bernasnews – Bagi saya, Dedi H. Purwadi, batik Bulaksumuran tidak hanya sebuah karya tekstil bermuatan nilai kultural. Batik Bulaksumuran mempunyai ikatan personal dengan perjalanan hidup saya dan novel “Cintaku di Kampus Biru”.
Waktu pertama saya membaca “Cintaku di Kampus Biru” dan melihat filmnya di TVRI tahun 1976 saya masih sekolah menengah di Bogor, Jawa Barat. Novel dan film “Cintaku di Kampus Biru” membuat saya ingin kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM), Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta. Gedung yang ingin saya lihat pertama kali adalah Balairung.
Keinginan saya yang “terhasut” novel karya Ashadi Siregar itu terwujud. Tahun 1981 saya diterima belajar di UGM hingga lulus. Gedung Balairung saya datangi, saya amati, saat saya mendaftar jadi mahasiswa. Itu dini hari. Di depan Balairung, saya berdoa agar saya dapat belajar di sini. Dan kelak, di depan Balairung ini juga saya diwisuda.
Saya tak pernah membayangkan bahwa kelak saya akan bertemu dengan Ashadi Siregar. Pada kenyataannya, ketika saya menjadi calon jurnalis di sebuah koran, saya bersama 16 teman dilatih dan dididik oleh Ashadi Siregar. Kemudian, setelah hampir 14 tahun bekerja di harian tersebut sebagai jurnalis, saya bekerja dengan dia sebagai instruktur jurnalisme di lembaga jurnalisme yang dipimpinnya, selama 10 tahun.
Maka, karena keterkaitan ini pula saat Ashadi Siregar merayakan HUT ke 80-nya pada acara spesial Sastra Bulan Purnama (SBP) di IFI/LIP Jalan Sagan No 3 Terban, Yogyakarta, Sabtu (5/7/2025) yang dikoordinatori oleh Ons Untoro, saya berbahagia. Sebab, saat itu saya dapat menghadiahi “penghasut” saya ke Bulaksumur ini dengan batik Bulaksumuran berupa walldecor. Mungkin, tak salah juga kalau saya mengatakan,.karena “Cintaku di Kampus Biru”, batik Bulaksumuran ada.
Dalam acara bertajuk “80 Tahun Ashadi Siregar Kampus Biru Menolak Ayah” itu tampil Rosana Hariyanti yang membaca nukilan “Cintaku di Kampus Biru”, Landung Simatupang yang membaca nukilan “Menolak Ayah”, lagu puisi oleh Asriuni Pradipta, dan lagu puisi oleh Vincentius.
BUKAN SEKADAR KAMPUS
Bulaksumur bagi saya bukan hanya sebuah nama kawasan kampus di Utara Yogyakarta, tempat berdirinya UGM, Perguruan Tinggi Negeri pertama yang didirikan Republik Indonesia. Bulaksumur juga bukan hanya tempat saya belajar selama beberapa tahun. Juga, Bulaksumur bukan hanya tempat berdiri megahnya Gedung Pusat UGM dengan arsitektur Balairungnya yang ikonik.
Bulaksumur yang ditandai dengan keberadaan Gedung Pusat UGM berikut Balairungnya serta sejumlah pohon di sekitarnya mengandung pesan bagi siapapun, khususnya ratusan ribu orang eks warga Bulaksumur dan yang masih ada di sana. Pesan ini disampaikan melalui simbol di Balairung dan pepohonan utama di sana (sawo kecik, damar, cemara berjumlah tujuh, bodhi).
Sebagai pembuat batik tulis yang pernah menjadi “warga” Bulaksumur dengan menghirup udaranya, minum airnya, hadir di ruang-ruang bangunannya, berjalan di bawah naungan pepohonannya, Bulaksumur menjadi inspirasi untuk sebuah motif batik. Saya ingin menghadirkan pesan Bulaksumur itu ke bentuk visual yang dapat dipakai siapapun, dibawa kemanapun dan ditempatkan di manapun, melintasi batas ruang dan waktu. Simbol-simbol mengandung pesan itu saya satukan dalam wujud motif batik yang kemudian saya namai Bulaksumuran.
Tahun 2015 desain awal batik Bulaksumuran mulai saya buat. Setelah beberapa kali perbaikan, sembari menunggu kesempatan dan momentum yang sesuai, batik Bulaksumuran saya buat pertama kali pada November 2019 yakni berupa kain panjang atau jarik. Ini mengambil momentum menyambut Dies Natalis ke-70 tahun UGM pada 19 Desember 2025.
Saya menamai motif ini Bulaksumuran karena bagi saya ini bukan batik official UGM maupun Kagama. UGM dan Kagama punya batik official sendiri. Maka logo UGM pun hanya saya buat aksen, bagian kecil dari motif.
PESAN BULAKSUMUR
Dengan visualisasi sawo kecik, daun damar, daun bodhi, pohon cemara berjumlah tujuh dan Balairung UGM, melalui batik Bulaksumuran saya ingin menyampaikan pesan yaitu agar kita senantiasa berupaya menjadi orang baik (pikiran, sikap dan perilaku), agar menjadi penerang bagi sesama untuk mencerahkan kehidupan sembari tak lupa selalu mohon petunjuk dan pertolongan Tuhan.
Sawo kecik dimaknai Sarwa becik (apik, serba baik); damar dimaknai handamari (damar, penerang); bodhi (pencerahan), cemara berjumlah tujuh simbol tujuh sifat mulia Saptarsi (tujuh begawan), tujuh pintu lengkung Balairung menyimbolkan petunjuk dan pertolongan Tuhan (pitu, tujuh, pituduh=petunjuk; pitulungan=pertolongan).
Tujuh sifat baik, mulia pada Saptarsi yaitu jujur, enggan berbuat jahat, enggan menyalahi/ingkar janji, enggan memakai/memakan barang yang tidak halal, tidak suka dipuji-puji, tidak suka kepada hal-hal kotor dan tidak suka bermewah-mewah.
MENGAPA KAWUNG KOPI?
Mengapa saya memilih motif Kawung kopi sebagai latar? Tanaman kopi tumbuh dan menjadi salah satu sumber penghasilan penduduk di hampir seluruh Indonesia, dari ujung barat sampai ujung timur, dari sisi utara hingga sisi selatan. Ini menggambarkan asal warga Bulaksumur yang menimba ilmu hingga bekerja di Bulaksumur. Selanjutnya, sebagian besar dari mereka kembali dan tersebar ke seluruh Indonesia.
Ukuran gambar biji kopi pada batik Bulaksumuran juga saya buat khusus, yaitu panjangnya 9 cm. Dengan pola geometris Kawung 4 arah, melukiskan 49. Angka ini menunjuk pada angka tahun berdirinya UGM, 1949.
Karena Bulaksumur melekat dengan keberadaan gedung Balairung UGM, maka batik Bulaksumuran menjadikan bangunan ikonik ini sebagai bagian penting motif utama berlatar belakang pohon cemara tujuh.
Batik Bulaksumuran juga dilengkapi elemen pendukung berupa lingkaran kecil pengisi ruang antarmotif kawung kopi. Ini menggambarkan Bunderan UGM yang menjadi penanda sekaligus batas selatan kawasan Bulaksumur yang membujur dari utara (Selokan Mataram) hingga selatan.
MENGAPA WARNA BIRU?
Bulaksumur terletak di Yogyakarta. Warna khas batik Yogyakarta yaitu sogan (coklat tua) dengan aksen biru pada motif. Tapi mengapa batik Bulaksumuran monochrome biru? Biru sudah menjadi warna yang dilekatkan publik kepada UGM dengan julukan Kampus Biru.
Julukan tersebut melekat hingga kini, setelah terbit dan “meledaknya” lalu difilmkannya novel legendaris “Cintaku di Kampus Biru” karya dosen UGM Ashadi Siregar tahun 1974. Novel ini bersetting kampus UGM, Bulaksumur, dan Yogyakarta. Sang novelis, pada 3 Juli 2025 lalu genap berusia 80 tahun.
Adapun pewarna biru yang saya gunakan untuk batik Bulaksumur adalah pewarna alami indigo dari daun Strobilanthes cusia yang berasal dari Pegunungan Prau Wonosobo, Jawa Tengah dan Indigofera tinctoria dari Bantul, DIY.
Dua pewarna alami dengan tone biru berbeda dari daerah berbeda ini bukan hanya untuk aspek estetik. Ini juga menggambarkan warga Bulaksumur yang berasal dari daerah dataran rendah hingga dataran tinggi. (mar/Dedi H Purwadi, Pemilik Batikjolawe, Bantul, DIY)











