bernasnews – Rasa syukur telah menjadi bagian penting dalam kehidupan kita. Dengan menyatakan rasa syukur, kita mengalami kedamaian dan ketenangan. Melalui rasa syukur, kita melatih diri untuk berpikir positif dan membangun sikap optimistis bahwa kegelapan masa lalu akan menjadi terang di masa depan, kekhawatiran yang berlebihan akan menjadi keyakinan yang kuat, dan dari kesedihan menjadi kebahagiaan.
Hal-hal positif ini membantu kita melihat sisi baik dari berbagai kejadian, bahkan ketika menghadapi tantangan, kemalangan atau kegagalan sekalipun. Rasa syukur dapat menumbuhkan empati ketika kita berada dalam situasi yang sama dengan orang-orang yang tidak beruntung, menjadi korban ketidakadilan, peperangan, dan lain sebagainya.
Dalam buku berjudul The Art of Gratitude (2018) Jeremy David Engels menyatakan bahwa rasa syukur merupakan ekspresi perasaan tulus, pengharapan dan potensi untuk melanjutkan perjuangan dalam kehidupan. Sebagai pengalaman afektif, rasa syukur sangat penting bagi kita untuk mengenal dan merefleksikan kembali aspek-aspek positif dalam kehidupan kita.
Tak jarang kita mengalami jatuh dan bangun dalam menghadapi kesulitan dan tantangan yang datang silih berganti. Namun kita dikuatkan melalui rasa syukur sebagai praktik baik untuk mengakui kebaikan Allah dan menyadari betul berkat-Nya sehingga kita bersukacita dalam pengharapan melalui hal-hal sederhana.
Kebiasaan mengucap syukur mengubah pola pikir kita dari kelemahan menjadi kekuatan, dari negatif menjadi positif, dari kejahatan menjadi kebaikan, dan dari kebencian menjadi cinta. Kekuatan-kekuatan ini menyatukan kembali bagian-bagian kehidupan yang begitu kompleks – perang, pengungsian, kebencian, keraguan, kegagalan, penderitaan dan lain sebagainya.
Menumbuhkan rasa empati
Di satu sisi, rasa syukur adalah emosi positif yang dapat memperkuat relasi dan menumbuhkan rasa empati. Di sisi lain, rasa syukur dapat mengasah kepedulian untuk melanjutkan kebaikan dan konektivitas dengan sesama dan lingkungan. Jadi, alasan utama di balik ucapan syukur adalah upaya yang berkelanjutan untuk menjaga solidaritas, membangun hubungan baik, meneruskan perjuangan dan upaya pelestarian nilai-nilai peradaban manusia.
Rasa syukur membantu kita menghayati kehidupan yang bermakna. Ungkapan bahwa hidup terasa hampa tanpa ucapan syukur mengindikasikan bahwa ekspresi rasa syukur menjadi fondasi kehidupan yang sarat makna. Alasannya jelas, dengan mengucap syukur setiap waktu, hidup kita semakin bernilai. Dengan begitu, kita tetap berkomitmen untuk melakukan kebaikan, menyampaikan pujian dan apresiasi atas hal-hal yang kita alami dalam kehidupan.
Rasa syukur tercurahkan dalam konteks kehidupan yang dibangun di atas fondasi kebaikan. Dalam setiap kebaikan ada nilai-nilai positif yang membuat kita terpuaskan, merasa terhormat, bangga, kaya dan mencapai kepenuhan. Sikap demikian membuat kita mau berbagi meskipun kekurangan.
Rasa syukur berisi energi positif yang dasyat. Kekuatan rasa syukur justru terletak pada ungkapan betapa berharganya kita ketika menularkan energi positif kepada orang-orang di sekitar kita tanpa pandang bulu. Kita mengembalikan fokus kita pada cara hidup yang lebih pantas, lebih berharga dan berkualitas sambil mengakui keberagaman.
Rasa syukur membawa kita kembali ke hakekat kehidupan dan berhadapan langsung dengan keberadaan kita sebagai makhluk yang tahu bersyukur (gratus humanus). Selain itu, fokus kita diarahkan pada hal-hal yang kita miliki bersama – udara bersih, bangsa merdeka, keindahan alam semesta dan lain sebagainya – yang diperlukan untuk menemukan kebahagiaan, kebebasan, kemerdekaan dan jati diri kita.
Dengan rasa syukur pula kita membangun kekuatan kolektif untuk menjaga nilai-nilai tersebut agar tetap lestari dalam memperkuat identitas kebangsaan kita. Keutamaan rasa syukur adalah artikulasi kebaikan bersama karena kita memandang keberadaan kita tidak pernah terlepas dari ikatan persaudaraan dengan orang lain sebagai makhluk sosial (sociali hominum) di sekitar kita.
Keberadaan nilai-nilai ini tidak hanya menjadi tema utama pendidikan karakter di berbagai jenjang pendidikan tetapi juga mengakar kuat dalam tradisi-tradisi yang dirawat dalam dinamika kehidupan bersama. Kebersamaan di sini digambarkan sebagai kekuatan besar bagaikan arus lautan yang dasyat, suatu modal berharga yang membuat kita sebagai bangsa tetap bersatu padu, hidup rukun dan damai.
Makna kebersamaan dapat dikuatkan melalui semangat kolektif, suatu entitas kebangsaan yang dapat menghalau rezim kekuasaan. Filsuf Michel Foucault mengatakan bahwa manusia dapat menjadi subjek dari rezim kekuasaan melalui wacana tertentu yang berpotensi menjadi penipuan, pemalsuan dan kekejaman karena bentuk-bentuk kekuasaan modern justru berfungsi untuk mendorong individu-individu yang berjiwa “sakit“ secara massal.
Artinya, individu-individu dalam lingkaran rezim kekuasaan tidak menghayati nilai-nilai kemanusiaan dan merasa nyaman berada dalam lingkaran kepalsuan dan manipulasi yang terorganisir. Rezim penguasa tidak mensyukuri bahwa setiap kebijakan kepemimpinannya adalah amanah dan kepercayaan dari rakyat sebagai bukti salih demokrasi.
Dalam bukunya yang berjudul The Gratitude Formula (2018), May McCarthy menyatakan bahwa ketika kita mengalami kemajuan dari upaya-upaya kita untuk mencapai kesuksesan, kita mengungkapkan rasa syukur yang luar biasa. Tidak masalah kita gagal berkali-kali, namun rasa syukur membuat kita bangun kembali untuk terus berrjuang, pantang menyerah.
Secara berkelanjutan, rasa syukur menjadikan kita semakin memaknai momentum penting bahwa kita berusaha untuk berjuang lebih keras lagi dalam meraih impian kita. Rasa syukur merupakan pilihan sadar untuk bertansformasi melalui sikap, tingkah laku, tanggungjawab, karya dan kata-kata yang mencerminkan nilai-nilai kebaikan. Semoga! (Anselmus Sudirman, Dosen Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Yogyakarta; editor dan reviewer beberapa jurnal nasional terakreditasi)












