bernasnews – Pernah mendengar pernyataan atau lebih tepatnya “olok-olok” sebagai “penyanyi kamar mandi”? Atau ungkapan, “Suaramu itu bagus, tapi akan lebih bagus kalau tidak usah menyanyi”. Dalam hubungan yang akrab atau guyub, antara yang mengolok-olok dan yang diolok-olok, tidak (harus) sampai marah.
Penulis dalam hal bernyanyi berada di posisi kedua. Artinya, tidak memiliki kemampuan bernyanyi. Menyanyi di kamar mandi pun sangat jarang melakukan, karena tahu diri. Kalau pun nekad, maka akan memperoleh komentar seperti di atas. Apakah kita harus marah? Tidak juga. Sebab setiap orang tentu memiliki talenta dan kebodohan tersendiri.
Guyon seperti ini perlu terus diadakan dalam relasi kehidupan untuk menyehatkan psikis dan fisik kita. Hidup itu indah dan tidak usah harus selalu dibuat serius. Selalu ada hari esok dan ada jalan bagi yang memiliki harapan.
Kembali ke soal bernyanyi, penulis mendapat kesempatan – lebih tepatnya keharusan yang tidak menolak – yakni masuk ke dalam tim kerja koor di sebuah lingkungan, Paroki Gereja Santo Yakobus Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Karena lingkungan itu baru dari hasil pemekaran lingkungan sebelumnya yang gemuk warga, maka umat di lingkungan kami hampir semuanya terakomodasi di kepengurusan tim kerja. Salah satu tim kerja yang butuh personel banyak adalah koor!
Tantangan jadi nyata di depan mata. Penulis yang selalu di posisi pendengar, sekarang harus di posisi penyanyi. Semula lebih (nyaman) di posisi U (umat), sekarang harus memilih atau dipilihkan di jenis suara S (sopran), A (Alto), T (Tenor), atau B (Bass). Oleh pelatih, penulis yang berada di kelompok lanjut usia diberikan posisi B.
Tantangan berikutnya, lingkungan kami mendapat tugas koor di Misa Ekaristi Minggu Paskah (20/4/2025) pagi. Tentu saja, sebagai tim baru harus melaksanakan latihan lebih serius. Awalnya sempat terjadi tarik ulur apakah semua peserta koor jadi satu jenis suara atau empat jenis suara. Tim kerja koor akhirnya menetapkan ada empat jenis suara. Ini perjuangan tersendiri!
Karena keterbatasan kemampuan, penulis (dan barangkali beberapa personel lain) melakukan strategi “nggandul” (Jw), yakni mengekor atau menempel ke suara B. Atau kadang memperlemah suara agar tidak ketahuan pelatih yang selalu monitor suara kelompok. Tentu saja pelatih tahu dan hanya tersenyum saja alias maklum.
Namun ada pernyataan pelatih yang menambah semangat bernyanyi tim koor, khususnya penulis, yakni syair dari setiap lagu rohani itu adalah doa. Atau paling tidak, syair setiap lagu pada umumnya pasti mengandung aneka pesan yang bermakna bagi kehidupan. Oleh karena itu, kita harus bernyanyi dengan sungguh-sungguh. Dalam hati penulis, benar juga pernyataan itu. Maka saat kita bernyanyi dengan sepenuh hati dan lebih semangat, ada perasaan damai dan syukur menyeruak dalam sanubari.
Adapun lagu-lagu yang diipilih tim kerja koor lingkungan kami adalah Santo Yakobus (Mars Gereja Santo Yakobus Bantul), Kristus Bangkit, Tuhan Kasihanilah Kami, Kemuliaan, Hari Raya Paskah, Madah Paskah, Alleluya, Syukur kepadaMu Tuhan, Ke Depan Altar, Kudus, Bapa Kami, Anak Domba Allah, Tinggallah di Hatiku, Hai Makhluk Semua, dan Haec Dies.
Semua lagu itu sungguh menyentuh hati atau rohani penulis, sehingga membuat bersyukur dan bahagia. Secara khusus penulis senang dengan lagu “Syukur kepadaMu Tuhan” karena syairnya diciptakan oleh pastor penulis di masa lalu saat tinggal di wilayah Kring Pius X Paroki Bintaran Yogyakarta yakni Romo Al. Budyapranata, Pr. (almarhum).
Penggalan syair berikut ini sangat menyentuh hati penulis :
Dosa kami Kau ampuni, Kau beri hidup ilahi/ kami jadi putraMu
Kami Kau lahirkan pula, untuk hidup bahagia/ dalam kerajaanMu
Syukur kepadaMu, Tuhan, atas baptis yang mulia/ tanda rahmat dan Iman.
Secara keseluruhan, penulis ingat sebuah buku bertajuk “Seri Perjumpaan yang Menginspirasi : SEMUA UNTUK TUHAN” (YBM, Lintang Pustaka Utama, 2015). Dalam buku itu, seorang narasumber mengemukakan, untuk menjalani kehidupan setiap hari dengan semangat ‘semua untuk Tuhan ‘, inspirasinya dia peroleh dari seorang pastor dalam sebuah misa ekatisti. Dia sangat terkesan hal itu, dan ketika dia memulai kegiatan harian pagi dengan doa dan membaca kitab suci, kemudian di sekolah melaksanakan program perwalian, dia merasakan bahwa semua hal yang dilakukan menjadi lebih nyaman, bersungguh-sungguh dan bermakna.
Maka saat kita bernyanyi khususnya, dan menjalani dinamika kehidupan sehari-hari pada umumnya, (melakukannya) untuk Tuhan, bukankah akan lebih baik dan memberikan makna yang hebat? Penulis percaya hal itu dan mencoba melakukannya, meski tidak selalu berjalan mulus dan berhasil. Namun keyakinan atau iman yang dilaksanakan dengan penuh harapan dan kasih, kiranya akan memberikan berkat yang melimpah. (Anto Margono, Lingkungan Santa Helena, Paroki Gereja Santo Yakobus Bantul DIY).











