia juga menyangkut keberlanjutan ekonomi, rasa aman sosial, dan stabilitas penghidupan warga.
Prof. Dr. Sudarmadji, guru besar di Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang kerap terlibat dalam diskusi tentang pengelolaan lingkungan dan keberlanjutan, menegaskan pentingnya melihat isu lingkungan secara menyeluruh.
Keberlanjutan, dalam pandangan semacam ini, tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis dan ekologis, tetapi juga dengan konteks sosial serta kehidupan masyarakat yang mengalaminya.
Dalam konteks ini, becak kayuh sendiri sesungguhnya telah lama menjadi moda yang sangat rendah emisi. Ia digerakkan oleh tenaga manusia, menghadirkan dampak lingkungan yang nyaris tak terasa.
Becak listrik tentu menawarkan kenyamanan baru, tetapi pertanyaan ekologis yang lebih jernih pun muncul: apakah ia sepenuhnya lebih hijau, atau sekadar bentuk adaptasi teknologi atas moda yang sejak awal telah ramah lingkungan?
Pertanyaan semacam ini bukan untuk menolak inovasi, melainkan untuk menempatkannya secara lebih proporsional. Teknologi selalu menghadirkan peluang, tetapi juga membawa konsekuensi yang tak seluruhnya teknis. Ia bersentuhan dengan kebiasaan, biaya, serta kemampuan sistem pendukung di lapangan.
Di tingkat praktis, dimensi ekonomi pengemudi menjadi tak kalah penting. Teknologi baru berarti ketergantungan baru: baterai, perawatan teknis, biaya operasional, hingga ketahanan perangkat yang tak selalu sederhana. Skema kepemilikan pun menjadi bagian dari percakapan yang jarang terdengar.
Apakah pengemudi memiliki kendaraan, menyewa, atau berada dalam pola kemitraan tertentu, menjadi faktor yang menentukan apakah inovasi benar-benar meringankan, atau justru menambah lapisan beban yang sunyi.
Di sinilah ekologi kota menemukan maknanya yang lebih luas: bukan sekadar mengurangi jejak karbon, tetapi juga menjaga keseimbangan kehidupan sosial dan ekonomi yang telah lama menopang kota.
Merawat Cara, Bukan Hanya Arah
Yogyakarta tidak asing dengan perubahan. Kota ini terus bergerak, beradaptasi, dan berdialog dengan zaman. Namun Yogyakarta juga dikenal karena kemampuannya merawat suasana, menjaga agar yang baru tidak serta-merta menyingkirkan yang lama.
Modernitas di kota ini kerap diuji bukan pada kecepatannya, melainkan pada kesanggupannya menghormati kehidupan sehari-hari warganya.
Becak listrik dapat menjadi bagian dari perjalanan itu. Ia bisa hadir sebagai alat bantu yang mempermudah, bukan simbol yang mendominasi. Ia dapat memperkaya pengalaman kota tanpa mengganggu wataknya. Karena pada akhirnya, yang membuat Yogyakarta tetap istimewa bukan semata apa yang berubah, melainkan bagaimana perubahan itu dijalankan dengan kepekaan.
Kota yang matang tidak selalu terlihat dari percepatan inovasi, tetapi dari kebijaksanaan dalam menempatkan perubahan secara wajar. Sebab di Yogyakarta, kemajuan yang paling berharga bukan yang paling cepat terlihat, melainkan yang paling halus terasa. Ketika yang hijau berjalan beriringan dengan yang bijak, tanpa kehilangan wajah manusianya.
Mungkin yang paling penting untuk terus diingat adalah bahwa kota bukan sekadar ruang fisik, melainkan juga ruang rasa. Setiap kebijakan yang tampak teknis sesungguhnya selalu berjejak sosial.
Di sanalah kehati-hatian menemukan maknanya: menjaga agar perubahan tidak hanya terasa maju, tetapi juga terasa adil dan manusiawi.
Pelan bukan berarti menolak zaman, melainkan cara Yogya merawat keseimbangan hidup. (Noval Hanan Irianto, Arsitek, Penulis, Pegiat Dialektika Kota, dan Ruang Sosial}











