bernasnews — Tidak dapat dipungkiri bahwa beberapa perusahaan-organisasi dapat tumbuh dan berkembang pesat karena adanya pengelolaan atau perhatian secara penuh terhadap konsep pemasaran secara baik, maka tidak mengherankan aspek pemasaran yang terkait dengan keberhasilan penjualan produk dan jasa merupakan jantungnya perusahaan. Dalam melakukan kegiatan pemasaran yang baik, maka perlu disusun suatu strategi pemasaran yang baik pula, salah satunya melalui strategi bauran promosi.
Salah satu bauran promosi yakni terkait dengan iklan. Menurut Kotler dan Keller (2016) iklan merupakan segala bentuk presentasi dan promosi ide, barang, atau jasa yang dibayar oleh sponsor melalui media cetak, media penyiaran, media jaringan, media elektronik, dan media pameran.
Iklan adalah segala bentuk presentasi non-pribadi dan promosi gagasan, barang, atau jasa oleh sponsor tertentu yang harus dibayar. Secara tegas iklan adalah bagian dari promosi. Untuk melakukan promosi, perusahaan harus merancang atau mendesain pesan-pesan menjadi efektif, dan tentunya pesan yang digunakan harus mendapat perhatian (Attention), mempertahankan minat (Interest), membangkitkan hasrat (Desire), dan meraih tindakan (Action), konsep ini sering disebut model AIDA (Attention Interest Desire Action).
Sementara periklanan adalah penggunaan media untuk memberitahukan kepada konsumen tentang sesuatu dan mengajak mereka melakukan sesuatu (Kotler, 2005). Media yang dipilih dapat beragam bentuknya dan tentu saja dapat disuaikan dengan dana dan kebutuhan yang tersedia. Unsur lain yang perlu mendapat perhatian adalah publisitas.
Publisitas merupakan suatu bentuk penyajian dan promosi dari gagasan, barang atau jasa yang dibiayai oleh suatu sponsor tertentu yang bersifat nonpersonal, media yang sering digunakan dalam publisitas antara lain, radio, televisi, majalah, tabloid, surat kabar baik cetak maupun online, bahkan berbagai tulisan press release yang dimuat di media juga dapat sebagai ajang publisitas perusahaan secara gratis. Dengan demikian sasaran periklanan adalah mengkomunikasikan informasi yang persuasif tentang produk, jasa atau organisasi
Sedangkan unsur personal selling (penjualan langsung) merupakan salah satu metode promosi untuk mencapai tujuan tersebut, dan usaha ini memerlukan lebih banyak tenaga kerja pemasar atau tenaga penjual. Personal selling merupakan pemasaran produk atau layanan dimana penjual bertemu langsung dengan pembeli dan mengeksplorasi peluang dan komunikasi yang dilakukan secara langsung antara penjual dan pembeli. Misalnya para personal selling yang menawarkan produk rokok, produk alat-alat elektronik dan produk lainnya sambil berjalan kaki menemui beberapa orang dari orang yang satu ke orang yang lain sebagai calon pembeli yang dilewati.
Strategi pemasaran yang masih digunakann adalah dengan penjualan langsung atau direct personal selling, yakni suatu kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan atau organisasi untuk melakukan komunikasi secara langsung dengan calon target pembeli atau pengguna jasa dengan maksud untuk menghasilkan tanggapan dan atau transaksi penjualan secara langsung dari calon pembeli atau pengguna jasa.
Sedang promosi penjualan, merupakan segala kegiatan pemasaran selain personal selling, advertensi, dan publisitas, yang merangsang pembelian oleh konsumen dan keefektifan agen seperti pameran, pertunjukan, demonstrasi, kontes, kupon, premi dan segala usaha penjualan yang lain yang dilakukan oleh perusahaan.
Suatu kegiatan marketing yang sehat tentu mengalami perkembangan yang baik demi untuk kelangsungan hidup organisasi, dan setiap kegiatan marketing harus menghasilkan penjualan yang positip dan meningkat, sehingga mampu menghasilakn laba atau keuntungan. Oleh sebab itu seluruh kegiatan promosi dan informasi hendaknya diarahkan pada kelompok sasaran secara efesien dan efektif.
Pasalnya saat ini calon pembeli sudah semakin lebih cerdas, kritis dan lebih dewasa dalam menentukan sikap terhadap jenis produk atau jasa yang akan dikonsumsi, digunakan. Sehingga kegiatan promosi hendaknya tetap mengacu pada unsur penyadaran secara benar, pelayanan yang baik, jujur pada calon pembeli atau pengguna jasa dan bukan lagi promosi dalam konteks pembohongan namun promosi yang dapat dipertanggungjawabkan secara benar pada publik, karena setiap alat promosi memiliki ciri-ciri, karakter dan biaya yang unik-khas. Oleh karenanya pemasar harus juga mengenal ciri dari masing-masing alat promosi tersebut supaya target pasarnya tepat. (Widyastuti Yuniati, Alumni SMAN 1 Magelang)











