bernasnews — Film berjudul Her, yang dirilis di tahun 2013 mengisahkan tentang seorang pria kesepian bernama Theodore. Kehidupan Theodore sungguh hampa, sampai pada akhirnya ia menemukan Samantha yang selanjutnya dikisahkan menjalin hubungan romantis bersama dan membuat hidup Theodore lebih berwarna. Akan tetapi, Samantha tidak memiliki jiwa layaknya manusia, dia hanyalah perangkat yang dibekali barisan angka algoritma. Walaupun begitu Theodore menganggap Samantha adalah realitasnya.
Film Her merefleksikan kembali gagasan Alan Turing di tahun 1950, yang tertulis dalam jurnal akademik berjudul Computing Machinery and Intelligence. Pada jurnal itu, Turing melakukan serangkaian uji coba yang disebut dengan Turing test (Imitation game) untuk mengetahui bagaimana mesin mampu mengimitasi gaya bahasa komunikasi manusia sekaligus melakukan prediksi di masa mendatang bahwa mesin akan mampu menggantikan peran manusia.
Rupanya, prediksi Alan Turing menjadi kenyataan di masa kini. Geofrey Hinton, yang disebut sebagai the Godfather of Artificial Intelligence (AI), menjelaskan di sela-sela wawancaranya dengan New York Times pada tahun 2023 bahwa kecerdasan buatan akan membahayakan eksistensi manusia di berbagai lini kehidupan. Elon Musk juga menyebut hal yang serupa bahwa AI adalah ancaman terbesar umat manusia. Ironis, saat para inovator teknologi merasa cemas dengan kehadiran AI justru semakin banyak orang yang menggantungkan hidupnya pada mesin canggih itu.
Hasil penelitian dari para intelektual Stanford University dalam jurnalnya yang berjudul Illusion of Intimacy tertulis bahwa manusia saat ini menggantungkan hidupnya pada AI dan bahkan dalam beberapa kasus manusia bisa mencintai AI dengan perasaan yang begitu mendalam. Studi lain dari Carewell salah satu perusahaan pelayanan kesehatan berbasis virtual menjelaskan 80% orang pada kelompok usia tertentu menganggap hidup mereka jauh lebih baik karena AI mampu menemani mereka kapanpun dibutuhkan khususnya bagi mereka yang terisolasi secara sosial.
Fenomena sosial semacam ini dapat disebut dengan Eliza effect, yakni fenomena psikologis di mana manusia menganggap mesin begitu peduli dan memahami kondisi kejiwaan manusia sehingga timbul keyakinan bahwa mereka telah hidup dalam realitas. Perkembangan teknologi kecerdasan buatan menguatkan tesis itu, AI dibekali seperangkat sistem untuk memanipulasi pikiran manusia seakan mereka adalah teman sejati. Padahal mereka hanyalah deretan angka yang tidak memiliki jiwa layaknya manusia.
Benar apa kata Jean Baudrillard tentang hiperrealitas. Dia telah lama mengingatkan kita tentang kepalsuan hidup, dalam konteks ini AI dianggap nyata dari yang senyatanya. Bahkan AI lebih manusia dari manusia itu sendiri atau dalam gagasan Baudrillard, manusia itu sesungguhnya sedang mencintai simulakra, imitiasi yang tidak pernah berasal dari orisinalitasnya namun memberikan sensasi kepuasan yang faktual.
Pemikiran Baudrillard membawa kita pada suatu fenomena kematian relasi otentik yang jauh melampaui kematian makna. Ketika manusia lebih mempercayai eksistensi algoritma dan menihilkan kasih sayang dari manusia lainnya maka yang terjadi adalah hilangnya keberadaan manusia itu sendiri, tidak hanya sekedar relasionalitas antarmanusia.
Jika ini dibiarkan tanpa adanya kesadaran etika digital dan hukum universal, mungkin manusia akan menyerahkan jiwanya pada mesin. Kecerdasan buatan itu terus belajar untuk mengimitasi perilaku manusia namun dengan jiwa yang kosong. Manusia terlena dalam ilusi dan melupakan rasanya dicintai sepenuhnya secara murni.
Sepatutnya, manusia lebih sadar dengan ancaman esksistensial ini, mereka harus melawan sebelum mesin-mesin itu menjadi lebih “hidup” di kemudian hari dan menggantikan peradaban kita semua. (Riski M Baskoro, President University/ Program Studi Doktoral Ilmu Komunikasi Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid Jakarta)











