bernasnews – Kurindu pulang, namun juga risau/ Pulang ke mana?/ Bukankah setiap saat aku pulang/ Mengapa terasa belum pulang/ Hanya ritual rutinitas/ Siklus jagat kecil, kumau jagat besar/ Semesta alam/ Namun jiwa masih hampa/ Bekal pulang ke rumah asal. (Yogyakarta, September 2012).
Puisi bertajuk “Pulang” itu karya Drs. Oka Kusumayudha (78) yang kini sudah pulang ke “rumah asal”, kehidupan abadi. Puisi itu terangkum dalam buku kumpulan puisi karyanya. Menurut Ketua Satupena DIY Sutirman Eka Ardhana, “Mas Oka itu juga nulis puisi lho. Buku kumpulan puisinya PULANG. Tapi dia bilang, Saya bukan penyair, tapi saya ingin menulis puisi.”.
Sengaja tulisan ini diawali dengan sebuah puisi pendek berjudul “Pulang” karya Oka Kusumayudha, sosok yang sepanjang hayatnya melekat profesi jurnalis. Puisi yang mencerminkan kegelisahan manusiawi penulisnya, dan kiranya juga mewakili kegelisahan insan manusia dulu, kini dan mendatang. Bahwa setiap insan yang pernah ada dan hadir dunia ini, pada saatnya akan pulang ke Sang Pencipta.
Kabar berpulangnya Oka Kusumayudha, atasan dan sahabat penulis saat memulai karier sebagai jurnalis muda di Harian BERITA NASIONAL tahun 1976, pertama diperoleh dari WAG Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) hari Selasa (13/5/2025) pukul 06.56 WIB. Infonya, suami dari Prof. Dr. Ir. Sari Bahagiarti K., M.Sc. itu meninggal dunia di Rumah Sakit Dr. Sardjito Yogyakarta pukul 05.21. Jenazah almarhum akan dikremasi di TPU Madurejo, Prambanan, Sleman, DIY, Kamis (15/5) pukul 09.00. Segera saja info duka cita itu menyebar di WAG lain dan berbagai komunitas.
Bagi dunia kewartawanan dan kepenulisan khususnya di Yogyakarta nama Oka Kusumayudha sudah tidak asing lagi. Ada banyak wartawan muda pada kurun waktu lebih dari 40 tahun silam yang kariernya sebagai wartawan bersumbu pada Oka, panggilan Oka Kusumayudha. Spirit kewartawanan dan kepenulisan menjadi warisan bagi jurnalis penerus.
Para wartawan muda itu kini telah menjadi wartawan senior, ada yang sudah pensiun, ada yang memegang rupa-rupa jabatan dalam keredaksian, dan ada yang masih aktif sebagai jurnalis. Penulis yang kini masih aktif sebagai jurnalis, pernah menjadi Sekretaris PWI Cabang Yogyakarta tahun 1990-an saat Oka menjadi ketuanya. Oka juga ditunjuk Pengurus PWI Pusat menjadi Anggota Diklat Wartawan Indonesia.
Lahir di desa Gaji, Kuta Utara, Kabupaten Badung, Provinsi Bali tanggal 13 Juni 1946, Oka menempuh pendidikan di Jurusan Publisistik, Fakultas Sosial Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (1965 – selesai). Sambil kuliah dia menjadi wartawan di Skh Suluh Marhen (1966), Skh Berita Nasional, Skh Bernas. Selanjutnya, ayah dari Bagus Ngurah Kresna C, Bagus Alit Arya Y dan Ayu Narwastu C, serta kakek dari cucu-cucu Gendhis, Adya, Arya, Anin, Baruna dan Bima ini pindah ke KR Group dan menjadi pimpinan redaksi di beberapa media itu.
Semasa masih berkarya di sebuah stasiun TV lokal, Oka menginisiasi berdirinya komunitas bernama Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS). Lelaki yang ramah ini berposisi sebagai Pangarsa Abdi Dalem PWS Yogyakarta. PWS adalah paguyuban sosial berbasis kekeluargaan, spontan dan bersifat manasuka, kerelawanan untuk menghimpun mempererat persaudaraan pada saat-saat intensitas kerja sebagai jurnalis yang terinstitusi dalam lembaga pers tidak lagi formal terhubung.
Paguyuban wartawan sepuh, wartawan yang tidak lagi suntuk dan penuh waktu mengerjakan kerja jurnalistik. Meski begitu, sebagian besar dari warga PWS tidak bisa menghentikan “kebiasaan” praktik menulis sebagai perilaku dasar panggilan jiwa seorang jurnalis. Sepanjang tahun 2017 – 2019, PWS Yogyakarta telah menggelar Diskusi Kebangsaan setiap bulan hingga mencapai seri ke-28.
Diskusi Kebangsaan memilih topik-topik strategis yang terkait dengan Ideologi Pancasila dan kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Komunitas ini juga menerbitkan Derap Kebangsaan, Jurnal Kebangsaan PWS dan beberapa buku antara lain “Yang Hilang dari Yogya”, “Yogya Masa Datang”.
“Perjalanan diskusi PWS itu yang di antaranya memicu para wartawan sepuh untuk membongkar ingatan dan catatan pengalamannya untuk ditulis dan diwartakan kepada publik melalui buku,” kata Oka.
Secara pribadi Oka Kusumayudha pernah mewarnai buku penulis (“Masyarakat Berkomunikasi”, Pustaka Nusatama Yogyakarta, Mei 2008) dengan sumbangan tulisan bertajuk “TV Lokal, Sebuah Pilihan”). Dia berpendapat, jika program (televisi) positif semua, maka televisi lokal bisa menciptakan masyarakat yang berbudaya lebih baik. Masalahnya, pengelola televisi seringkali tergoda uang, hingga meninggalkan idealisme. Bukan tidak mungkin, televisi lokal mengalami hal serupa. Ada perlunya bila televisi lokal memberikan pelayanan kepada masyarakat bawah atau akar rumput.
Selamat jalan jurnalis senior Oka Kusumayudha. Tuhan Yang Maha Pengasih menantimu di surga. (Y.B. Margantoro, Wartawan dan Pegiat Literasi)











