Layanan Kesehatan Jemput Bola: Pemkot Yogyakarta Luncurkan Program Satu Kampung Satu Bidan

bernasnews– Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta resmi meluncurkan program Satu Kampung Satu Bidan, sebuah terobosan layanan kesehatan modern yang menjangkau warga hingga ke gang-gang sempit.

Konsep ini menghadirkan puskesmas dan rumah sakit tanpa dinding yang benar-benar hadir di tengah masyarakat, mulai dari balita hingga lansia.

Peluncuran Program Satu Kampung Satu Bidan

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan bahwa Pemkot telah merekrut 45 bidan dan tenaga kesehatan baru. Mereka ditempatkan di setiap kelurahan agar layanan kesehatan semakin dekat dengan warga.

“Bidan dan nakes akan mengawal daur hidup manusia. Mereka memastikan anak lahir sehat tanpa stunting, remaja tetap bugar, penyakit tidak menular pada usia dewasa bisa terpantau, dan lansia mendapatkan perhatian penuh. Kota Yogyakarta menua dengan 16 persen lansia, sehingga pemerintah wajib hadir melalui pemeriksaan kesehatan gratis,” ujar Hasto saat peluncuran program di Balai Kota Yogyakarta, Jumat (3/10/2025).

Hasto mengungkapkan, ada lebih dari 1.100 lansia jompo yang harus dijangkau langsung. Banyak di antaranya tinggal di gang yang bahkan becak tidak bisa masuk.

“Karena itu, puskesmas tanpa dinding hadir. Bidan dan nakes akan menerobos ke 169 kampung, sementara rumah sakit pun mendampingi setiap kelurahan. Dengan begitu, prinsip no one left behind benar-benar diwujudkan di Kota Yogyakarta,” tegasnya, mengutip tugujogja.id.

Selain itu, Pemkot menetapkan lima fokus intervensi utama.

  • Penanganan penyakit menular seperti TBC dan HIV.
  • Pencegahan serta pengobatan penyakit tidak menular.
  • Pencegahan stunting sejak dini.
  • Kesehatan lansia.
  • Pendampingan kesehatan jiwa, termasuk bagi ODGJ.

Digitalisasi Kesehatan lewat Aplikasi Jogja Sehat

Program ini juga terintegrasi dengan aplikasi Jogja Sehat yang terkoneksi dengan Jogja Smart Service (JSS). Melalui sistem digital ini, pencatatan dan pelaporan kesehatan warga berbasis by name by address.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Emma Rahmi Aryani, menjelaskan bahwa digitalisasi akan memperkuat koordinasi lintas sektor.

“Dengan aplikasi ini, bidan dan nakes bisa lebih mudah mendata, mendampingi, hingga melaporkan hasil pemeriksaan warga. Layanan jadi lebih efektif dan tepat sasaran,” katanya.

Salah satu tenaga kesehatan baru, Arnika Julia Fergin, mengaku antusias ditugaskan di Kelurahan Klitren.

“Sebagai lulusan D3 Kebidanan, saya ingin mengimplementasikan ilmu yang saya pelajari. Saya siap memberikan pelayanan terbaik, membantu ibu hamil, balita, hingga lansia agar mereka lebih sehat,” ungkap Arnika.

Peluncuran program Satu Kampung Satu Bidan bertepatan dengan peringatan Hari Jadi ke-269 Kota Yogyakarta. Pemkot menegaskan, program ini bukan sekadar inovasi, tetapi tonggak perubahan besar dalam pelayanan kesehatan publik.

Dengan pendekatan langsung ke warga, dukungan teknologi digital, dan tenaga kesehatan yang siap terjun ke lapangan, Yogyakarta menegaskan diri sebagai pelopor kota dengan layanan kesehatan tanpa dinding.***(Eln)