bernasnews — Tekanan harga di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali meningkat. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mengungkap bahwa pada Juli 2025, inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) mencapai 2,60 persen, meningkat dari 2,16 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan ini mencerminkan dorongan harga yang semakin meluas di berbagai sektor pengeluaran rumah tangga.
Plt. Kepala BPS DIY, Ir. Herum Fajarwati, M.M., menyebut bahwa inflasi tersebut terasa langsung oleh masyarakat, terutama dalam kelompok konsumsi makanan dan produk perawatan pribadi.
“Lonjakan ini menyelimuti berbagai lini pengeluaran, dari kebutuhan pangan hingga jasa kesehatan,” ungkapnya pada Jumat, 1 Agustus 2025 seperti dikutip dari tugujogja.id.
Kebutuhan Pokok dan Kosmetik Picu Kenaikan
Dalam laporan yang dirilis, kelompok “Makanan, Minuman, dan Tembakau” tercatat sebagai penyumbang inflasi terbesar dengan andil 1,10 persen.
Harga sejumlah komoditas seperti kopi bubuk, beras, tomat, bawang merah, kelapa, serta sigaret kretek mesin mengalami kenaikan signifikan. Bahkan tempe, makanan yang selama ini dianggap paling terjangkau, ikut menyumbang inflasi sebesar 0,04 persen.
Namun tak hanya soal dapur, sektor penampilan pun tak luput dari tekanan inflasi. Kelompok “Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya” mengalami kenaikan harga yang mencolok, dengan inflasi mencapai 11,19 persen dan andil terhadap inflasi total sebesar 0,69 persen.
Komoditas seperti emas perhiasan, sabun cair, bedak, hingga pasta gigi mengalami lonjakan harga.
“Kenaikan ini menunjukkan bahwa bukan hanya perut, tetapi penampilan juga jadi beban,” kata Herum.
Secara keseluruhan, Indeks Harga Konsumen (IHK) DIY pada Juli 2025 mencapai 108,57, naik dari 105,82 pada bulan yang sama tahun sebelumnya. Dari sisi wilayah, Kabupaten Gunungkidul mencatat inflasi tertinggi sebesar 2,66 persen, disusul Kota Yogyakarta dengan 2,54 persen.
Biaya Pendidikan dan Kendaraan Turut Menekan
Tak hanya kebutuhan harian, biaya pendidikan dan kendaraan juga memberikan andil pada inflasi. Kelompok “Pendidikan” mengalami kenaikan 1,10 persen dengan kontribusi 0,07 persen terhadap inflasi.
Herum menegaskan bahwa biaya sekolah SD, SMP, hingga tarif bimbingan belajar meningkat, bertepatan dengan momen tahun ajaran baru yang kerap menjadi beban tambahan bagi orang tua.
Sementara itu, kelompok “Transportasi” mencatat inflasi sebesar 0,12 persen. Kenaikan harga motor dan mobil menjadi penyebab utama, meskipun harga bensin turun.
“Harga bensin memang turun, tetapi belum cukup menahan laju kenaikan harga kendaraan,” jelas Herum.
Menariknya, hanya satu kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi, yaitu “Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan.” Kelompok ini tercatat mengalami penurunan harga sebesar 0,11 persen, terutama karena turunnya harga telepon selular.
Herum mengingatkan bahwa kondisi ini patut menjadi perhatian serius baik bagi masyarakat maupun pemerintah daerah.
“Kita perlu memperhatikan pola konsumsi dan meningkatkan efisiensi pengeluaran rumah tangga. Pemerintah juga harus memperkuat pengendalian harga, terutama di sektor pangan dan layanan dasar,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa komoditas seperti cabai rawit, tomat, dan bawang merah sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca dan distribusi. “Jika kita tidak antisipasi, harga bisa makin tak terkendali pada bulan berikutnya,” tandasnya. (Eln)












