bernasnews — Pertemuan tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Tiongkok di Jenewa akhirnya mencairkan kebuntuan dagang global. Keduanya sepakat memangkas tarif secara signifikan selama 90 hari ke depan.
AS menurunkan tarif atas barang impor dari Tiongkok dari 145% menjadi 30%, sedangkan Tiongkok memangkas bea masuk dari 125% menjadi 10% (Farge & Le Poidevin, 2025). Kesepakatan ini membuka peluang pemulihan rantai pasok global dan memberi sinyal bahwa diplomasi ekonomi masih menjadi jalan keluar utama di tengah ketegangan geopolitik.
Dampaknya langsung terasa.
Pasar saham Eropa melonjak, nilai dolar AS menguat, dan kekhawatiran resesi mulai mereda. Saham Maersk, perusahaan pelayaran terbesar dunia, naik 12% setelah sebelumnya mengeluhkan anjloknya volume perdagangan lintas Pasifik (Gupta, 2025).
Langkah ini bukan hanya meredakan ketegangan dua kekuatan ekonomi dunia, tetapi juga mengurangi risiko stagflasi yang menghantui pasar global.
Indonesia harus segera mengambil posisi.
Dalam ketegangan global yang kini mulai mereda, terbuka kesempatan besar untuk memperluas pasar ekspor, menarik investasi, dan memosisikan diri sebagai mitra strategis yang netral dan kredibel.
Pemerintah perlu merespons cepat melalui reformasi iklim usaha, percepatan ratifikasi perjanjian dagang, dan aktivasi diplomasi ekonomi di kawasan Indo-Pasifik.
Kita tak boleh puas hanya menjadi penonton.
Dalam peta ekonomi global yang terus berubah, Indonesia harus bertindak strategis bukan sekadar bertahan, tetapi ikut menentukan arah. (Syafruddin Karimi, Departemen Ekonomi Universitas Andalas)












