Forum Outlook Q1-2025: KADIN Soroti Dampak Gejolak Global, Libur Panjang hingga Bansos

Narasumber dan Moderator diskusi KADIN Indonesia. (Foto: Indonesia)

bernasnews — Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia menggelar diskusi bertajuk “Global & Economic Outlook Q1-2025: Mengekstraksi Hambatan Perdagangan dan Gejolak Ekonomi Global untuk Daya Tahan Perekonomian Nasional”, bertempat di Menara KADIN Indonesia, Jakarta Selatan, pada Kamis, 12 Juni 2025.

Forum ini dihadiri oleh Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Pembangunan Berkelanjutan KADIN Indonesia Shinta Widjaja Kamdani, Wakil Ketua Umum Bidang Analisis Kebijakan Makro-Mikro Ekonomi KADIN Indonesia Aviliani, dan Wakil Menteri Keuangan RI Suahasil Nazara.

Shinta Widjaja Kamdani yang hadir mewakili Ketua Umum KADIN Indonesia Anindya Novyan Bakrie menekankan pentingnya reformasi kebijakan domestik dalam menghadapi potensi perlambatan ekonomi, terutama dalam produktivitas dan insentif.

“Salah satu rekomendasi utama yang kami dorong adalah peningkatan produktivitas ekonomi,” kata Shinta, dalam siaran pers yang diterima Redaksi bernasnews, Jumat (13/6/2025).

Menurutnya, jumlah hari libur yang tinggi turut memengaruhi rendahnya produktivitas kuartal kedua. “Kita harus bisa menghitung kembali jumlah hari kerja efektif, pasalnya ini punya dampak sangat besar,” ungkap Shinta.

Lebih lanjut, Shinta pun mengusulkan agar bantuan sosial (bansos) mulai diubah menjadi program kewirausahaan sosial, guna menciptakan masyarakat yang lebih mandiri dan produktif. “Ini (program Kewirausahaan sosial) dengan sendirinya mendorong masyarakat meningkatkan produktivitas karena memberikan kail, bukan umpan,” tegas dia.

KADIN juga menyoroti rendahnya tingkat kewirausahaan nasional yang kini masih di angka 3,47%. “(Angka ini) masih cukup jauh dari target 10-12% seperti negara maju,” ungkap Shinta. Ia pun mendesak perbaikan incremental capital output ratio (ICOR) nasional yang masih berada di atas 6%, jauh dari rata-rata ASEAN yang hanya 3-4%.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Umum Bidang Analisis Kebijakan Makro-Mikro Ekonomi KADIN Indonesia Aviliani menyoroti lemahnya dampak kebijakan anggaran terhadap dunia usaha. “Pengusaha melihat apa efek dari pengalihan anggaran ini tidak terdampak pada pengusaha,” ujar Avi, sapaan akrab Aviliani.

Ia juga menekankan perlunya fokus yang jelas dalam belanja pemerintah agar tercipta efek berganda bagi pertumbuhan ekonomi. “Ketika tidak ada fokus, itu juga berpengaruh terhadap multiplier efek ekonomi pada pengusaha dan dunia usaha,” ujar Avi.

Sementara itu, Wakil Menteri Keuangan RI Suahasil Nazara menegaskan pentingnya menjaga fokus pada strategi jangka menengah dan panjang di tengah ketidakpastian global yang terus meningkat saat ini.

Menurut Suahasil, kondisi global saat ini ditandai dengan melemahnya semangat multilateralisme dan meningkatnya kebijakan unilateralisme dari sejumlah negara. Situasi ini memaksa banyak negara dan pelaku usaha untuk mengambil keputusan-keputusan jangka pendek.

“Kalau kita ikut dengan gaya dunia yang hanya terpaku pada jangka pendek, maka kita tidak akan ke mana-mana,” kata Suahasil.

Suahasil juga mengajak seluruh pelaku usaha untuk memperkuat kolaborasi dan mendorong penggunaan produk dalam negeri. “Hanya dengan cara ini kita bisa melipatgandakan multiplier ekonomi nasional,” tandasnya. (*/ ted)