Opini  

Merawat Kehidupan : Merawat Hutan dan Air

Hutan dan air harus senantiasa kita rawat bersama demi kehidupan kini dan mendatang. (Ilustrasi : Istimewa)

bernasnews – Bukan kebetulan jika Hari Hutan Sedunia dan Hari Air Sedunia diperingati secara berurutan, masing-masing pada 21 dan 22 Maret. Hutan dan air adalah dua elemen utama kehidupan yang saling bergantung dan tak terpisahkan, sehingga keberlanjutannya menjadi tanggung jawab bersama. 

Tema peringatan tahun 2025 menyoroti keterkaitan tersebut: hutan sebagai sumber inovasi dan solusi bagi tantangan global—termasuk perubahan iklim dan kelestarian lingkungan—serta gletser sebagai penyedia air bersih yang berperan penting dalam siklus air global.

Namun, krisis iklim telah mempercepat pencairan gletser, sementara luas hutan terus menyusut akibat deforestasi dan alih fungsi lahan. Kedua ancaman ini memperburuk ketahanan lingkungan dan mengganggu keseimbangan ekosistem. Kita tidak dapat lagi menutup mata. Inilah keprihatinan yang harus segera ditanggapi dengan aksi nyata.

HUTAN DAN GLETSER : DUA ELEMEN PENENTU SIKLUS AIR GLOBAL  

Hutan dikenal sebagai paru-paru dunia, menghasilkan oksigen dan menyerap karbon dioksida. Lebih dari itu, hutan juga menjaga keseimbangan hidrologi dengan melindungi daerah tangkapan air, mengatur curah hujan, serta mempengaruhi suhu dan iklim global. Fungsinya sangat krusial dalam mencegah bencana seperti banjir dan longsor.

Namun, ketika hutan mengalami kerusakan, dampaknya sangat luas: penurunan kualitas udara, meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi, dan terganggunya siklus air. Bahkan, deforestasi juga mempercepat pemanasan global, yang pada gilirannya mempercepat pencairan gletser. Ada korelasi yang sangat jelas antara kenaikan suhu global dengan penyusutan gletser di berbagai belahan dunia.

KRISIS HUTAN 

Di Indonesia, setiap tahun jutaan hektar hutan tropis hilang akibat ekspansi industri perkebunan kelapa sawit, pertambangan, pembalakan liar, industri pulp dan kertas, serta pembangunan infrastruktur. Saat ini, luas kawasan hutan Indonesia mencapai sekitar 94,1 juta hektar atau 51,2% dari luas daratan, dimana sekitar 23,2 juta hektar diantaranya merupakan hutan adat yang menjadi ruang hidup dan sumber penghidupan masyarakat adat. Pada tahun 2023 Indonesia telah kehilangan 257.384 hektar hutan (Kompas.com).

Deforestasi tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati dan merampas hak masyarakat adat atas ruang hidup serta sumber kehidupan mereka, tetapi juga meningkatkan emisi karbon akibat kebakaran gambut, sehingga mempercepat krisis iklim. Selain itu, kerusakan hutan mengganggu siklus hidrologi, menyebabkan turunnya debit air, mengancam ketersediaan air bersih dan meningkatkan resiko banjir dan longsor.

KRISIS AIR GLETSER

Gletser adalah salah satu sumber utama air tawar di bumi. Hilangnya gletser tidak hanya mengancam ketersediaan air bagi kehidupan, tetapi juga memperburuk ketidakseimbangan iklim secara global.

Penelitian dari Universitas Kopenhagen (2023) mengungkapkan bahwa pemanasan global telah meningkatkan kecepatan pencairan gletser di Greenland hingga 25 meter per tahun, dibandingkan dengan dua dekade lalu yang hanya 5-6 meter per tahun (Koran Jakarta, 2023). 

Di Gunung Everest, gletser telah menyusut sekitar 10% selama 40 tahun terakhir akibat pemanasan global, menyebabkan peningkatan volume danau gletser hingga 13 kali lebih besar dibandingkan empat dekade lalu (Republika, 2023).

Data ini menunjukkan bahwa percepatan pencairan gletser bukan fenomena lokal, melainkan krisis global. Meski tidak semua gletser mencair pada tingkat yang sama, mayoritas mengalami penyusutan yang drastis sejak awal abad ke-20. Indonesia pun tak luput dari ancaman ini—Gletser Puncak Jaya di Papua kini hampir punah (Tempo,2024).

DAMPAK MENCAIRNYA GLETSER DAN PERUBAHAN IKLIM 

Pencairan gletser tidak hanya menyebabkan kenaikan permukaan laut, tetapi juga memicu bencana, seperti banjir dan longsor akibat meluapnya danau gletser di pegunungan. Dampak lain adalah krisis air bersih, karena sumber air utama dari gletser semakin berkurang. Gangguan ekosistem, yang mengancam keberlanjutan spesies seperti beruang kutub dan pinguin. Kehancuran sektor ekonomi, terutama pertanian, pariwisata, dan energi hidro di negara-negara yang bergantung pada pembangkit listrik tenaga air.

Jika gletser terus mencair tanpa kendali, dunia akan menghadapi banjir diikuti kekeringan berkepanjangan, hilangnya lahan produktif, krisis pangan, hingga migrasi paksa akibat bencana iklim. Biaya ekonomi akibat bencana ini akan semakin tinggi dan membebani generasi mendatang.

Nirwono Joga, pengamat tata kota dan koordinator kemitraan kota hijau, dalam tulisannya mengungkapkan bahwa Indonesia seharusnya tidak kekurangan air bersih atau mengalami kekeringan, mengingat curah hujan di Indonesia cukup tinggi sehingga banyak air yang dapat ditampung untuk kebutuhan air baku dan irigasi pertanian. Ia menekankan pentingnya reforestasi, restorasi, dan konservasi sumber-sumber mata air, agar air sungai tidak meluap dan membanjiri permukiman. Nirwono juga menggarisbawahi pentingnya menanam pohon di dalam kota, karena sejatinya kekayaan kota bertumpu pada alam dan budaya. Jika alam dan budaya rusak, demikian pula kota dan manusianya. Investasi terbesar dan terbaik adalah menjaga hutan dan keanekaragaman hayati (Tempo, 2022).

PEMBANGUNAN DAN KONSERVASI HARUS SELARAS

Mitigasi krisis lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan aksi dari individu, komunitas, dan dunia usaha. Berikut beberapa langkah yang dapat diambil:

1). Aksi Individu : Beralih ke gaya hidup berkelanjutan. Mengurangi konsumsi produk berbasis deforestasi, seperti minyak kelapa sawit dari sumber tidak berkelanjutan. Menghemat energi dan air dalam kehidupan sehari-hari. Menanam pohon dan mendukung gerakan reforestasi. Mengelola sampah dengan baik. Mengurangi konsumsi daging merah, yang produksinya berkontribusi pada emisi karbon tinggi. Berpartisipasi dalam komunitas yang mendukung keberlanjutan lingkungan.

2). Aksi Komunitas dan Dunia Usaha: Membangun Ekonomi Hijau. Menerapkan ekonomi sirkular untuk mengurangi limbah industri. Berinvestasi dalam energi terbarukan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Mendorong praktik pertanian ramah lingkungan yang menjaga kesuburan tanah. Mengembangkan ekowisata berbasis konservasi, terutama di daerah yang rentan terhadap perubahan iklim.

3). Aksi Pemerintah: Regulasi yang Tegas untuk Masa Depan. Menghentikan deforestasi dan konversi hutan untuk kepentingan komersial. Menerapkan insentif bagi perusahaan yang berhasil mengurangi emisi karbon. Membangun infrastruktur tahan iklim untuk menghadapi bencana akibat perubahan lingkungan. Mendorong kerja sama internasional dalam mitigasi perubahan iklim.

MERAWAT KEHIDUPAN, MENYELAMATKAN MASA DEPAN

Rusaknya hutan dan mencairnya gletser bukan sekadar isu lingkungan, tetapi juga ancaman sosial dan ekonomi global. Krisis ini berujung pada meningkatnya migrasi paksa, konflik sosial, terganggunya ketahanan pangan, dan sektor pariwisata yang terdampak secara signifikan. Tanpa langkah nyata, kita hanya akan mewariskan planet yang semakin tak layak huni bagi generasi mendatang. Oleh karena itu, solusi berkelanjutan harus menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan pembangunan.

Merawat kehidupan berarti merawat hutan dan air yang menjadi napas dunia. Hari ini, bukan sekadar peringatan, tetapi panggilan untuk bertindak. Masa depan bergantung pada pilihan kita hari ini- Apa yang akan kita tinggalkan?.  (mar/Atiek Mariati, Pegiat lingkungan hidup di Kulon Progo DIY)