Opini  

Berangkat dari Kerisauan, “Libreto Mantra” Menyapa Semesta

Bimo Wiwohatmo, Memet Chairul Slamet, dan flyer “Libreto Mantra”. (Foto : Kiriman Joko Santosa)

bernasnews – Kekuasaan ibarat dadah yang membius dan membuat halu. Kekuasaan manusia, menurut filsuf kontemporer Friedrich Nietzsche, adalah kedaulatan menghadapi diri sendiri yang tak sepenuhnya dipahaminya sendiri, manusia lain yang tak selamanya dapat dimengerti, masyarakat yang tak pernah selesai terbentuk, semesta hidup yang tak kunjung tertangkap oleh aksioma.

Kekuasaan, dengan demikian, merisaukan dan membuat giris terutama ketika dalam genggaman orang yang memiliki “libido” hewani dan bertiwikrama menjadi satwa-kuasa. Maka hilanglah seri di paras sang penguasa yang seharusnya menggunakan kekuasaan sebagai piranti migunani tumraping liyan. Bila sirna memanising kang wadana, berarti petaka terjadi di marcapada. Geopolitik akhir-akhir ini amsal nyata betapa kekuasaan melantakkan tatanan semesta. Loba adalah salah satu cara untuk melanggengkan kekuasaan.

Kerakusan purbawi itu yang memantik disharmoni ekonomi dengan ekologi. Ekonomi yang seharusnya sebagai saka guru penting bagi sebuah bangsa dalam upaya memuliakan rakyatnya, malah berubah menjadi ekonomi-hewani dan predator bagi kesejahteraan sesama. Samudra dikuras tapis. Laut dibarikade. Gunung dikepras. Hutan digunduli. Mineral tembaga, nikel, bauksit, timah, kobalt, emas dan bijih besi dikeruk habis-habisan.

Ekologi jadi sekarat mengakibatkan longsor, banjir, rob, kekeringan juga badai serta cuaca ekstrem yang lebih intens. Alam murka, kumpulan mikroorganisme membuat konsorsium untuk “balas dendam” atas keserakahan manusia, dan, nusantara nandang sukerta. Ibu pertiwi mbrebes waspa.

Kisah “LIBRETO MANTRA” yang akan dipentaskan di Tebing Breksi, Gunung Sari, Sambirejo, Sleman, DIY, Kamis (18/12/2025) pukul 19.00 – 21.00 WIB berangkat dari kerisauan. Rapal – saya menyikapinya sebagai doa — tidak harus mengikuti kaidah diksi yang terdiri atas bunyi, imajinasi serta arti. Mantra bukan media mengantar makna. Rapal justru pemahaman itu sendiri, dan ia merdeka.

Mantra dalam libreto berusaha memerdekakan kata dan atau juga kalimat dari penjajahan makna. Ia tidak stagnan pada makna, ia tidak mandek pada frasa, ia nada, suara, irama, bahkan diam. Rapal bukan sekadar proses simbolik, namun juga semiotik. Libreto mantra mengumbar japa-rapal bermain-main dengan dirinya sendiri, menelanjangi dan kadang berseteru lalu pada akhirnya muncul makna tak terpermanai. Tegasnya, mantra adalah keleluasaan imajinasi ekspresi dan interpretasi.

Mengutip Friedrich Nietzsche, dalam epistemologi empiris positif lahir satu pemahaman bahwa bahasa (termasuk rapal) adalah medium komunikasi. Ia ditafsirkan secara naif. Bahasa sekadar diposisikan sebagai (hanya) piranti untuk mengungkapkan pikiran, mengekspresikan katresnan, melakukan persuasi, serta wahana untuk melestarikan pelbagai kearifan dan nilai yang disakralkan oleh komunitas. Barangsiapa datang pada Libreto Mantra, ia siap kecewa: mantra tidak diperlakukan sebagaimana laiknya kalimat yang mempunyai pola intonasi final, dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa.

Memang tidak semua rapal dalam Libreto Mantra diberi sejembar-jembarnya makna. Pada Wulangun ing Tyas, “Teka welas arep marang ingsun, Asih arsa karsaning Gusti”, frasa ini utuh terdiri atas kata maupun klausa. Di sinilah “kadigdayan” Pardiman Joyonegoro diuji. Juga “ayatollah” etnomusik Memet Chairul Slamet, serta maestro tari Bimo Wiwohatmo untuk berkelindan ruh mantra sehingga “ngengg” memahami kapan musik dimerdekakan dari suara dan tari dibebaskan dari aturan baku sawiji, greged, sengguh, ora mingkuh.

Jika “ngeng”-nya Bimo menganggap ada momen di mana gerak adalah diam, maka diam itulah tarian paling indah. Jika “ngenggg” Pardiman merasakan permainya sunyi dalam bunyi, maka senyap itulah musik tak terpermanai eloknya. Pada konsep Libreto Mantra inilah pementasan nyawiji dari unsur-unsur terberai. Tidak ada partisi yang merajut bagian per bagian layaknya puzzle.

Dalam konteks ini sangat penting peran “Tailor” Nano Asmorodono untuk ndondomi sedemikian rupa agar tidak terjebak pada pentas mozaik di mana mantra, musik, tari, masing-masing otonom dan memiliki garis jelas demarkasi. Nano terbiasa dalam penyutradaraan kethoprak juncto kesenian rakyat, namun jelas Libreto Mantra ambience yang tidak ada pada ratusan penyutradaraan sebelumnya. Nano akan katarsis sebagai “penjahit”. Pun Sudiharto, koreografer yang tuwuk malang melintang performance di banyak negara.

MELIBATKAN PENONTON
“Penonton kita libatkan,” kata Nano. Police line “luar” dan “dalam” menjadi jumbuh. Semua merdeka membidik angle, ibarat fotografer mengambil obyek. Penonton tidak terbius oleh plot, sebab plot dalam Libreto Mantra adalah tanpa plot. Kebebasan alur ini membuat mantra bertaut, berkelindan, dan bertarung dengan musik yang menggelegar dalam hening, pun gerakan yang menghentak-hentak dalam diam.

“Mas Pardiman tentu memilah mana mantra yang didaraskan secara bersama-sama; sejenak mengambil jarak dengan peristiwa, dan pada saat yang sama menggemakan betapa agungnya Gusti sang akarya jagad,” kata Bimo.

Hal sama pada olah gerak, di mana Bimo Wiwohatmo selaku Artistic Director, tari adalah “reuni” raga dengan kita, dan pada tari tubuh menemukan kebebasan. Sebagaimana pernah dikatakan Martha Graham bahwa “Dancing is just discovery.” Anda ternyata ingat. Anak-anak menyanyi gotri legendri nogosari, nun puluhan tahun silam, mereka menari tanpa desain — sehingga “sawiji, greged, sengguh” menjadi pemahaman yang bermasalah. Tak ada tujuan yang pasti ketika anak-anak riang bermain. Proses gotri legendri bukan selebrasi. Dalam raga anak-anak yang spontan, tubuh menemukan dan menyapa dirinya sendiri. Ekonomi, sains dan teknologi kerap salah tafsir melihat fenomena ini. Seorang penari adalah raga itu sendiri. Jika metafisika menuduh tubuh sebagai hal terburai dari kesadaran — tepatnya pusat kognitif, sang penari menegaskan “dalam menari aku bergerak, bukan digerakkan.”

“Saya tidak akan mengacu rancangan apapun, dan tidak ada kiblat yang pasti, apalagi mengikuti pakem klasik bahwa tari haruslah gerak estetika. Tidak. Saya akan mempertemukan tubuh dengan dirinya sendiri secara mandiri tanpa dibebani estetika. Mas Anter, satu misal, bebas merespons gendhing mantra, tubuhnya akan bergerak tanpa rancangan, bukan tubuh yang digerakkan atau menggerakkan,” kata Sudiharto yang akan menghimpun teman-teman penari, yang sekufu dan semashab dengannya.

Pada kawan-kawan itulah, kita ingat ucapan Martha Graham, ada satu sikap khusyuk kepada hal-hal yang dilupakan, misalnya keajaiban tulang-tulang lentik dengan kekuatannya yang halus.

Tentu Bimo selaku pengolah artistik tidak begitu saja melupakan “bentuk”. Tari adalah tubuh yang merangkul bentuk meski di saat awal-awal tatkala Bimo, Sudiharto, Agung dan kawan-kawan mendengarkan gendhing, bentuk itu belum atau sedang akan ada dalam wujutnya yang samar. Dalam proses inilah — kebebasan menjelajahi sebuah lanskap, tanpa jelas kapan berhentinya.

Begitu pula Eko Sulkhan yang dipercaya urusan lighting. Eko yang dua tahun suntuk meneliti “meditasi cahaya” tentu tidak akan memperlakukan cahaya mligi sinar sebagai bagian pertunjukan. Di dalam psikologi cahaya, setiap warna membawa resonansi emosional dan sugesti bawah sadar yang dapat membentuk pengalaman penonton. Cahaya merah sering dikaitkan dengan energi primal, gairah, bahaya, atau intensitas batin. Sementara cahaya biru menghadirkan nuansa kontemplatif, sejuk, spiritual, dan membuka ruang kontemplasi dalam diri. Sebaliknya, cahaya hijau memberi kesan keseimbangan, pemulihan, dan harmoni seperti ritme alam.

Dalam pentas Libreto Mantra, penggunaan meditasi cahaya melalui hitungan lumen memungkinkan penata cahaya bukan hanya mengatur strata cahaya, tetapi juga mengolah kedalaman rasa: bertransisi dari getaran panas merah, menurun ke kedalaman biru, lalu ditautkan dengan keseimbangan hijau, sehingga cahaya menjadi bahasa psikologi emosional yang menuntun perjalanan batin penonton.

MENYAPA BAPA ANGKASA
Pada akhirnya, Libreto Mantra adalah liberating arts, krida seni yang memerdekakan mantra dari kaidah apapun. Dan Anda bagian dari peristiwa budaya itu sendiri. Mantra ini semacam doa performatif, ruwat batin dan bumi, sekaligus perlawanan terhadap hegemoni makna dan bentuk.

“Libreto Mantra Ruwat Nuswantara kita menyapa bapa angkasa, ibu bumi, menyapa semesta yang sedang tidak baik-baik saja,” kata Nano Asmorodono. “Semoga ruwat semesta ini menjadikan Indonesia ayom ayem tata titi tentrem gemah ripah adil makmur loh jinawi.”

Sesi pungkasan Libreto Mantra adalah Dialog Budaya oleh Prof Dr Suminto A Sayuti (Guru Besar UNY), Dr Ratun Untoro M.Hum (Balai Bahasa DIY) dengan moderator praktisi media Nugroho Nurcahyo. Pada era efisiensi ini, yang setiap detik orang menuntut “hasil nyata”, barangkali mencemooh Libreto Mantra di Tebing Breksi, Sleman, DIY pada hari Kamis 18 Desember 2025, yang bergemuruh dan sesudah itu sirna. Lalu ingatan kita kembali pada Friedrich Nietzsche, “Aku hanya percaya kepada hidup yang menari ….” (mar/Joko Santosa, Penulis).