
bernasnews – Revolusi Industri 5.0 tidak hanya membawa kecanggihan teknologi, tetapi juga menggiring kita pada pertanyaan yang lebih mendasar: apa makna kemajuan jika manusia tersingkir dari pusat pembangunan? Ketika kecerdasan buatan, robotik, dan sistem otomatis menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, saat itulah kita perlu kembali pada akar nilai bangsa, yakni Pancasila.
Di tengah geliat digitalisasi, penulis melihat Pancasila bukan hanya dasar Negara, tetapi juga sistem navigasi moral untuk menuntun Indonesia tetap menjadi bangsa yang beradab di era disrupsi.
Sebagaimana ditegaskan oleh Prof. Dr. Kaelan dari UGM Yogyakarta, Pancasila adalah filsafat hidup bangsa yang bersumber dari nilai-nilai budaya Nusantara. Artinya, Pancasila bukan produk copy-paste dari ideologi luar, tetapi lahir dari kebijaksanaan lokal yang teruji oleh zaman.
Namun, mengapa kita perlu membumikan Pancasila di era Industri 5.0? Karena teknologi bersifat netral dia dapat menjadi alat untuk menciptakan keadilan atau justru memperlebar jurang kesenjangan. Nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab dalam Pancasila, misalnya, mengingatkan kita bahwa kecanggihan teknologi harus berpihak pada kemaslahatan manusia, bukan hanya kepentingan pasar. Nilai Persatuan Indonesia juga amat krusial. Di tengah dunia maya yang sering memicu polarisasi dan disinformasi, gotong royong dan rasa kebangsaan harus diperkuat agar generasi digital tetap berakar pada jati diri bangsa.
TANTANGAN KAUM MUDA
Tantangan terbesar kini terletak di pundak generasi muda. Mereka hidup dalam dunia yang hyper digital: informasi datang dalam hitungan detik, identitas terbentuk lewat algoritma media sosial, dan keputusan sering kali dikendalikan oleh tren global. Dalam situasi seperti itu, nilai-nilai luhur bangsa kerap terpinggirkan oleh pragmatisme dan budaya instan. Akibatnya, tidak sedikit anak muda yang merasa asing dengan Pancasila merasa itu hanya milik masa lalu, bukan panduan untuk masa depan.
Padahal, generasi muda sejatinya adalah aktor utama dalam Revolusi Industri 5.0. Mereka adalah pembuat konten, perancang aplikasi, inovator startup, bahkan politisi masa depan. Maka penting bagi mereka untuk tidak hanya melek digital, tetapi juga melek ideologis dan kultural.
Di sinilah peran falsafah lokal seperti ajaran Jawa menjadi relevan. Falsafah “Sura dira jaya ningrat, lebur dening pangastuti” mengajarkan bahwa kekuatan tidak semestinya ditunjukkan lewat dominasi, tetapi melalui kelembutan, kasih sayang, dan kebijaksanaan. Ini penting untuk generasi yang kini membangun “dunia baru” berbasis teknologi, agar tidak terjebak pada logika kekuasaan tanpa nilai. Demikian pula “Memayu hayuning bawana” yang berarti menjaga harmoni dunia, relevan dengan prinsip keberlanjutan.
NGAYOMI DAN NGAYEMI
Budayawan Jawa Dr. Djoko Suryo, menyebut bahwa dalam pandangan budaya Jawa, teknologi adalah alat untuk ngayomi lan ngayemi melindungi dan menentramkan masyarakat. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila tidak boleh berhenti sebagai jargon atau dokumen administratif. Ia harus dihidupkan dalam keseharian, termasuk dalam cara kita bersikap di dunia digital, membangun sistem teknologi, hingga merancang kebijakan publik.
Tantangan utama saat ini adalah bagaimana menginternalisasi nilai-nilai Pancasila di tengah derasnya budaya luar yang masuk lewat gawai. Di sinilah urgensi pendidikan karakter bukan sekadar menghafal, tapi menghidupkan Pancasila dalam kehidupan nyata. Etika digital, semangat musyawarah, gotong royong, dan keadilan sosial harus menjadi pondasi penggunaan teknologi.
Falsafah Jawa memberi tuntunan bijak yang tetap relevan. Ajaran “Ajining dhiri saka lathi, ajining raga saka busana” mengajarkan pentingnya menjaga martabat melalui tutur kata dan perilaku, termasuk di ruang digital. Ujaran kebencian, hoaks, dan provokasi justru mencederai nilai kemanusiaan dan kebangsaan.
Membumikan Pancasila bukan nostalgia, tapi strategi masa depan. Tanpa nilai, teknologi kehilangan arah. Indonesia akan unggul jika kemajuan digital dibarengi budi pekerti dan jati diri bangsa. Salam Pancasila. (mar/Dody Junianto, S.E., M.Eng., Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Industri Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY)











