bernasnews — Semenjak diluncurkannya Narasi Tunggal Indonesia Spice Up the World (ISUTW) di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi. Kini Indonesia memiliki gagasan yang bersifat integral dalam mempromosikan makanan, minuman, rempah-rempah dan produk-produk kemasan siap konsumsi ke luar negeri.
Selain itu, pada narasi tersebut dituliskan agar setiap pemangku kepentingan, baik pemerintah ataupun pelaku gastronomi dan pelaku kuliner untuk turut serta dalam mempromosikan lima menu andalan Indonesia seperti Nasi Goreng, Sate, Soto, Rendang dan gado-gado ke panggung dunia sebagai lokomotif kuliner nusantara.
Tujuan utama dari ISUTW ini sebenarnya adalah untuk meningkatkan ekspor rempah dan bumbu khas Nusantara dengan capaian target 2 miliar dolar AS dan terciptanya 4.000 restoran Indonesia di luar negeri pada tahun 2024. Setidaknya, pada tatanan ini ada satu upaya dalam mempersatukan sebuah ide yang diformulasikan dalam bentuk kebijakan sebagai pedoman untuk berinteraksi melalui jalur diplomasi, atau yang kini populer dengan terminologi gastrodiplomacy.
Dalam konteks Ilmu Hubungan Internasional, Diplomasi Gastronomi merupakan terminologi yang mengkhususkan diri pada aktivitas yang dilakukan oleh aktor negara dan non-negara dalam berinteraksi ke suatu negara atau bangsa tertentu dengan menggunakan makanan sebagai media interaksinya.
Secara definitif, Paul Rockower menjelaskan, diplomasi gastronomi adalah perpaduan antara diplomasi dan gastronomi dengan objektif untuk membentuk citra positif negara atau dengan kata lain “the act of winning the hearts and minds through stomach”. Jika mengkaji dari sudut pandang khasanah Ilmu Hubungan Internasional, dapat dikatakan program ambisius pemerintah Indonesia melalui ISUTW adalah bentuk dari kegiatan diplomasi gastronomi.
Sejatinya, Quo Vadis gastronomi dengan perspektif Indonesia akan terfokus pada kegiatan promosi gastronomi dan kuliner Indonesia di luar negeri melalui restoran sebagai etalase budaya Indonesia dan publik mancanegara akan mengenal Indonesia dengan cita rasa rempah khas Nusantara melalui restoran Indonesia yang berlokasi di luar negeri.
Restoran tersebut memiliki peran yang sangat signifikan dalam asistensinya meningkatkan citra bangsa, selain memiliki peran penting dalam mempopulerkan produk rempah dan bumbu masakan bermerek dan bernuansa lokal. Oleh sebab itu, sebagai langkah awal rencana strategis pemerintah yang perlu mendapat atensi khusus adalah meningkatkan kuantitas menjadi 4.000 restoran Indonesia di luar negeri sebagai ujung tombak diplomasi.
Peningkatan jumlah restoran sebagai alat diplomasi ini perlu didukung oleh berbagai media sekaligus melibatkan civil society agar supaya kampanye ISUTW ini mendapatkan perhatian dari publik mancanegara. Diplomasi gastronomi menekankan aspek keberlanjutan program, dan tentunya diharapkan bahwa proyek ISUTW ini harus tetap berlanjut di tahun mendatang.
Akan tetapi, sepatutnya narasi tunggal ISUTW ini diluncurkan beberapa dekade lalu sehingga saat ini mungkin saja kita sudah merasakan hasil positif dari proyek ini. Sebagai komparasi, negara Thailand sudah meluncurkan program serupa dengan tajuk Thai Kitchen to the World di tahun 2002, tentunya kini masyarakat Thailand telah merasakan dampak positif dari program tersebut.
Selanjutnya, program ISUTW ini masih perlu pembenahan, seperti sinergitas antar lembaga, pemahaman masyarakat sipil terhadap ISUTW dan persoalan anggaran diplomasi melalui gastronomi yang selalu menjadi masalah klasik. Pembenahan dan evaluasi ini dimaksudkan agar supaya diplomasi gastronomi berjalan secara efektif, efisien, berkelanjutan dan ideal sesuai dengan koridor paradigma studi Hubungan Internasional. (Riski M Baskoro, Dosen President University)












