bernasnews– Harga kebutuhan masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta kembali bergejolak pada Agustus 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat inflasi tahunan (year on year/y-o-y) sebesar 2,30 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 108,31.
Plt Kepala BPS DIY, Ir. Herum Fajarwati, M.M., menjelaskan bahwa inflasi dipicu oleh kenaikan harga di sejumlah kelompok pengeluaran.
“Ternyata kelompok perawatan pribadi yang melesat hingga 9,74 persen,” ungkapnya, mengutip dari kabarjawa.com, pada Senin (1/9).
Herum menegaskan, masyarakat paling banyak merasakan dampak dari kenaikan harga makanan, minuman, hingga perawatan pribadi. Beberapa kebutuhan pokok yang melonjak tajam di antaranya bawang merah, kopi bubuk, beras, dan sigaret kretek mesin.
Inflasi DIY Agustus 2025
BPS mencatat inflasi di dua wilayah pemantauan, yakni Kabupaten Gunungkidul dan Kota Yogyakarta. Gunungkidul mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 2,33 persen dengan IHK 107,46. Sementara Kota Yogyakarta berada di angka 2,28 persen dengan IHK 109,35.
Data ini menunjukkan bahwa baik wilayah perkotaan maupun pinggiran sama-sama menghadapi tekanan harga yang cukup berat.
BPS DIY merinci sumber inflasi yang menekan perekonomian masyarakat.
- Makanan, minuman, dan tembakau naik 3,58 persen, terpicu harga bawang merah, kopi, beras, hingga rokok kretek mesin.
- Perawatan pribadi dan jasa lainnya melonjak 9,74 persen, terutama karena kenaikan harga emas perhiasan.
- Pendidikan naik 1,52 persen, penyebabnya biaya sekolah dasar hingga bimbingan belajar meningkat.
- Penyediaan makanan dan minuman/restoran naik 1,84 persen, terdorong konsumsi nasi lauk, bakso, hingga martabak.
“Bawang merah, beras, dan emas perhiasan menjadi komoditas yang paling besar mendorong inflasi tahunan di Yogyakarta bulan ini,” tegas Herum.
Deflasi Bulanan, Harga Harian Turun
Meski inflasi tahunan meningkat, BPS mencatat DIY justru mengalami deflasi bulanan (month to month/m-to-m) sebesar 0,24 persen pada Agustus 2025.
Penyebab deflasi ini adalah turunnya harga sejumlah komoditas harian, seperti tomat, cabai rawit, telur ayam ras, hingga bensin. Kondisi ini memperlihatkan tarik-menarik harga antara kebutuhan sehari-hari yang cenderung turun dengan kebutuhan jangka panjang yang justru naik.
Jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, inflasi DIY turun tipis dari 2,33 persen (Agustus 2024) menjadi 2,30 persen (Agustus 2025). Namun, inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) tercatat lebih tinggi, yakni 1,59 persen dibandingkan hanya 0,58 persen pada Agustus 2024.
Herum menambahkan, inflasi tidak hanya terasa di pasar tradisional, tetapi juga menyentuh ruang keluarga dan ruang kelas. Kenaikan biaya kontrak rumah, tarif dokter spesialis, hingga ongkos sekolah anak menambah beban pengeluaran rumah tangga.
Sementara itu, emas perhiasan menjadi faktor penekan tambahan di kelompok perawatan pribadi, mempertebal angka inflasi.
“Angka ini menunjukkan tekanan harga lebih terasa sepanjang 2025 dibandingkan tahun lalu. Masyarakat harus cermat mengatur belanja agar tetap bisa menjaga daya beli,” kata Herum.
Ia memastikan BPS DIY akan terus memantau perkembangan harga agar pemerintah dan masyarakat memiliki gambaran jelas untuk menjaga kestabilan ekonomi daerah.***(Eln)












