bernasnews – Momentum peringatan 100 tahun seseorang yang antara lain ditandai dengan penerbitan buku, pada dasarnya memberikan makna dan manfaat istimewa. Alasan dan tujuannya pun jelas, misalnya, mengapresiasi karya dan dedikasi yang bersangkutan, membangun karakter Bangsa melalui buku, menanamkan nilai-nilai kejuangan kepada generasi muda, dan meneguhkan keistimewaan Yogyakarta sebagai Kota Budaya.
Hal itu pulalah yang terjadi dan dilaksanakan untuk mengenang 100 tahun seniman multitalenta Saptohoedojo. Keluarga besar seniman itu bersama KOSETA (Koperasi Jasa Seniman dan Budayawan Yogyakarta) dan para pihak mengadakan berbagai agenda, antara lain peluncuran buku “Saptohoedojo : Seni, Rakyat, dan Keabadian” di Art Gallery Saptohoedojo, Jalan Solo Km 9, Yogyakarta, Selasa (20/5/2025).
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY Lakshmi Pratiwi, S.S., M.A. dalam kata pengantar mengemukakan, buku tentang Saptohoedojo setebal 312 halaman itu tidak hanya mengenang perjalanan kehidupan Saptohoedojo, tetapi juga menggali lebih dalam karya-karya, pemikiran, dan pengabdian dia dalam dunia seni rupa Indonesia. Sebagai sebuah trilogi, buku ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk memahami, mencintai dan melestarikan warisan seni budaya bangsa.
Peringatan 100 tahun Saptohoedojo menjadi momentum penting untuk merefleksikan dedikasi dan semangat dia dalam mengembangkan nilai-nilai seni yang luhur. Diyakini, penerbitan buku ini akan memberikan wawasan berharga, tidak hanya bagi para pecinta seni, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Indonesia.
TUJUH SKETSA INSPIRATIF
Sesuai dengan namanya Sapto, dan anak ketujuh dari 18 bersaudara keluarga dokter Kraton Surakarta KRT Hendronoto, paling tidak ada tujuh sketsa inspiratif Saptohoedojo yang bersumber dari buku “Saptohoedojo dalam Liputan Media” (editor YBM dan FSY, 1993) dan “Saptohoedojo : Seni, Rakyat, dan Keabadian” (editor YBM, 2025).
Pertama, Saptohoedojo adalah pribadi yang cinta kepada Tuhan dan keluarga. Dalam tulisan “Jumpa Keluarga Saptohoedojo” (YBM, 1993), diungkapkan, Saptohoedojo adalah seorang Muslim yang saleh. Jadi meskipun dia sibuk bekerja, lupa makan, lupa tidur, lupa mandi pagi, namun ia selalu berusaha sembahyang lima waktu. Di sebelah selatan tempat kerjanya yang antik, terdapat ruang cukup luas sebagai kamar sembahyang.
Memasuki kamar ini suasana terasa teduh. Sinar lampu temaram. Di pojok timur terdapat sebuah meja kaca dengan berbagai buku masalah Agama Islam. Sedangkan kecintaan kepada keluarga, selama ini sudah saling merasakan. Dia mencintai dan dicintai keluarga.
Kedua, Saptohoedojo cinta kepada seni dan masyarakat. Tentang hal ini sudah tidak perlu diragukan lagi. Seluruh hidupnya dicurahkan untuk seni, baik seni lukis, seni kriya, seni kolase. Kecintaan itu terlihat dari dinamika keseharian, hasil karya dan keperuntukan atau tujuannya bukan hanya untuk diri sendiri namun juga untuk masyarakat. Kecintaan kepada wanita, terutama dari sisi keindahannya, turut mendorong minat dia untuk mencintai seni. Sapto juga sosok yang mudah tersentuh hati atas penderitaan orang lain dan berusaha membantunya dengan berbagai cara.
Dia ternyata mulai senang menggambar sejak kelas 3 sekolah dasar di Solo. Dia iseng ikut lomba menggambar . Lomba yang diadakan oleh sebuah pabrik sabun mandi itu mengantar dia menjadi juara pertama. Hadiahnya sekotak permen coklat. Tapi hak itu sudah membuatnya senang bukan main. Gambarnya berupa pemandangan, ada gunungnya. Dia menggunakan cat air, kertasnya kecil ukuran postcard.
Seni bagi Sapto, sebagaimana pendapat HM Nasrudidin Anshoriy Ch. (dalam pengantar buku “Saptohoedojo : Seni, Rakyat, dan Keabadian”, 2025), adalah bahasa universal, bersifat abadi, panggilan jiwa yang menyentuh hati orang, profesi yang menjajikan, serta nafas hidup dan ekspresi jiwa yang tidak terbendung.
Ketiga, Saptohoedojo adalah seorang pembelajar, kreator, guru atau orang suka berbagi ilmu kepada orang lain. Meski pendidikan formalnya tidak tinggi, namun berkat ketekunan belajar otodikdak kepada banyak orang dan pihak, dia menjadi ahli dalam bidangnya. Dia pernah “belajar” secara sembunyi-sembunyi dari pelukis ternama Belanda W.G. Hoffker saat sekolah di Rijks Academie Amsterdam pada tahun 1950/1951, juga saat berkesempatan menjadi pelukis istana di Malaysia, melukis seorang putri Bangkok saat usia 21 tahun, sampai permah mengajar di ASRI Yogyakarta.
Keempat, Saptohoedojo adalah seorang Media Darling. Tentang hal ini juga tidak dapat dibantah. Hampir semua wartawan di Yogyakarta pada masanya, juga nasional dan internasional, pernah wawancara dengan pelukis yang selalu berpenampilan rapi itu. Selain karena kemampuan serta kekhasan perjalanan karya dan kehidupannya selama ini, tentu saja juga karena pendampingnya yang cantik memesona yakni Yani Saptohoedojo. Buku “Saptohoedojo dalam Liputan Media” (1993) membuktikan hal itu.
Kelima, Saptohoedojo memberikan warisan kehidupan yang (lebih) baik, bukan hanya kepada keluarganya sendiri, namun juga kepada masyarakat yang memperoleh sentuhan edukasi, kreativitas seni dan bantuannya. Ini misalnya terhadap pengrajin gerabah Kasongan di Bantul, DIY, dan beberapa daerah lain.
Keenam, Saptohoedojo memberikan warisan abadi berupa makam Seniman dan Budayaawan di Imogiri, Bantul, DIY. Ini merupakan komitmen atas penghargaan kepada sesama seniman. Bahwa seniman juga memiliki peran dan sumbangan bermakna bagi Bangsa dan Negara, sebagaimana pahlawan.
Ketujuh, Saptohoedojo memberikan warisan monumental berupa buku yang isinya ada tulisan dia dalam bentuk paparan ceramah dan seminar, hasil wawancara dan liputan wartawan, maupun refleksi banyak penulis. Perjalanan kehidupan, karya, pemikiran, inspirasi dan motivasi, serta pengaruh dia terangkum dalam buku itu.
Saptohoedojo abadi dalam cinta, kenangan, karya seni monumental, sentuhan kemanusiaan, sampai karya tulis dan buku-buku tentang dia. Selamat 100 tahun Saptohoedojo pada 2025. (Y.B. Margantoro, Wartawan dan Pegiat Literasi)











