New Dieng Kledung Pass Restaurant, Legacy yang Lestari hingga Generasi ke-3

New Dieng Kledung Pass Restaurant, di Jalan Raya Wonosobo-Parakan Km.17 Wonosobo, Jawa Tengah. (Foto: Istimewa)

bernasnews — Di balik keindahan dan kemegahan Dieng Keldung Pass Hotel & Restaurant ternyata menyimpan sebuah legacy yang sungguh membanggakan bagi warga Masyarakat, khususnya pegiat pariwisata di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

Hotel dan restaurant yang tepatnya terletak di Jalan Raya Wonosobo – Parakan Km.17 Wonosobo, ternyata memiliki sejarah panjang melintasi tiga generasi hingga kini masih lestari. Menelesik dari sejarahnya, asal muasal diawali dari bisnis dari orang tua sang owner Lukas Agus Tjugianto.

Pada tahun 1958 di Taman Plaza Wonosobo terdapat sebuah gedung bioskop bernama Dieng Theater yang dikelola oleh PERFEBI berdiri di sebidang lahan milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonosobo, di sebelah gedung bioskop tersebut terdapat lahan kios yang disewa oleh orang tua Lukas Agus Tjugianto untuk mendirikan Warung Makan Dieng, yang dirintis dan dikelola serta dibuka pada tanggal 18 Oktober 1958.

Pada waktu itu Warung Makan Dieng menyediakan menu favorit yaitu soto babat, lontong opor, sate jamur, sup buntut, menu masakan Indonesia lainnya, dan berbagai camilan khas. Selain makanan dan minuman, warung juga menyediakan Literasi Dieng untuk para tamu asing ataupun tamu-tamu yang singgah dan tertarik dengan obyek wisata Dieng Plateu.

Melanjutkan Usaha dan Berpindah Tempat

Selanjutnya, usaha itu berpindah ke tempat yang baru di Jalan Kawedanan (Angkatan 45), dari tahun 1973 hingga 1993. Di tempat usaha yang baru, Lukas Agus Tjugianto bersama istri Tina Mustikowaty meneruskan usaha Warung Makan Dieng dengan penuh suka cita.

Berdua mengelola bersama walaupun sebenarnya bukan di bidang yang sesuai dengan jenjang pendidikan yang diperoleh. Lukas Agus Tjugianto yang waktu itu sebagai Guru Olahraga dan istrinya Tina Mustikowaty, adalah lulusan Sarjana Hukum. Mereka memutuskan untuk terjun di usaha Warung Makan Dieng.

“Alasan dinamakan Warung Makan, karena kata “Warung” bisa memberikan suasana kehangatan (Warmly), persahabatan dan memberikan banyak relasi. Dengan promosi-promosi yang dilakukan oleh Bapak Agus Tjugianto dengan menawarkan kepada tamu domestik maupun tamu asing,” kata Eunike Martanti, putri semata wayang Agus Tjugianto dan Tina Mustikowaty.

Suasana acara grand opening New Dieng Kledung Pass Restaurant, beberapa waktu lalu. (Foto: Dok. bernasnews)

Menurut Nike sapaan akrab Eunike Martanti, dari promosi kepada para tamu yang singgah juga instansi pemerintah setempat memberikan dampak yang luar biasa, Warung Makan Dieng menjadi sangat ramai. Dengan tambahan berbagai menu masakan Indonesia yang kreatif dan inovatif, salah satunya Sate Jamur, yang waktu itu hanya tersedia di Warung Makan Dieng.

“Selain itu, pada saat itu juga kami sudah mulai menerima pesanan catering untuk segala acara, baik pernikahan, acara pertemuan dan rapat-rapat instansi di Kabupaten Wonosobo,” ungkapnya.

Warung Pelopor Penggunaan Mesin Pembayaran Non Tunai

Lanjunt Nike menjelaskan, penggunaan mesin EDC (Electronic Data Capture) di Warung Dieng menjadi satu-satunya pelopor usaha yang memakai alat pembayaran Kartu Kredit/Debit. Pasalnya banyak tamu asing yang membayar menggunakan kartu. Selain itu Warung Dieng juga menerima money changer ( penukaran mata uang asing ) untuk mempermudah bagi tamu asing yang singgah.

Selanjutnya nama yang digunakan adalah Dieng Warung Makan & Restaurant. Kemudian pada tanggal 17 Maret 1990 mendirikan restoran lain sebagai cabang. Usaha baru ini terletak di area Kledung, perbatasan pintu keluar Temanggung dan pintu masuk Wonosobo, dengan menyewa tanah milik Pemkab Wonosobo, tepatnya di tepi Jalan Raya Wonosobo-Parakan Km.17 Wonosobo, diberi nama Dieng Kledung Pass Restaurant.

Menjelang tahun 2010, Warung Makan Dieng yang berada di Mendolo ditutup dan dijual. Kemudian Dieng Warung Makan & Restaurant mulai menempati tempat baru di Jalan Sindoro (sekarang Jl. Soekarno – Hatta), pada tanggal 7 Agustus 2010.

Warung buka dari pagi hingga malam untuk melayani tamu domestik dan tamu asing yang tertarik pada promosi Dieng Plateau, serta relasi-relasi dari Instansi Pemerintah Kabupaten Wonosobo yang juga tertarik dengan menu masakan khas Indonesia, yang disajikan dengan konsep suasana tempat klasik, autentik nan etnik karena bangunannya bangunan lama di masa Kolonial Belanda.

“Di restoran ini Bapak L. Agus Tjugianto membuat miniatur Dieng dari kaca-kaca dan dilengkapi dengan lampu-lampu. Dibuat mirip dengan area Dieng Plateau, miniatur ini diletakkan di depan ruangan restoran dan tamu-tamu dapat melihatnya sebagai informasi apabila tidak sempat naik menuju Dieng Plateau,” beber Nike.

Masa Duka dan Pandemi Covid-19

“Pada tanggal 4 Desember 2017, Ibu Agus (Ibu Tina Mustikowaty) meninggal dunia. Selang 4 tahun kemudian pada tanggal 17 Desember 2021, Bapak Agus meninggal dunia. Sehingga Dieng Warung Makan & Restaurant kami kelola,” tambahnya.

Pada bulan Maret 2020 pandemi Covid-19 melanda sehingga mengharuskan Dieng Warung Makan & Restaurant untuk lebih berinovatif dengan cara promosi dan publikasi melalui media online. Juga bekerja sama dengan sebuah aplikasi layanan pengantar makanan berplatform digital, dengan cara pemesanan online melalui smartphone.

Dieng Kledung Pass Restaurant ditutup dan lahan yang ditempati selama ini diserahkan kembali  pada Pemerintah Kabupaten Wonosobo, pada Juli tahun 2023. Setelah mempersiapkan bangunan baru berlantai tiga berdinding kaca di lahan milik sendiri di sebelah barat lahan yang lama, yang diresmikan pada tanggal 9 Maret 2024.

Renstaurant dengan gedung baru diberi nama (brand) baru “New Dieng Kledung Pass Restaurant”, memadukan konsep yang dibangun oleh pendirinya dan konsep kekinian, baik pelayanan maupun sajian kulinernya. Gedung baru ini benar-benar memanjakan pengunjung untuk menikmati kuliner sembari menikmati pemandangan alam sekitar yang berlatar belakang Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

“Semua kegiatan saat ini konsentrasinya atau difokuskan di New Dieng Kledung Pass Restaurant. Sedangkan untuk perusahaan makanan atau catering dalam kota tetap dilayani melalui rumah utama di Kota Wonosobo,” ujar Nike sebagai pewaris generasi ke-tiga. (Tedy Kartyadi)