Opini  

Kreatif Harus Ditumbuhkan

Drs. Z. Bambang Darmadi,M.M., Instruktur Pelatihan bersertifikasi BNSP dan Penulis Buku. (Foto: Dok. Pribadi)

bernasnews — Tidak sedikit anggapan orang yang mengatakan bahwa untuk bisa kreatif harus dilatih, anggapan itu tidak seluruhnya bisa dibenarkan. Pasalnya orang bisa kreatif karena adanya keterbatasan dan bisa jadi karena juga terpaksa harus melakukannya supaya bisa bertahan (hidup).

Misalnya dalam rumah tangga yang mulanya hanya sang suami yang bekerja untuk seluruh keluarga, tiba-tiba sang suami terpaksa tidak bisa kerja lagi, sehingga seluruh kebutuhan keluarga harus diambil alih oleh sang istri. Dalam kondisi ini tentu sang istri pusing lantaran yang semula tidak paham bagaimana cara mendapat penghasilan, tiba-tiba harus ambil alih tanggungjawab dalam memenuhi kebutuhan keluarga.

Dalam situasi ini biasanya muncul kreatif untuk mulai berpikir bisnis kecil-kecilan, atau bekerja apa saja yang penting harus ada penghasilan. Kondisi yang demikian itu ada dalam kategori kreatif karena terpaksa. Contoh lain, karena usia kerja sudah tidak mungkin lagi diperpanjang, dalam arti  sudah pensiun, padahal tenaga dan pikiran masih mampu bekerja, maka bisa muncul pemikiran yang kreatif, yakni bagaimana dengan usia pensiun tetapi bisa tetap produktif, lalu berani buka usaha, baik di bidang kuliner,  bidang jasa, bidang pertanian,  bidang perikanan  bidang peternakkan, bidang manufaktur  bidang perdagangan dan bidang yang lain.

Apapun bidang usaha yang pilih tentu tidak boleh mengabaikan aspek pasar, maksudnya pilihan bisnis harus benar-benar memiliki potensi pasar yang potensial.Semua itu tentu dibutuhkan pemikiran yang kreatif dan keberanian untuk memulainya. Salah satu contoh di Kabupaten Badung Kota Bali, tepatnya di Jalan Patih Jelatik, Kuta, Bali Central Park ada toko IKEA yang menyediakan berbagai peralatan untuk  isi perabot rumah dengan berbagai ukuran tipe rumah. Misalnya rumah dengan tipe 21 M3, tipe 55 M3 dan tipe yang lain,  isi perobot apa saja yang dibutuhkan dapat disesuaikan dengan “lay out” yang ada, pembeli- konsumen tinggal pilih sesuai denga  kemampuan finasialnya.

Selain toko tersebut menyediakan aneka perobat untuk isi rumah, di bagian belakang dari ruang toko tersebut terdapat unit bisnis “Food and Baverage” yang menyedian-menjual berbagai menu minuman dan makanan. Tentu pemilik toko sudah memperhitungkan ada potensi pasarnya, artinya setelah pembeli melihat-lihat, dan cocok terhadap pilihan, kemudian memutuskan untuk membelinya, bisa jadi saking asyiknya lama dalam toko dan terasa lelah, haus dan lapar, maka daripada pembeli harus keluar toko untuk cari makan atau minum, mengapa tidak sekalian kebutuhan pembeli tersebut di sediakan ada dalam toko.

Pemikiran yang demikian ini termasuk kreatif dari pelaku bisnis tersebut, dan uniknya semua yang makan atau minum (pembeli) setelah selesai harus membawa piring, gelas dan sisa- sisa makanan termasuk tisue harus dibersihkan dan dibawa sendiri oleh pembeli untuk diletakan di belakang di atas meja kotoran yang telah disediakan. Dan di setiap ujung atas meja tertempel stiker bertulisan “please leave the table clear for the next customer”.

Adanya keberanian memasang stiker tersebut jelas merupakan salah satu konsep yang kreatif dan semua customer patuh melakukannya tanpa diawasi atau disuruh. Ini semua butuh kesadaran yang tinggi dari pembeli, dengan konsep stiker ini ternyata sudah dapat meringankan tugas pelayan. Hal- hal semacam ini juga ada pelaku bisnis yang telah menerapkan di beberapa kota, namun untuk terus menumbuhkan daya kreatif tentu dibutuhkan keberanian dan terobosan-terobosan yang jitu dan terukur. (Drs. Z. Bambang Darmadi,M.M., Instruktur Pelatihan bersertifikasi BNSP dan Penulis Buku)