bernasnews — Kolaborasi lintas disiplin ilmu antara Universitas Alma Ata (UAA) dan Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) dalam Program Hibah BIMA berhasil lolos, dengan mengusung program inovatif bernama PURPLE (Puppets for Understanding, Respect, Protection, and Learning Sex Education), bertempat di SD Negeri Kasihan, Kabupaten Bantul, DIY.
Kegiatan ini diikuti oleh 30 peserta yang terdiri dari guru serta siswi kelas 3–4, yang berlangsung pada 24–28 Oktober 2025. Program ini mengusung pendekatan berbasis budaya melalui media wayang kartun untuk mengedukasi anak usia sekolah dasar tentang perlindungan diri dan pencegahan pelecehan seksual.
Tim pelaksana terdiri atas Lia Dian Ayuningrum, S.ST., M.Tr.Keb. (UAA), Dr. Septian Aji Permana, M.Pd. (UPY), Mufida Awalia Putri, M.Pd. (UAA), Dewi Humairo Nailatul Izzah (UAA), dan Ramadini Agusti Fajriyani (UAA).
Lia Dian Ayuningrum dari UAA selaku Ketua Pelaksana Kegiatan mengemukakan, bahwa melalui tiga sesi utama — edukasi bersama, pendampingan agen siswa, dan pendampingan guru — program PURPLE berhasil menciptakan suasana belajar yang interaktif dan menyenangkan.
Menurut Lia, hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan tingkat pemahaman anak, dari 33% sebelum kegiatan (pre-test) menjadi 83% setelah kegiatan (post-test). “Melalui media wayang, anak-anak lebih mudah memahami konsep batasan diri, rasa hormat terhadap tubuh, serta cara mengatakan tidak pada perilaku yang tidak pantas,”katan Lia, dalam rilisnya, Selasa (11/11/2025).
Selain pembelajaran interaktif, kegiatan juga diikuti pembentukan dua kelompok pendukung, yakni “Kami Sahabat” untuk siswa dan “Guru Fasilitator PURPLE” untuk para pendidik. Kelompok ini berperan dalam keberlanjutan program agar pesan edukatif dapat terus disampaikan dalam kegiatan sekolah sehari-hari.
Dikatakan Lia, pendekatan berbasis budaya seperti wayang mampu menyampaikan isu sensitif secara lebih alami dan diterima oleh anak-anak maupun lingkungan sekolah. “Anak-anak tidak hanya belajar secara kognitif, tetapi juga mengembangkan karakter, empati sosial, dan kemampuan berpikir kritis,” tambahnya.
Program PURPLE juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 5 (Kesetaraan Gender), karena menekankan pentingnya pendidikan inklusif dan perlindungan terhadap anak dari kekerasan seksual.
Kepala SD Negeri Kasihan, Harsiana Wardani, M.Pd menyambut baik inisiatif ini dan berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan. “Kami melihat perubahan positif pada siswa, terutama dalam kesadaran menjaga diri dan saling menghormati,” ungkapnya.
Program ini merupakan hibah Program Pengabdian kepada Masyarakat Batch III Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat pada Perguruan Tinggi Swasta di Lingkungan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah V Yogyakarta Tahun Anggaran 2025, serta didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
“Ke depan, tim pengabdian masyarakat berencana mereplikasi program PURPLE ke sekolah-sekolah lain sebagai model pendidikan seksualitas berbasis budaya lokal yang aman, menyenangkan, dan relevan bagi anak usia dini,” pungkas Lia Dian Ayuningrum. (*/ nun)












