Opini  

Membaca Antologi Puisi “Kapan Pulang, Nak?” Karya Ali Adhim

Ali Adhim (kanan) berdiri di samping Ketua Paguyuban Perumahan GMJR Bantul Yogyakarta Aris Widihartanto (berblangkon) saat acara “Guyub Buku GMJR”, Minggu 18/5/2025. (Foto : Anto Margono)

bernasnews – Antologi atau bunga rampai secara harafiah diturunkan dari kata Bahasa Yuhani yang berarti “karangan bunga” atau “kumpulan bunga”. Kemudian disimpulkan menjadi sebuah kumpulan dari karya-karya sastra. Istilah populernya adalah “bunga rampai”. Dengan kata lain, antologi puisi adalah kumpulan karya sastra dalam bentuk puisi yang dibukukan, baik dari karya satu penyair maupun dari berbagai penyair.

Kali ini, penulis, pendidik dan kreator digital asal Yogyakarta, Ali Adhim, hadir dalam sebuah karya antologi puisi bertajuk “Kapan Pulang, Nak?” (Dawuh Guru Indonesia, April 2025). Buku setebal 156 halaman ini berisi 123 item puisi. Untuk yang bicara tantang anak ada 4 puisi, bicara tentang ayah 9 puisi, bicara ibu 7 puisi, dan bicara ayah ibu 4 puisi. Selebihnya bicara mulai Dunia yang Terselip sampai Nak, Kamu Pasti Bisa.

Membaca dan terlebih menulis puisi itu tidak mudah bagi sebagian (besar) orang. Sebaliknya, sebagian yang lain merasa mudah, suka dan rindu membaca dan menulis puisi. Namun yang pasti, puisi itu disukai atau belum/tidak disukai akan dengan suka cita hadir. Bahkan ada pernyataan, dunia tanpa puisi, akan jadi seperti apa?

Di bawah judul buku di cover depan ada kalimat : Kalau doaku lupa alamat, ada Doa Ibu dan Ayah, yang lebih hafal jalan pulang, daripada aku sendiri. Di cover belakang : Ibu menjahit bintang di langit agar malamku tak kelam. Ia menuangkan kasih sayangnya, dalam panci berIsi sup, lalu berkata : Makanlah, di dalamnya ada cintaku.

Buku “Kapan Pulang, Nak?” secara permukaan narasi terkesan sederhana, namun mampu menggetarkan hati pembaca. Bahwa dalam hiruk pikuk dunia, penulis yakin, ada suara lembut yang selalu menunggu : pulanglah.

Di balik keseharian yang tampak biasa, tersembunyi kisah-kisah tentang cinta tanpa syarat, pengorbanan kecil yang berarti besar, dan kerinduan terhadap anak-anak telah tumbuh dan merantau.

Melalui potongan-potongan kisah yang hangat, buku ini mengajak pembaca menyelami makna keluarga, rindu, dan harapan yang tak pernah padam. Kisah tentang waktu yang berjalan perlahan, tentang tangan-tangan renta yang masih ingin memberi, dan tentang bagaimana rumah selalu menjadi tempat di mana cinta pertama dan terakhir bersemayam.

Secara umum dan alami, ayah dan ibu pasti menyayangi anak-anak mereka, Sebaliknya, anak-anak juga diharapkan menyayangi orangtua mereka. Apakah ada pengecualian di dunia ini? Jawabnya adalah ada. Artinya, ada ketidakcintaan, ketidakcocokan, ketidakakuran di antara anggota keluarga itu. Hasilnya tidak akan ada kehangatan, keharmonisan, dan cinta kasih. Ini sungguh sangat disayangkan.

Bersyukur dan beruntung, itu tidak terjadi dalam keluarga penulis buku ini. Ali Adhim yang warga Perumahan Green Mutiara Java Regency (GMJR), Guwosari, Pajangan, Bantul, Yogyakarta ini memberikan nilai plus yang bermakna dari kehangatan di keluarga mereka dengan karya buku antologi puisi bertajuk “Kapan Pulang, Nak?”. Kita sebagai pembaca dapat belajar dan merefleksi diri atas hubungan keluarga kita masing-masing. (Anto Margono, Pegiat Literasi di Yogyakarta)