bernasnews – Hampir semua siswa atau mereka yang mengenyam pendidikan mengenal yang dinamakan majalah sekolah. Sebuah media komunikasi pendidikan yang berbentuk majalah, buletin atau menempel di dinding alias majalah dinding (mading) Materi isinya kurang lebih sama yakni aneka tulisan, ilustrasi, fofo, dan isian yang lain.
Frekuensi terbit media sekolah untuk yang berbentuk majalah ada yang satu bulan sekali, satu semester sekali atau satu tahun sekali. Sedangkan masa tayang majalah dinding di sekolah juga berbeda. Ada yang rutin, ada yang tidak rutin. Misalnya, ada yang tayang satu minggu sekali, dua minggu sekali, satu bulan sekali atau lebih dari itu. Bahkan ada yang kemudian tidak tergarap. Artinya, komitmen, kemampuan dan konsistensi penerbitan produk media khas itu tidak sama di setiap sekolah.
Apakah majalah sekolah harus ada atau mengapa harus ada di satuan pendidikan? Barangkali memang belum atau tidak ada keharusan. Bentuk penerbitannya pun di setiap sekolah tidak sama. Ada sekolah yang memiliki dua bentuk media sekolah, yakni majalah dan mading. Ada yang menerbitkan satu media. Untuk sekolah dasar, kebanyakan memilih berbentuk mading.
Secara umum, media sekolah diterbitkan dengan maksud sebagai sarana komunikasi antarwarga sekolah, sebagai wadah kreativitas, menumbuhkan penalaran dan sarana pendidikan. Dari sisi dinamika literasi sekolah, kehadiran media sekolah sangat bermanfaat atau mendukung program itu.
Selain aneka informasi atau pengumuman sekolah dapat disampaikan di media internal itu, para siswa juga dapat menyalurkan minat dan bakat dalam bidang tulis menulis, ilustrasi, foto tanpa merasa sungkan atau terbenani. Dimuat atau tidak dimuat tidak masalah. Yang penting berkarya bersama.
Minat membaca atau pengembangan literasi secara umum akan terdukung dengan adanya media sekolah itu. Warga sekolah yang sebelumnya agak kurang tertarik membaca, dengan adanya media sekolah jadi terdorong untuk suka membaca dan menulis. Apalagi kalau yang bersangkutan ada yang mau menjadi pengasuh atau redaksinya.
Kecerdasan berpikir dan kecerdasan emosional akan terbentuk atau terbantu melalui proses kebersamaan dalam penggarapan media sekolah itu dari waktu ke waktu. Pengasuh dan siswa pembaca lainnya diharapkan akan memiliki peningkatan minat-minat positif karena semakin terlatih membaca.
Ada anggapan atau pernyataan kalangan pendidik bahwa sekolah yang memiliki media sekolah, baik majalah dan atau mading, menunjukkan indikasi sekolah itu baik, bermutu, dan memiliki sikap kritis. Dalam berbagai kesempatan, pada Hari Pendidikan Nasional 2 Mei atau momentum lain, beberapa kalangan mengadakan lomba majalah lomba majalah atau lomba mading. Hadiahnya pun tidak sedikit atau tidak kecil.
KESUNGGUHAN DALAM PENGGARAPAN
Dalam penerbitan majalah sekolah di Yogyakarta, penulis menyajikan contoh tiga media pendidikan tingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas. Ketiga media itu bernama SAHABAT (Media Komunikasi dan Kreativitas SD Marsudirini Yogyakarta), MATA (Media Kreativitas Siswa SMP Maria Immaculata Yogyakarta), dan VISTA (Majalah Siswa SMA Santa Maria Yogyakarta).
Sebuah edisi SAHABAT yang dibaca menyajikan laporan utama “Yuk, kita cintai budaya kita sendiri…”. Melalui kolom Wening, redaksi mengajak warga sekolah untuk tidak membiarkan budaya kita tergerus zaman. Hal ini karena kesadaran akan pentingnya melestarikan budaya Jawa kini dinilai kurang. Anak-anak muda zaman sekarang lebih banyak mengisi waktu luangnya dengan mengakses internat, bermain game di komputer, dan mengoperasikan komputer. Jika ada pertunjukan wayang, mereka lebih memilih untuk melakukan kegiatan lainnya yang dirasakan lebih menarik.
Materi isi majalah sekolah setebal 64 halaman ini adalah salam redaksi, wening, inspirasi, rohani, pengetahuan, profil, sharing, berita sekolahku, puisi, pantun, english corner, karikatur, asak otak – TTS dan resensi buku.
Majalah MATA setebal 38 halaman menyajikan artikel Inspirasi Summer Outfit, wawancara artis : Danang Sadewa, yang berprestasi Tentri Atlet Taekwondo, dan seputar Immaculata : Perayaan Imlek, sebagaimana tertulis di cover depan yang terdapat ilustrasi dua gadis cantik. Pada edisi ke-24 tersebut, redaksi memanjakan pembaca dengan sajian berbagai tren fashion musim panas yang dapat menjadi inspirasi, mulai dari gaya casual, beachwear kece, sampai tips stylish walau cuaca panas.
Isi lengkap MATA kali ini adalah : kontak redaksi, renungan, laporan utama, kata mereka, opini siswa, cerpen, artikel, opini guru, tokoh, seputar Immaculata, lensa kreasi, wawancara artis, yang berprestasi, English corner, music, kupas buku, kupas film, sajak, resep masakan, zodiac, humor, just for you dan komik.
Sedangkan VITA dengan tebal majalah70 halaman menyajikan Viva Stama; Kata, Wawancara, Opini; Artikel; Seputar Stama; Siswi Berprestasi; Alumi Kita; Cerpen, Eksplor; Ekskul Kita; Lensa; Resensi; Artikel Bebas; Hallo Stama. Dua belas rubrik itu diisi dengan 70 item tulisan. Laporan utama di sampul adalah Gen Z is it Worth?
Secara umum terasa ada kesungguhan dalam penggarapan media pendidikan di tiga sekolah itu. Tentu sesuai dengan tingkatan pendidikan, karya siswi SMA lebih menonjol dengan tata bahasa yang enak dibaca. Ada pesan dari salah satu alumni yang diwawancara yakni : “Jangan pernah lelah untuk belajar, hidup hanya sekali, lakukan apapun yang kalian suka” (Katharina Stogmuller, yang berdarah Jerman-Indonesia).
Catatan kecil secara umum, urutan penyajian materi isi ketiga majalah itu belum atau tidak mengelompok dalam tiga muatan utama media yakni : fakta, opini, dan fiksi. Laporan utama tidak dalam bentuk reportase dan wawancara, namun karya opini. Ini adalah “kesalahan umum” pada hampir setiap majalah sekolah.
Sedangkan tata warna dan besaran huruf tulisan memang harus menjadi perhatian bersama. Artinya, meski media itu karya dan milik anak SD, SMP, atau SMA, toh yang membaca dapat saja orang dewasa ketika majalah itu kemudian beredar ke masyarakat umum. Ini hanya soal kenyamanan dalam membaca saja. Namun selebihnya, SAHABAT, MATA dan VISTA adalah majalah sekolah yang hebat. Silakan diperjuangkan untuk terus terbit dengan cerdas dan memberikan makna bagi pendidikan. (Anto Margono, Pegiat Literasi di Yogyakarta)












