bernasnews – Di halaman rumah penulis dulu, ada kupu – kupu biru yang selalu muncul setiap pagi. Anak-anak menyebutnya penjaga pagi. Kini setelah beberapa tahun ia tak pernah muncul lagi. Sungai tak jauh dari rumah juga perlahan mulai kehilangan capung-capung yang biasa terbang dan menukik di aliran airnya. Bahkan saat malam mulai datang, kunang-kunang nyaris tak lagi terlihat. Kita telah banyak kehilangan makhluk kecil bukan karena bencana besar, tetapi karena pelan-pelan kita lupakan.
Hari Keanekaragaman Hayati 22 Mei kembali datang – dan seperti biasa, ia mampir tanpa banyak riuh. Di tengah banjir informasi dan gelombang berita yang datang silih berganti, kabar tentang spesies yang punah nyaris tak pernah mucul di halaman depan. Seolah-olah kehilangan satu makhluk bukanlah tragedi. Padahal, keanekaragaman hayati adalah fondasi kehidupan kita. Tanpa mereka -yang sering dianggap kecil, asing, atau tak penting- rantai kehidupan akan runtuh. Bukan hanya tubuh mereka yang hilang, namun kita juga kehilangan cerita, mitos, dan suara-suara yang harusnya dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya
KACER, SULINGAN DAN ELANG JAWA
Ambil contoh Kacer, burung kecil bersuara merdu yang dulu kerap hinggap di pagar atau ranting pohon talok depan rumah. Di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yoyakarta (DIY) kicauannya adalah musik pagi yang alami. Kini, suara itu makin jarang terdengar. Banyak Kacer ditangkap dan dijual atau dilombakan. Suara yang mestinya bebas liar kini banyak terkurung di sangkar, dijadikan hiburan segelintir orang.
Masih ada burung Sulingan, bertubuh mungil, mata bulat dan suara bernada tinggi, dulu berkeliaran di tepi-tepi hutan Menoreh. Suaranya seperti siulan yang terselip dalam senyap, memberi isyarat bahwa hutan masih hidup. Tapi kini ia nyaris punah. Kita hanya menemukan ceritanya dari catatan para pengamat burung yang makin sedikit jumlahnya.
Berapa banyak anak-anak sekolah di Kulon Progo yang tahu tentang Kacer dan Sulingan? Tentang suaranya, bentuk dan warnanya, atau bahwa burung-burung ini pernah menjadi bagian dari halaman rumah dan langit desa mereka? Apakah mereka mengenalnya, atau nama-nama itu akan segera terdengar asing-seperti kosa kata kuno dalam kamus yang tak lagi dibaca?
Di sisi langit yang lebih tinggi, ada Elang Jawa. Burung agung yang menjadi lambang negara kita, sang Garuda. Ia masih sesekali berputar di atas punggung Merapi, di antara kabut di langit. Tapi banyak yang belum tahu bahwa burung ini hanya bertelur satu kali dalam setahun. Burung ini membangun sarang di pohon tertinggi. Ia adalah lambang kehormatan ekologis yang justru kehilangan tempat tinggalnya karena pembukaan lahan, penebangan liar, dan pembangunan yang tidak bertumpu pada konsep keberlanjutan.
Kacer, Sulingan dan Elang. Mereka bukan hanya makhluk biologis. Mereka harus dijaga, agar nama-namanya tidak hilang dari percakapan sehari-hari. Dalam dunia literasi, keanekaragaman hayati kerap absen. Cerita anak – anak dipenuhi tokoh binatang yang itu-itu saja, kelinci, singa, kucing, kancil. Padahal negeri kita punya ribuan makhluk luar biasa yang dapat menjadi jendela bagi anak-anak untuk mengenal alam dan menumbuhkan empati ekologis. Di sinilah kita dapat menjadi jalan penyelamat.
Buku dapat menjadi suaka terakhir bagi mereka yang terusir dari hutan. Tulisan dapat menjadi pemakaman yang layak bagi makhluk yang punah tanpa sempat kita kenal. Dan cerita dapat menjadi tanda bahwa mereka pernah ada.
PERANAN PEGIAT LITERASI
Penulis, pembaca, dan pegiat literasi punya peran penting sebagai penjaga ingatan ekologis. Kita dapat mulai dari hal kecil; menulis cerita atau mendongeng tentang burung Kacer, burung Sulingan atau burung Elang Jawa untuk anak-anak. Menyelipkan nama-nama mereka dalam dongeng. Atau merekam suara burung yang kita dengar pagi hari, lalu menjadikannya esai pendek. Setiap tindakan mencatat adalah perlawanan terhadap pelupaan. Karena selama masih ada yang membaca dan menulis tentang makhluk-makhluk itu mereka belum benar-benar hilang.
Literasi bukan hanya urusan aksara, tetapi juga cara melihat dan memberi makna. Kita membaca tak hanya dengan mata, tapi juga dengan kepekaaan terhadap dunia sekitar. Dalam konteks krisis keberagaman hayati, kepekaan ini harus diperluas dari sekedar ”membaca buku” menjadi “membaca alam”. Setiap perubahan lanskap, suara yang lenyap dari hutan, atau pola musim yang berubah adalah teks ekologis yang menanti untuk ditafsirkan. Sayangnya, banyak dari kita kehilangan kemampuan untuk membacanya karena terlalu lama terputus dengan alam.
Di sinilah pentingnya literasi ekologis – sebuah gerakan yang menghubungkan kemampuan baca-tulis dengan kesadaran terhadap krisis lingkungan. Literasi ekologis mengajak kita bertanya : Mengapa Elang Jawa hanya bertelur satu kali dalam setahun? Apa makna hutan Menoreh bagi masyarakat sekitar? Ini bukan sekadar pengetahuan, tapi ajakan untuk hidup lebih selaras dengan alam dan penuh hormat terhadap makhluk lain.
Majalah, buku, cerita pendek, dongeng, hingga blog, dapat menjadi medium penting untuk menyebarkan benih-benih kesadaran ini. Tak perlu menunggu jadi ahli lingkungan – cukup jadi pencerita yang jujur dan peduli. Justru suara-suara dari desa, dari pejalan kaki, dari pengamat di tepi hutan itulah yang sering membawa kesegaran dalam narasi yang terlalu sering dibentuk dari ruang-ruang akademik dan statistik belaka.
Ditambah lagi era banjir informasi seperti sekarang, tulisan literasi yang peka ekologis dapat menjadi jangkar kesadaran dan penyeimbang. Di antara konten instan dan tulisan ekonomi yang kerap mengorbankan alam, cerita-cerita kecil tentang makhluk yang terlupakan dapat menyusup ke hati pembaca- dan barangkali mengubah cara mereka melihat sebatang pohon, seekor semut, setetes embun, atau secuil tanah yang masih basah oleh hujan.
Maka mari menulis dengan kehadiran. Bukan hanya tentang apa yang kita tahu tetapi juga tentang apa yang kita jaga. Mari membiasakan menyebut nama-nama lokal seperti Elang Jawa, Kacer, dan Sulingan, juga nyiur, ngarai, dan hutan keramat. Mari kembalikan alam ke dalam buku — bukan sebagai latar — namun sebagai tokoh yang hidup, kompleks, dan layak didengar.
Karena mungkin, satu-satunya suara yang masih dapat menyelamatkan bumi adalah suara yang ditulis dengan kasih, kasih yang tak menuntut balasan, hanya ingin menjaga agar yang diam tetap ada, dan yang nyaris punah tetap punya nama.
Keanekaragaman hayati Indonesia tak hanya terancam di rimba yang makin menyusut, di langit yang makin sepi, dan di tanah yang tak lagi layak huni. Ia juga terlupa di halaman-halaman buku, di ruang kelas, dan di imajinasi kita. Saat anak-anak lokal tumbuh tanpa tahu nama Kacer dan Sulingan, saat cerita rakyat tak lagi menyebut Elang Jawa. Kita tak hanya kehilangan spesies, tapi juga kehilangan bahasa untuk mencintai alam. Sudah waktunya kita menulis untuk mengingat, menyebut nama-nama yang nyaris hilang, dan memberi mereka tempat yang layak di alam dan di dalam buku.
Seperti pepatah dari tanah Mataram : “Sangkan paraning dumadi kudu eling lan waspada”, kita harus ingat dari mana kita berasal, dan waspada ke mana kita melangkah. Karena kehilangan satu makhluk adalah kehilangan satu jejak asal usul. Dan menuliskannya kembali adalah bentuk tanggungjawab kita sebagai pewaris sekaligus penjaga kehidupan. (mar/Atiek Mariati, Pegiat Lingkungan Hidup di Kulon Progo, DIY)











