bernasnews – Pada akhir misa kudus bersama dengan mendiang Paus Fransiskus di GBK Jakarta September 2024 yang lalu, Paus Fransiskus menyampaikan kepada seluruh umat Katolik di Indonesia: fate chiasso! yang secara harafiah berarti “bikinlah keributan” atau “buatlah bergemuruh”.
Banyak orang bertepuk tangan dan heboh dengan kata-kata Paus Fransiskus ini, meskipun mungkin tidak banyak yang paham artinya. Tepuk tangan dan gemuruh dari sekian banyak orang yang hadir, meskipun tidak didasari oleh pemahaman yang utuh, ternyata secara tidak sengaja telah menjadi wujud ungkapan fate chiasso ini.
Ungkapan fate chiasso adalah harapan Paus Fransiskus supaya umat Katolik Indonesia meramaikan dan menghebohkan kehidupan bersama di mana pun berada. Sekaligus juga menjadi seruan supaya umat Katolik mengambil peran dalam kehidupan bernegara di Indonesia.
Ungkapan dari paus ini pada kenyataannya sangat terkait erat dengan harapan paus pasca Siode Uskup pada tahun-tahun sebelumnya. Harapan paus yang nampak dalam kata-kata tersebut, ternyata ingin menampilkan dimensi kebersamaan sebagai umat Allah yang bersinergi dan bergandengan tangan dengan siapapun yang berkehendak baik.
Selain itu, Paus Fransiskus yang pada Oktober 2023 secara resmi membuka Sinode Para Uskup ke-XVI dengan tema “Menuju Gereja Sinodal: Persekutuan, Partisipasi dan Misi” sangat memberi perhatian pada Sinodalitas dalam Gereja. Sinode yang berasal dari bahasa Yunani: Syn yang artinya bersama dan (h)odos yang artinya jalan, adalah cerminan keinginan Gereja yang ingin berjalan bersama mencapai kesejahteraan bersama (bonum commune).
Dua ungkapan Paus Fransiskus yang disampaikan di atas kepada kita adalah sebuah semangat dan kesadaran, bahwa barangsiapa ingin membikin keributan/membuat gemuruh hendaknya dilakukan secara sinodal dan tentunya memiliki tujuan untuk kesejahteraan bersama. Paroki Santo Yakobus Bantul, DIY pada tahun ini juga mengajak umat untuk mewujudkan semangat sinodalitas dalam Gereja sehingga semakin bergemuruh dengan tema 3B, yakni : Belajar, Berbenah dan Berbuah.
BELAJAR : Belajar adalah proses mengubah tingkah laku, menambah pengetahuan, melatih keterampilan, sikap dan nilai yang positif melalui pengalaman pribadi. Disposisi seseorang yang belajar adalah sebagai murid. Seperti murid-murid Tuhan, seluruh umat diajak untuk mau dan terbuka dibentuk oleh Tuhan lewat sesama dan pengalaman dalam proses sinodal : “lungguh bareng, rembugan bareng, mutuske bareng lan nandangi bareng”. Umat di Paroki Bantul diharapkan semakin terbuka, giat, taat dan setia untuk belajar segala sesuatu yang baru/belum diketahui dan tujuannya baik terutama lewat proses kerjasama dengan siapapun yang berkehendak baik.
BERBENAH : Berbenah berarti membereskan, merapikan, memperbaiki dan membangun sesuatu yang baru. Umat Paroki Santo Yakobus mengupayakan diri untuk berbenah sehingga hal yang baik semakin ditingkatkan, sedangkan yang kurang baik dapat diperbaiki/diganti. Pribadi yang mau berbenah berarti terbuka untuk menerima masukan, kritik dan saran dalam semangat sinodalitas Gereja. Pada pelayanan umat di paroki ini ternyata cukup banyak hal yang perlu diperbaiki, seperti misalnya: administrasi yang lemah, keuangan yang belum tertib dan transparan, komunikasi yang kurang melibatkan dan lain sebagainya.
BERBUAH : Umat Allah di Paroki Santo Yakobus Bantul yang mau belajar dan berbenah dalam semangat sinodal pada akhirnya akan menghasilkan buah dalam hidup dan pelayanannya. Berbuah adalah suatu kondisi yang dihasilkan dari sebuah proses. Buah dalam hidup umat di Paroki Santo Yakobus Bantul yang diharapkan tentu saja umat semakin CTMD (Cerdas, Tangguh, Misioner dan Dialogis). Selain itu, umat juga berbuah karakter Kristiani seperti cinta kasih, kerendahan hati, kesabaran, ketaatan dan lain sebagainya.
Fate Chiasso! Buatlah keributan dengan proses belajar, berbenah dan berbuah dalam semangat sinodal sehingga hidup kita sesuai dengan panggilan sebagai murid-murid Tuhan. Dengan ketiga proses tersebut, semoga kita semua siap menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat dan memberi dampak positif, sekaligus menjadi berkat bagi orang lain. Semoga Tuhan memberkati setiap usaha kita. Berkah Dalem. (Romo Laurentius Dwi Agus Merdi Nugroho, Pr., Pastor Paroki Santo Yakobus Bantul, DIY. Tulisan ini disampaikan pada peluncuran buletin TINTA HELENA dan buku “Pengharapan di Ujung Pena” di Lingkungan Santa Helena, Bantul, DIY, Sabtu 17 Mei 2025)











