Opini  

Nyeri Kepala dan Tengkuk pada Anak dan Remaja

Dokter Asdi Yudiono. (Foto : Istimewa)

bernasnews – Pernah mengalami nyeri kepala dan tengkuk? Tidak nyaman ya? Apa sih penyebab dan bagaimana cara mengatasi nyeri kepala dan tengkuk pada anak dan remaja?

Dunia pendidikan saat ini menuntut anak-anak untuk update teknologi digital. Hal ini menyebabkan anak-anak menjadi lebih sering menggunakan gadget untuk belajar. Gadget yang digunakan antara lain HP, tablet, laptop maupun komputer.

Namun apabila menggunakan gadget tidak tepat, dapat menyebabkan kelelahan mata, risiko cedera leher dan bahu, risiko gangguan tidur dan juga gangguan postur tubuh. Lalu bagaimana caranya untuk mengurangi risiko tersebut.

Yuk simak tip berikut ini :

1. Sesuaikan posisi duduk yang nyaman sesuai tinggi badan anak dengan gadget yang digunakan (layar gadged harus berada di ketinggian mata atau sedikit di bawah).

2. Mengatur jarak layar gadget dengan mata kurang lebih 50 – 60 cm.

3. Mengatur posisi punggung harus lurus dan harus dengan sandaran kursi.

4. Posisi tangan harus netral dengan siku sedikit di tekuk dan posisi keyboard harus berada di ketinggian siku.

5. Penggunaan mouse harus berada di dekat keyboard dan dijangkau dengan mudah.

Jangan lupa untuk selalu mengistirahatkan mata setiap 20 – 30 menit dan aturlah kecerahan layar untuk mengurangi kelelahan mata. Pastikan gadget diletakkan di meja aatu permukaan yang stabil dan hindari memegang gadget khususnya HP/tablet secara terus menerus.

Selain penggunaan gadget, penggunaan buku dan alat-alat pendukung yang harus dibawa ke sekolah juga mempunyai adil dalam nyeri bahu atau tengkuk pada anak dan remaja.

Tas punggung anak yang terlalu berat sangat mungkin menyebabkan nyeri punggung, bahu, dan leher karena memberi tekanan berlebih pada otot dan sendi, mengubah postur tubuh (membungkuk), hingga menimbulkan risiko masalah tulang belakang jangka panjang seperti skoliosis. Tanda-tanda umum adalah nyeri, kelemahan, kesemutan di lengan, atau bahu tidak sejajar. Idealnya berat tas tidak lebih dari 10-15% berat badan anak.

Risiko jangka panjang penggunaan tas punggung yang terlalu berat antara lain nyeri punggung kronis, potensi masalah postur seperti skoliosis (tulang belakang melengkung) atau kifosis dan juga gangguan aktivitas sehari-hari dan kecemasan.

Untuk mencegah dan menghindari risiko tersebut sebaiknya membatasi berat tas tidak lebih dari 10-15% berat badan anak. Selain itu, gunakan tali bahu yang lebar dan empuk, serta punggung tas yang empuk untuk kenyamanan. Juga pastikan anak menjaga punggung tetap lurus saat berjalan.

Orang tua berperan penting dalam membantu anak-anak mengembangkan dan mempertahankan kebiasaan postur tubuh yang baik. Menyadari risiko penggunaan ransel berat setiap hari dan faktor-faktor lain terhadap kesehatan tulang belakang anak-anak dan remaja akan membantu orang tua dan guru mengurangi risiko tersebut.

Selain itu, mendorong anak-anak untuk beristirahat, menyesuaikan ketinggian layar, dan mempraktikkan postur tubuh yang baik saat menggunakan perangkat dapat membantu mengurangi risiko ini. Dengan memberikan contoh yang baik dalam penggunaan teknologi mereka sendiri, memberikan arahan, dan menciptakan lingkungan yang mendukung kebiasaan sehat, orang tua dan pengasuh dapat memastikan tulang belakang anak-anak mereka tetap sehat. (mar/Dokter Asdi Yudiono, Pimpinan KLINIK INTAN Yogyakarta).