Opini  

Wawancara : Jangan Pernah Membunuh Pertanyaan

Dua buku karya siswa kelas 6 SD Marsudirini Yogyakarta, “Wawancara Warcil” (2023) dan “Wawancara Wartawan Cilik” – Berani Bereksplorasi dan Berkolaborasi (2024). (Foto : Humas MMB)

bernasnews – Jangan pernah membunuh pertanyaan/ Ia adalah benda yang rapuh/ Pertanyaan yang baik pantas untuk hidup/ Kita tidak perlu banyak menjawab sebagaimana kita berbincang dengannya/ Pertanyaan besar adalah permanen dan bakat yang diberkati dari pemikiran/

Tetapi pertanyaan yang paling besar dari segalanya adalah yang membangun jembatan ke dalam hati menyebut orang seutuhnya/ Tak boleh ada jawaban yang dirancang untuk membunuh pertanyaan/ Ketika kita terlalu dogmatis, atau terlalu yakin, kita menunjukkan rasa tidak hormat kepada kebenaran dan pertanyaan yang menuju kepadanya/

Di balik jawaban saya, selalu ada yang lebih, lebih banyak cahaya yang menunggu untuk masuk dan gelombang makna yang tak ada habis-habisnya siap untuk memecah pantai yang memperluas kebijaksanaan/ Kapan pun ada pertanyaan, biarkanlah ia hidup.

(Dari “Jangan Pernah Membunuh Pertanyaan”, dalam Bless My Growing, Gerhard Frost, 1974).

Pada awalnya adalah bertanya. Dari proses bertanya, mencari jawab atas berbagai macam peristiwa, persoalan atau dinamika hidup, lahirlah sebuah produk media. Dari proses wawancara, lahirlah jawaban, pemikiran, gagasan, keprihatinan, gugatan, harapan dan kebenaran.

Tugas utama wartawan pada dasarnya adalah bertanya, bertanya dan terus bertanya. Dia harus bertanya kepada narasumber, bertanya kepada fenomena, dan bertanya kepada teks-teks bacaan. Dalam wawancara ada persoalan psikologis, ada persoalan perspektif, ada persoalan kemampuan berbicara, ada persoalan kebenaran yang harus diungkap.

Tidak semua orang, saksi, atau narasumber mau dan mampu diwawancara dengan baik. Kadang-kadang dia tidak siap untuk itu, tidak mau, atau memang tidak mampu menjawab pertanyaan. Sebaliknya, tidak semua wartawan mampu bertanya secara baik setiap waktu. Memiliki rasa ingin tahu yang besar pun tidak cukup. Harus ada keterpaduan dengan pengetahuan, perspektif, semangat dan vitalitas untuk bertanya.

Dalam jurnalistik, pers, media massa, ruang redaksi berita kegiatan wawancara oleh wartawan merupakan dinamika yang harus senantiasa hidup dan dihidupkan. Orang yang melakukan wawancara disebut interviewer atau pewawancara, sedangkan orang atau mereka yang diwawancara disebut interviewe.

Apakah melakukan wawancara hanya dapat dilakukan oleh wartawan yang organik di media? Tentu saja tidak. Setiap orang, yang mau dan  mampu, dapat melakukan wawancara kepada seseorang untuk memperoleh informasi atau pendapat sebagai bahan tulisannya. Bahkan anak-anak siswa sekolah dasar pun dapat melakukannya.

Para siswa kelas 6 Sekolah Dasar (SD) Marsudirini Yogyakarta dalam tiga tahun terakhir ini memperoleh pembekalan teknik wawancara dan melaksanakan wawancara kepada para narasumber pejabat di Pemerintah Kota Yogyakarta. Dari hasil wawancara itu, mereka tulis dan kemudian dibukukan oleh pihak sekolah. Karya mereka ini sebagai pengganti buku tahunan sebelumnya yang berisi profil singkat siswa.

Dua buku yang sudah dihasilkan adalah ”Wawancara Warcil” (2023) dan ”Wawancara Wartawan Cilik” – Berani Bereksplorasi dan Berkolaborasi (2024). Buku pertama berisi wawancara dengan Kapoltresta Yogyakarta; Staf Dinas Lingkungan Hidup Yogyakarta; Kasdim 0734 Yogyakarta; Kepala Dinas Kebudayaan Yogyakarta; Staf Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Yogyakarta; Kepala Dinas Pariwisata Yogyakarta; Ketua DPRD Yogyakarta; dan Kepala Dinas Dikpora Yogyakarta.

Buku kedua berisi wawancara dengan Ketua Pelaksana Tugas PMI Kota Yogyakarta; Kepala Dinas Kominfosan Kota Yogyakarta; Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta; Staf Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Yogyakarta;  Sekretaris Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Yogyakarta; Team Leader Distribusi Jaringan Listrik PLN UP3 Yogyakarta; Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kota Yogyakarta’ dan Mantri Anom Kemantren Gondomanan Yogyakarta.

Kepala SD Marsudirini Yogyakarta FX Oktaf Laudensius, S.Si., M.M. mengemukakan, para siswa semangat dalam melaksanakan program Wawancara Wartawan Cilik (Warcil). Mereka senang memperoleh bekal materi wawancara dan praktek di  lapangan yang didampingi oleh guru kelas dan narasumber.

TIGA JENIS WAWANCARA

Pada dasarnya ada tiga jenis wawancara yakni (1) information interview, (2) feature interview / personality interview dan (3) opinion interview.

Information interview adalah wawancara yang dilakukan untuk memperoleh keterangan atau informasi mengenai suatu peristiwa. Kemudian Feature interview / personality interview adalah wawancara untuk mengorek kehidupan seseorang khususnya yang punya nama besar atau dikenal banyak orang. Yang dapat jadi layak berita adalah “orang besar dalam peristiwa kecil” atau “orang kecil dalam peristiwa yang besar”. Sedang Opinion interview adalah wawancara untuk memperoleh pendapat seseorang.

Narasumber satu dengan lainnya tentu saja tidak sama. Ada yang murah informasi, ada yang pelit informasi. Ada yang ramah, ada yang tidak ramah. Maka pewawancara harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Pewawancara harus menaruh rasa hormat kepada narasumber, tidak bertindak gegabah, mengajukan pertanyaan dengan jelas, tidak bertele-tele, dan menyiapkan peralatan yang diperlukan seperti tape recorder, kamera, notes, dan sebagainya.

Berdasar survey dan pengalaman wawancara selama ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam wawancara, yakni : Hindari kata-kata dengan makna ganda. Penyusunan kalimat yang tidak jelas dan kabur, istilah-istilah yang emosional, dan pernyataan reporter yang disamarkan dalam pertanyaan kurang bermanfaat dalam memperoleh bahan yang bernilai berita. Hindari pula pertanyaan yang panjang.

Kemudian sebutkan waktu, tempat dan konteks yang Anda maksud untuk dipahami responden. Jangan menuntun sumber berita dengan menyatakan jawaban yang dikehendaki  dan tidak menyebut alternatif lain.

Seringkali membantu untuk mengajukan pertanyaan dalam pengertian pengalaman responden sendiri yang mutakhir ketimbang secara umum. Selanjutnya, reporter harus ingat bahwa pertanyaan-pertanyaan susulan diperlukan dan hampir selalu membantu.

Mengumpulkan fakta untuk disampaikan kepada publik sebagai bahan informasi merupakan tugas pokok wartawan. Motivasi dari tumbuhnya media massa, menurut Jakob Oetama (1985), ialah memenuhi rangsangan ingin tahu masyarakat. Dalam masyarakat tertutup rangsangan ingin tahu cukup dipenuhi oleh komunikasi wawanmuka dan kabar dari mulut ke mulut. Masyarakat industri yang tumbuh melalui masyarakat dagang dan membangun kehidupan kota tidak lagi dapat dipenuhi kebutuhannya oleh informasi komunikasi wawanmuka dan kabar kabur.

Dalam jurnalistik dikenal istilah ”spot news” dan ”trend news”. Spot news adalah berita tentang peristiwa yang serempak, tampak, terbuka, konkret dan aktual. Trend news berita tentang peristiwa yang tadinya tersembunyi, tidak tampak, berada di bawah permukaan, baru menunjukkan pertanda-pertanda. Kejadian baru menjadi aktual setelah diungkapkan oleh wartawan. Dalam trend news wartawan mencari peristiwa primer, sekunder dan tersier. Peristiwa primer serupa dengan spot news, peristiwa sekunder analog dengan trend news, sedangkan peristiwa tersier adalah kejadian masa lampau yang diaktualkan kembali.

Baik dalam spot news, trend news maupun kejadian masa lampau dapat dilakukan wawancara. Dengan wawancara, tulisan berita, feature dan reportase akan lebih komplit, mendalam, menyentuh dan aktual. (Y.B. Margantoro, Wartawan dan Pegiat Literasi)