Opini  

Bersyukur Tetap Menjadi Penulis

Sebagian buku karya Y.B. Margantoro sebagai penulis solo dan penghargaan Nugra Jasadarma Pustaloka dari Perpusnas RI tahun 2016. (Foto : Humas Mitra Mekar Berkarya)

bernasnews – Awalnya, menjadi penulis dan dapat bertahan selama 50 tahun, sungguh tidak terbayangkan. Keluarga yang menyediakan bacaan koran dan buku serta komunitas komunikasi sosial (komsos) yang menumbuhkan sadar media menjadi pendorong kuat. Bagaimana seandainya “dorongan dari luar” tidak ada, apakah “dorongan dari dalam” dapat membantu mewujudkan insan yang literat?

Sejauh yang penulis miliki dan rasakan, meski dorongan luar memang ada, dorongan dalam bernama motivasi sebenarnya lebih unggul. Motivasi adalah daya yang dimiliki oleh siapa saja. Masalahnya, apakah insan bersangkutan menyadari, mensyukuri dan merawat dengan baik supaya bertumbuh atau tidak.

Jer basuki mawa bea atau segala upaya tidak lepas dari biaya, demikian pepatah mengatakan. Apakah tanpa biaya dan sarana prasarana, hanya bermodalkan motivasi, dapat mendorong seseorang menjadi penulis pemula? Ternyata dapat berhasil. Dengan catatan : yang bersangkutan tidak mengajukan syarat “mau (tapi) asalkan…”, namun, “mau meskipun…”.

Terjemahan atau isian kalimatnya sebagai berikut. Aku mau menulis asalkan pasti lolos seleksi atau dimuat di media, asalkan ada honornya, dan sejumlah syarat keharusan lainnya. Kebalikannya adalah : Aku mau menulis meski tidak dimuat, tidak lolos seleksi, tidak ada honornya, dan sebagainya.

Orang kelompok pertama yang rewel dengan aneka syarat lupa bahwa semua hal dan apalagi kesuksesan itu butuh proses. Proses jatuh bangun dan tidak selalu berakhir menyenangkan. Apakah kalau (masih) selalu gagal, lalu pilih angkat tangan dan kaki, atau sebaliknya justru bangkit kembali untuk maju? Di sinilah bedanya antara pejuang dan pemenang dibandingkan dengan pecundang. Bedanya mereka yang memiliki atau tidak memiliki alasan dan tujuan, Bedanya orang yang tidak memiliki impian dan yang memiliki impian.

Demikian pula dengan kegiatan (membaca dan) menulis. Ada pengenalan, coba-coba, proses jatuh bangun, sampai etape mau putus di tengah jalan atau berlanjut? Ada input, ada proses, ada output dan ada outcome. Apakah seseorang yang berhasil menulis boleh disebut penulis, ataukah mereka yang konsisten menulis dengan jatuh bangun layak menjadi penulis? Bagaimana pula dengan mereka yang secara tegas memilih jalur hidup sebagai penulis, dengan segala risiko kesejahteraan hidupnya, meski belum atau tidak memperoleh kejuaraan atau penghargaan atas dedikasinya?

Seperti pepatah mengatakan, “Siapa suruh datang ke Jakarta?”, karena kota itu tidak selalu membuat orang sukses hidup namun dapat juga membuat orang gagal hidup. Demikian pula, “Siapa suruh menjadi penulis?”, karena menulis tidak selalu memberikan jaminan kesejahteraan materi. Tentu saja ada banyak penulis yang sukses dan sejahtera, namun tidak sedikit penulis yang masuk kategori kurang beruntung.

Penulis memulai aktivitas tulis menulis sejak kelas 1 SMA pada tahun 1974, dan hingga tahun 2024 masih menekuni kegiatan tersebut. Penulis lebih mengutamakan bersyukur dan senang atas ketekunan selama 50 tahun ini. Pada tahun pertama berproses, karya penulis dimuat di majalah paroki bernama “Lonceng Bintaran” (Lobin) Yogyakarta, majalah sekolah FREE dan berlanjut ke media massa Yogyakarta dan Jakarta. Bentuk tulisannya masih sederhana, laporan kegiatan kecil-kecilan, artikel sederhana, humor dan cerita anak. Ada yang nirhonor dan ada yang berhonor meski sedikit. Tapi senangnya sudah minta ampun.

Dua tahun kemudian, tepatnya setelah lulus SMA, penulis menetapkan profesi diri sebagai jurnalis di Harian “Berita Nasional” Yogyakarta dan hingga kini berkarya di media online, bernasnews.id. Penulis belum atau tidak berani menetapkan diri sebagai penulis saja, dan memilih sebuah lembaga pers sebagai penopang kehidupan. Meski demikian, kegiatan tulis menulis dengan menu fakta, opini, fiksi, hingga buku terus dijalani. Suka duka dalam proses panjang, ibarat “maraton menulis”, tentu saja ada. Namun sisi dukanya semakin mengecil karena modal utamanya adalah cinta. Cinta media, cinta literasi. cinta membaca dan menulis.

Menerima nomor bukti karya tulis berupa koran yang dilipat serta diberi alamat tujuan dan pengirim melalui pos biasa sudah membuat girang hati. Apalagi mulai ada kiriman weselpos dari aneka tulisan yang dimuat di beberapa media di Jakarta dan Surabaya. Tambah senang dan semangat. Sebagai wartawan ada gaji tetap, dan sebagai penulis ada honornya, sungguh menguatkan pilihan sebagai jurnalis dan penulis.

Sebagai wartawan dan penulis media cetak puluhan tahun, dokumentasi andalannya adalah kliping di buku-buku besar. Pada waktu itu, ada lebih dari 20 buku besar terisi karya jurnalistik penulis. Sayangnya hanya sebagian kecil yang terselamatkan jadi buku. Selebihnya rusak dan terbuang. Ada rasa sesal di dada. Untungnya, beberapa sertifikat kejuaraan menulis masih tersimpan rapi.

Sejak usia 40 tahun pada 1998, tidak menanti ketika usia puluhan tahun kemudian, penulis mulai menyadari pentingnya wartawan menulis buku. Berkat dorongan motivasi wartawan senior Jakob Oetama (almarhum), bahwa “buku itu adalah mahkota wartawan”, maka penulis menghasilkan buku “Menulis itu Nafas Wartawan”. Isinya ada sembilan bab yakni Tulisan Lepas, Tulisan di Bernas, Tulisan di Luar Bernas, Tulisan Juara Lomba Tingkat Nasional, Tulisan Cerpen, Tulisan tentang Resensi Buku, Tulisan Aneka Ceramah, Tulisan tentang Profil dan Foto-foto Pendukung.

Penulis sangat menyadari dan mengakui bahwa ketekunan sebagai penulis selama 50 tahun ini terutama berkat restu dari Tuhan Maha Pengasih, dorongan dan dukungan banyak pihak, kesempatan dan relasi yang baik, aneka penolakan karya tulis, sampai mereka yang meragukan apakah penuilis dapat “bertahan” dengan hobi sederhana ini. Namun ternyata inilah yang terjadi, penulis masih semangat berkarya.

Sebagaimana di atas langit masih ada langit, banyak penulis lama dan penulis baru berada di atas penulis. Banyak yang lebih sukses dibanding penulis. Namun yang penulis syukuri saat ini adalah, penulis masih mau menulis serta mau berbagi dengan siapa saja yang mau berlajar dan berkarya bersama. Penulis memiliki dan ikut komunitas penulis untuk merawat semangat dan harapan menulis.

Selama ini, penulis menerima beberapa penghargaan tingkat nasional dan daerah. Penghargaan itu antara lain Nugra Jasadarma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional RI tahun 2016 karena dedikasi dan sumbangsih penulis dalam gerakan pembudayaan gemar membaca dan pengembangan perpustakaan di Indonesia.

Pendiri “The Washington Post” Amerika Serikat Katharine Graham (1917 – 2001) pernah berkata, “Sekali menjadi penulis hendaknya tetap menjadi penulis.” Semangat ini ikut menghidupkan spirit penulis hingga kini. Maka rekam jejak kepenulisan pun harus dilakukan supaya kita tetap berada dalam koridor peradaban.

Akhirnya terima kasih kepada semua pihak atas kebersamaan dalam belajar dan berkarya tulis selama ini. Mulai media paroki, media sekolah, media massa, komunitas penulis, penerbit media dan buku, organisasi profesi, lembaga swasta, pemerintah, dan masyarakat umum. Salam literasi. (Y.B. Margantoro, Wartawan dan Pegiat Literasi)