Opini  

Berawal dari Cinta, Diundang Memperbarui Janji Perkawinan

Romo L. Dwi Agus Merdi Nugroho, Pr. memberikan ucapan selamat kepada pasutri pada Penjegaran Janji Perkawinan di Gereja Santo Yakobus Bantul DIY, Minggu 14/12/2025. (Foto : Mikhaela Ayudya Margadino)

bernasnews – Kami syukuri Tuhan, karunia terindah yang kami terima dari-Mu, orang-orang tercinta dan mencintai kami dalam rangkuman ikatan kasih keluarga yang kami miliki.

Memang tiada selalu indah tercipta, manakala ketidakpuasan, kecewa, dan derita melanda sehingga sulit bagi kami untuk mensyukuri setiap pribadi yang Kau hadirkan di tengah kami, apabila mengampuni dan menerima mereka apa adanya.

Namun tiada dapat kami ingkari, kebahagiaan dan cinta yang kami temukan di tengah keluarga terasa menguatkan dan menumbuhkan, walau dibalut oleh seribu satu masalah dan peristiwa, keluargalah tempat kami melabuhkan derita.

Semoga kami makin mengalami kasih dan kehadiran-Mu lewat pribadi-pribadi yang Kau anugerahkan di keluarga kami. Sebab segalanya berawal dari cinta dan akan selalu disatukan oleh cinta. Amin.

Demikian beberapa paragraf bagian dari Novena Keluarga Beriman “Berawal dari Cinta” (2002).

Meski kami pasangan suami isteri (pasutri) yang menikah pada bulan November 1982, artinya sudah 43 tahun perjalanan lembaga perkawinan kami, namun Novena Keluarga Beriman itu terasa menyadarkan komitmen dan meneguhkan cinta kami.

Secara pribadi penulis berpendapat bahwa ketika sudah cinta tidak perlu ada alasan lagi untuk menjalani segala sesuatu. Memang terasa mudah untuk mengatakan, namun untuk menjaga konsistensinya butuh perjuangan dari hari ke hari. Maka kembali pada spirit novena itu, semuanya berawal dari cinta dan diharapkan akan selalu disatukan oleh cinta.

Dalam Misa Ekaristi Hari Minggu Adven III Tahun Liturgi A/II di Paroki Gereja Santo Yakobus Bantul DIY, Minggu 14 Desember 2025, kami bersama sepuluh pasutri lain mengikuti Penyegaran Janji Perkawinan. Misa dipimpin oleh pastor paroki setempat, Romo Laurentius Dwi Agus Merdi Nugroho, Pr.

Setelah homili yang memaknai Injil Matius, Romo Merdi lalu mempersilakan pasutri untuk berhadapan dengan pasangannya, berpegangan tangan, dan bergantian mengucapkan janji perkawinan. Kemudian pasutri bersama mengucapkan pembaruan janji perkawinan mereka untuk anak cucu, pemercikan air suci, dan doa untuk pasutri. Romo Merdi juga memberikan seuntai bunga mawar kepada para suami untuk diserahkan kepada isteri masing-masing.

Adapun doa pembaruan janji perkawinan itu adalah sebagai berikut : Allah Bapa sumber segala cinta, pada hari yang bahagia ini saya (suami/isteri) menyatakan kembali janji perkawinan saya di hadapan-Mu di hadapan Imam, dan hadirin sekalian. Saya akan tetap setia kepada isteri/suami saya dalam suka dan duka, dalam untung dan malang, dalam segala keadaan sehat dan sakit, dan segala kelebihan maupun kekurangannya. Tuhan berkatilah niat saya ini dan jadikanlah agar seluruh hidup saya menjadi berkat bagi seluruh anggota keluarga, sekarang sampai selama-lamanya.

Selesai misa ekaristi pagi itu, kami bersama anak dan cucu kemudian pulang. Mantap melangkah ke depan kehidupan yang senantiasa disatukan oleh cinta. Cinta dari Sang Maha Kasih. Bahwa keluarga itu, sebagaimana dikemukakan oleh Paus Fransiskus (2019), adalah Sekolah Cinta Kasih. (Yohanes BM dan Christina EH, Pasutri yang telah 43 tahun menikah, tinggal di Lingkungan Santa Helena, Paroki Gereja Santo Yakobus Bantul DIY)