Opini  

Ketika Puisi Menjaga Bumi Lewat Kata-kata

Dr. Novi Siti Kussuji Indrastuti, M.Hum, Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya UGM & Ketua Kagama Poetry Reading. (Foto: Dok. Pribadi)

bernasnews — Pada bulan-bulan terakhir, halaman-halaman berita dipenuhi dengan peristiwa banjir, kebakaran hutan yang kembali muncul, serta udara dan air yang sarat polusi. Angka-angka dan laporan konferensi tentang perubahan iklim silih berganti, tetapi ada kegelisahan lain yang diam-diam tumbuh,  yakni bagaimana jika semua itu sebenarnya adalah bahasa bumi yang sedang mengeluh, sebuah peringatan yang sedang kita abaikan.

Di tengah situasi global yang menegaskan komitmen pada Sustainable Development Goals (SDGs), tentang kesehatan, pendidikan, ekosistem, keadilan, dan keberlanjutan, pertanyaan itu tidak bisa dihindari. Semua tujuan besar tersebut pada akhirnya bertemu pada satu titik sederhana, yakni manusia harus belajar hidup berdampingan secara selaras dengan alam.

Persoalannya, bagaimana caranya menghidupkan kembali empati kita pada bumi, ketika pikiran sehari-hari sudah penuh sesak dengan kesibukan dan tuntutan hidup?

Di titik itulah, puisi masuk dengan caranya yang bijak. Puisi tidak berteriak, tetapi mengajak kita berhenti sejenak. Ia membuat kita menengok keluar jendela, lalu menengok ke dalam jiwa. Jika laporan ilmiah menyodorkan fakta, puisi menawarkan rasa.  Jika kebijakan bicara strategi, puisi menyentuh nurani.

Tanpa empati, krisis lingkungan hanya tinggal deretan grafik. Dengan empati, ia berubah menjadi tanggung jawab moral dan dari moral itulah tindakan akan lahir.

Sebagai contoh, pengalaman semacam itu tampak jelas ketika membaca antologi puisi karya anggota komunitas “Kagama Poetry Reading”, yang berjudul Ketika Alam Bicara (2025). Antologi ini menghimpun suara para penyair keluarga alumni Gadjah Mada (Kagama) lintas generasi dari berbagai bidang ilmu, dengan gaya, diksi, dan pengalaman yang berbeda-beda.

Namun, perbedaan itu justru bertemu dalam satu kesadaran bahwa bumi sedang terluka dan puisi bisa menjadi cara untuk menyuarakan luka itu sekaligus menyalakan harapan.

Membaca satu demi satu sajak di dalamnya, kita seolah diajak berjalan menyusuri lanskap perasaan. Ada puisi-puisi yang menghadirkan bumi sebagai tubuh yang menderita: “Ini bukan sekadar cuaca tak lazim, ini adalah tubuh bumi yang kejang, ia meronta karena manusia tak mendengar”.

Tanah yang retak, langit yang muram, laut yang menyimpan trauma, semuanya digambarkan seolah-olah memiliki luka dan ingatan sendiri. Imaji itu membuat kita sadar bahwa kerusakan alam bukan sekadar kabar jauh di televisi atau media sosial, melainkan ia menyentuh kehidupan sehari-hari, udara yang kita hirup, sungai yang mengalir di belakang rumah.

Di bagian lain, suara para penyair terdengar seperti protes yang ditahan. Mereka mempertanyakan keserakahan, menyoroti tambang yang merusak, kebijakan yang seolah membiarkan lingkungan menjadi korban, serta plastik yang menumpuk: “ubur-ubur berdansa dengan kantong plastik, sampah adalah tamu yang tak mau pergi, laut tak pernah bisa menolak siapapun”.

Namun protes melalui puisi itu tidak kasar. Ia hadir sebagai ironi, sebagai satire yang pelan, tetapi menohok, semacam panggilan agar kita tidak lagi memandang alam hanya sebagai komoditas.

Menariknya, banyak pula puisi yang memilih berbicara melalui doa. Di sini alam kembali diposisikan sebagai sesuatu yang sakral, bukan sekadar “sumber daya”. Ada hubungan yang lembut antara manusia, tanah, dan Yang Ilahi, hubungan yang kerap terlupakan dalam narasi pembangunan modern. Dalam sudut pandang ini, menjaga alam bukan semata urusan teknis, melainkan bagian dari etika spiritual, sebuah laku syukur.

Perubahan iklim hadir dengan cara yang lebih intim. Ia tidak dijelaskan melalui istilah ilmiah, tetapi melalui pengalaman sehari-hari.  Misalnya, mendung yang datang di waktu yang salah, panas yang terasa menyengat, musim yang tiba-tiba tak menepati janji.

Di situ, puisi mengajari kita membaca tanda bahwa mungkin bumi sedang berusaha bicara, hanya saja manusia terlalu sibuk untuk mendengar.

Namun antologi ini tidak hanya berisi kepedihan. Banyak puisi yang merayakan keindahan alam, seperti laut yang lapang, pegunungan yang agung, senja yang jatuh perlahan. Keindahan itu memberi alasan mengapa bumi patut diperjuangkan.

Kita menjaga alam bukan semata karena takut bencana, melainkan karena kita mencintainya. Ada kebahagiaan sederhana yang lahir dari desir angin, bau tanah basah, atau nyanyian ombak.  Dalam hal ini, puisi membantu kita mengingatnya.

Pada akhirnya, Ketika Alam Bicara bukan sekadar kumpulan sajak. Ia bekerja sebagai arsip kebudayaan, mencatat kegelisahan masyarakat pada zamannya. Ia menjadi media edukasi untuk anak-anak, mahasiswa, komunitas pembaca, dan siapa saja yang ingin memahami isu lingkungan dari sisi yang lebih manusiawi.

Bahkan, dalam kerangka SDGs, antologi ini ikut menopang pendidikan berkualitas, memperkuat kepedulian komunitas, mendorong aksi iklim, serta mengingatkan kita pada pentingnya menjaga kehidupan di darat dan laut. Mungkin puisi tidak bisa menanam seribu pohon, tetapi ia mampu menanamkan kesadaran.

Menyuarakan lingkungan melalui puisi akhirnya mengajarkan sesuatu yang sederhana, yakni bahwa bumi bukan milik kita, melainkan “titipan” yang harus dijaga untuk generasi mendatang yang baru lahir dan belum lahir.

Selama kata-kata masih mampu menggerakkan nurani, harapan itu masih ada. Selama kita masih mau mendengar suara alam, baik melalui gemericik air, desir angin, maupun sebaris puisi, kita masih punya kesempatan untuk berubah. (Dr. Novi Siti Kussuji Indrastuti, M.Hum, Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya UGM & Ketua Kagama Poetry Reading)